Miliarder Mark Cuban Kecewa terhadap Bitcoin

Miliarder Mark Cuban menuturkan, bitcoin bukan aset lindung nilai yang diharapkannya.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 22 Mei 2026, 14:00 WIB
Ilustrasi bitcoin (Foto: Kanchanara/Unsplash)

Liputan6.com, Jakarta - Investor sekaligus miliarder Mark Cuban menuturkan, bitcoin bukan aset lindung nilai seperti yang diharapkannya. Ia pun seperti mulai keyakinan terhadap bitcoin (BTC).

Mark Cuban sempat menanggapi regulasi kripto dalam sebuah unggahan di platform X, dahulu bernama Twitter pada 18 Mei 2026. Ia mengakui, suasana regulasi telah bergeser dan mencatat industri ini sekarang agresif membentuk legislasi melalui PAC kripto, melobi pengawasan lembaga, pajak transisi, dan persyaratan pelaporan.

Namun, wawancara yang diterbitkan pada 21 Mei 2026 menunjukan kemungkinan telah kehilangan keyakinan pada kripto terutama bitcoin (BTC).

Bitcoin Menyebabkan Kekecewaan

Dalam sebuah wawancara dengan Front Office Sports, Cuban mengklaim bitcoin telah kehilangan arah. Ia juga mengungkapkan telah menjual sebagian besar kepemilikan di aset itu. Namun, belum dijelaskan detil mengenai penjualan bitcoin itu.

Cuban menuturkan, kripto terbesar di dunia ini telah gagal memenuhi janji intinya sebagai lindung nilai terhadap ketidakpastian makro. “Saya selalu berpikir itu adalah versi emas yang lebih baik dari pada emas,” ujar Cuban kepada Front Office Sports dikutip dari Yahoo Finance.

"Tetapi emas baru saja meledak dan mencapai USD 5.000 dan bitcoin jatuh,” ia menambahkan.

Sebelumnya, Cuban menilai Bitcoin dapat menyaingi emas sebagai penyimpan nilai di bawah kondisi makroekonomi yang tepat. Pada 2024, ia menyatakan kondisi saat ini mendukung percepatan harga.

Keyakinan Telah Sirna

“Setiap kali dolar AS turun, bitcoin seharusnya naik. Ini bukan aset lindung nilai seperti yang saya harapkan,” kata Cuban.

Bitcoin diperdagangkan pada USD 77.656, turun sekitar 29% selama setahun terakhir dan sekitar 38% dari harga tertinggi sepanjang masa pada Oktober sebesar USD 126.000. Sementara itu, harga emas telah naik lebih dari 37%, dan diperdagangkan sekitar USD 4.541.

 

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.

Miliarder Mark Cuban: Kripto Bisa Gulingkan Perbankan Tradisional

Miliarder Mark Cuban. Foto: AFP

Sebelumnya, miliarder sekaligus pengusaha ternama, Mark Cuban, memperingatkan bahwa sektor perbankan tradisional berada dalam posisi rentan terhadap disrupsi teknologi baru.

Dikutip dari U.Today, Senin (23/3/2026), menurut Cuban, lembaga keuangan konvensional berisiko “digulingkan” oleh inovasi seperti cryptocurrency dan fintech yang dinilai lebih efisien dan modern.

Dalam sebuah diskusi bersama komentator teknologi Adam.GPT, Cuban menyoroti bagaimana teknologi baru berpotensi “membangun ulang” sistem kerja perusahaan lama dari nol, termasuk di sektor jasa keuangan.

Ia menilai bahwa sistem perbankan saat ini masih bergantung pada proses lama yang kompleks dan tidak efisien.

Salah satu masalah utama dalam sistem perbankan tradisional adalah proses yang disebut “reconciliation”, yakni mekanisme kompleks untuk mencocokkan data keuangan internal dan memenuhi kebutuhan regulasi.

Proses ini masih sangat bergantung pada campur tangan manusia serta “pengetahuan perusahaan” yang tidak terdokumentasi dengan baik.

 

 

Ketergantungan pada Pengetahuan Internal Jadi Kelemahan Bank

Ilustrasi Kripto. (Foto By AI)

Menurut Cuban, ketergantungan pada pengetahuan internal karyawan justru menjadi kelemahan besar.

“Di sinilah kami berbeda pendapat, yaitu apakah karyawan akan sepenuhnya membagikan, atau bahkan secara akurat membagikan ‘pengetahuan perusahaan’ mereka. Mereka cenderung melindungi pengetahuan itu. Sebagian besar bahkan tidak terdokumentasi. Itulah keunggulan mereka,” ujar Cuban.

Ia menambahkan, karena pengetahuan tersebut dijaga untuk keamanan pekerjaan, bank tradisional kesulitan melakukan otomatisasi maupun modernisasi sistem mereka.

Kondisi tersebut membuat sektor perbankan menjadi target empuk bagi teknologi terdesentralisasi.

 

Bisa Pangkas Sistem Lama

Ilustrasi harga kripto. (Foto by AI)

Dalam diskusi tersebut, Cuban sepakat bahwa kecerdasan buatan (AI), perangkat lunak baru, serta teknologi blockchain dapat menyederhanakan proses keuangan yang selama ini rumit.

“Fakta. Terutama karena fintech selalu menjadi cara cepat untuk mendisrupsi perbankan, dan crypto juga bergerak ke arah itu,” kata Cuban.

Jaringan cryptocurrency bekerja menggunakan sistem buku besar terdistribusi (distributed ledger), yang memungkinkan proses pencatatan transaksi dilakukan secara otomatis dan real-time.

Dengan sistem ini, proses “reconciliation” dapat berlangsung instan dan terintegrasi langsung dalam protokol, tanpa memerlukan campur tangan manusia atau “pengetahuan tersembunyi” seperti dalam sistem perbankan tradisional.

Hal ini membuka peluang bagi crypto untuk memangkas kompleksitas sistem lama di pusat keuangan global dan menghadirkan sistem yang lebih transparan serta efisien.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya