Liputan6.com, Surabaya: Tari remo tak bisa lepas dari kesenian drama tradisional ludruk yang menjadi kesenian khas masyarakat Jawa Timur. Penari remo dalam pertunjukan ludruk selalu menjadi pertanda pertunjukan akan dimulai. Tapi sebetulnya, tari remo adalah ludruk itu sendiri, seperti yang pernah ditulis seorang sejarawan Amerika Serikat. Untuk melestarikan tari remo, sebuah festival khusus sengaja digelar di Surabaya, Jatim, baru-baru ini.
Ludruk berasal dari tradisi besutan di Jombang, Jatim. Berdasarkan etimologi, ludruk berasal dari gelu-gelu atau geleng kepala dan gedruk-gedruk atau hentak-hentakan kaki. Arti tersebut merujuk dari penari remo yang sering menggeleng-gelengkan kepala dan menghentak-hentakan kaki, yang dibalut bunyi-bunyian yang disebut kecrek, yang menjadi ciri khas tarian remo. Tak heran jika penari asal Jombang mendominasi festival ini.
Penari remo juga harus pandai berpantun bahasa daerah Jatim atau Madura. Menurut pengamat seni tari Surabaya Arief Rofik, tari remo mengambarkan kreativitas tinggi dari seniman tari. Meski para penari menari dengan gending jula-juli yang sama, gerakan mereka antara satu dengan yang lain berbeda tergantung kemampuan individu.(AWD/Hasan Sentot dan Muhammad Khodim)
Ludruk berasal dari tradisi besutan di Jombang, Jatim. Berdasarkan etimologi, ludruk berasal dari gelu-gelu atau geleng kepala dan gedruk-gedruk atau hentak-hentakan kaki. Arti tersebut merujuk dari penari remo yang sering menggeleng-gelengkan kepala dan menghentak-hentakan kaki, yang dibalut bunyi-bunyian yang disebut kecrek, yang menjadi ciri khas tarian remo. Tak heran jika penari asal Jombang mendominasi festival ini.
Penari remo juga harus pandai berpantun bahasa daerah Jatim atau Madura. Menurut pengamat seni tari Surabaya Arief Rofik, tari remo mengambarkan kreativitas tinggi dari seniman tari. Meski para penari menari dengan gending jula-juli yang sama, gerakan mereka antara satu dengan yang lain berbeda tergantung kemampuan individu.(AWD/Hasan Sentot dan Muhammad Khodim)