Africa Day 2026: Afrika Soroti Potensi Ekonomi dan Kerja Sama dengan Indonesia

Africa Day diperingati setiap 25 Mei untuk menandai berdirinya Organization of African Unity (OAU) pada 1963, yang kemudian menjadi Uni Afrika.

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 23 Mei 2026, 07:30 WIB
Perayaan Africa Day 2026 di Jakarta pada Jumat (22/5/2026) malam dihadiri oleh para duta besar negara-negara Afrika dan Menteri PPN/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy selaku perwakilan pemerintah Indonesia. (Dok. Liputan6.com/Khairisa Ferida)

Liputan6.com, Jakarta - Dean of African Ambassadors sekaligus Duta Besar Tanzania untuk Indonesia Macocha Moshe Tembele mengatakan Afrika kini berkembang menjadi salah satu pusat pertumbuhan utama dunia dan memiliki peluang besar untuk memperkuat kerja sama dengan Indonesia.

"Afrika sedang bangkit sebagai salah satu frontier pertumbuhan utama Abad ke-21," tutur Tembele dalam perayaan Africa Day 2026 di Jakarta pada Jumat (22/5/2026) malam.

Jumlah penduduk Afrika saat ini, sebut Tembele, telah melampaui 1,5 miliar jiwa dan diproyeksikan mencapai 2,5 miliar pada 2050. Hal ini menjadikan Afrika sebagai kawasan dengan populasi muda terbesar dan pertumbuhan penduduk tercepat di dunia.

Menurut dia, pertumbuhan tersebut turut didukung integrasi ekonomi melalui African Continental Free Trade Agreement (AfCFTA) yang membentuk kawasan perdagangan bebas terbesar di dunia berdasarkan jumlah negara peserta. Perjanjian itu mencakup 54 negara dengan total gabungan produk domestik bruto lebih dari USD 3,4 triliun. 

Tembele mengatakan perubahan geopolitik global dan meningkatnya fragmentasi multilateralisme membuka ruang baru bagi hubungan Afrika dan Indonesia.

"Dalam konteks itu, kami memandang Afrika dan Indonesia sebagai mitra strategis yang alami," ujarnya.

Ia menilai posisi Indonesia di kawasan Indo-Pasifik serta pengalaman Indonesia dalam menjalankan hilirisasi industri membuat kedua pihak memiliki kepentingan pembangunan yang saling berkaitan. Menurut Tembele, negara-negara Afrika saat ini juga berupaya memperkuat industri dalam negeri dan meningkatkan nilai tambah dari sumber daya alam yang dimiliki.

Dalam pidatonya, Tembele turut menyinggung hubungan historis Afrika dan Indonesia sejak Konferensi Asia-Afrika (KAA) di Bandung pada 1955.

"Bagi Afrika, konferensi tersebut menjadi fondasi moral dan politik bagi solidaritas Afrika dalam perjuangan bersama untuk memperoleh tempat yang layak dalam urusan global," katanya.

Ia mengangkat tema yang ditetapkan Uni Afrika untuk tahun 2026, yakni keberlanjutan sumber daya air dan sistem sanitasi aman guna mendukung "Agenda 2063".

"Tema ini bertujuan menjadikan isu air dan sanitasi sebagai prioritas politik utama di tingkat benua, dengan mengakui keduanya sebagai penggerak transformasi ekonomi dan ketahanan terhadap perubahan iklim," tutur Tembele.

Aliansi Pembangunan Indonesia-Afrika

Dalam kesempatan yang sama, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Republik Indonesia Rachmat Pambudy mengatakan Afrika kini memiliki pengaruh global yang semakin besar.

"Hari ini, Afrika tidak lagi dipandang hanya sebagai benua yang penuh potensi. Afrika adalah benua energi, benua inovasi, benua pertumbuhan, sekaligus benua yang memiliki pengaruh global yang semakin kuat," beber Rachmat.

Ia mengatakan hubungan Indonesia dan Afrika memiliki akar sejarah yang kuat sejak KAA 1955.

"Hubungan itu ditempa di Bandung pada tahun 1955, ketika para pemimpin Asia dan Afrika berkumpul dengan satu keyakinan bersama: bahwa setiap bangsa, besar maupun kecil, berhak atas kesetaraan, martabat, dan penghormatan," ujarnya.

Menurut Rachmat, semangat yang lahir dari KAA 1955 tetap penting di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik, konflik global, dan ketidakpastian ekonomi dunia.

"Karena itu, negara-negara Global South harus tetap bersatu — bukan hanya untuk mempertahankan kepentingan bersama, tetapi juga untuk membantu membentuk tatanan dunia yang lebih baik dan lebih seimbang," ungkapnya.

Rachmat mengatakan Indonesia terus mendorong kerja sama ekonomi dengan negara-negara Afrika melalui penguatan industri dan rantai nilai.

"Indonesia percaya bahwa kita perlu mulai membangun apa yang saya sebut sebagai 'aliansi pembangunan' antara Indonesia dan negara-negara Afrika," ujarnya.

Aliansi tersebut, kata Rachmat, perlu dibangun atas dasar kesetaraan dan pertumbuhan bersama, termasuk dalam bidang ketahanan pangan, energi, transformasi digital, pendidikan, dan pengembangan sumber daya manusia.

Menutup pidatonya, Tembele menyampaikan apresiasi kepada pemerintah dan masyarakat Indonesia atas hubungan persahabatan dengan negara-negara Afrika.

"Dari Bandung tahun 1955 hingga Jakarta tahun 2026, pesannya tetap sangat jelas. Afrika dan Indonesia tidak hanya dipersatukan oleh sejarah, tetapi juga oleh masa depan bersama," imbuh Tembele. 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya