Liputan6.com, Jakarta - Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) makin tertekan pada awal sesi kedua perdagangan saham, Kamis, (21/5/2026). Koreksi IHSG terjadi di tengah seluruh sektor saham yang melemah.
Mengutip data RTI, IHSG turun 3,67% menjadi 6.087 usai pembukaan sesi kedua perdagangan saham Kamis pekan ini. Indeks saham LQ45 susut 2,4% menjadi 614,65. Seluruh indeks saham acuan tertekan.
Advertisement
Pada sesi kedua perdagangan saham, IHSG berada di level tertinggi 6.378,81 dan level terendah 6.080,95. Sebanyak 642 saham melemah sehingga bebani IHSG. 90 saham menguat dan 81 saham diam di tempat.
Total frekuensi perdagangan saham 1.410.871 kali dengan volume perdagangan saham 22,3 miliar saham. Nilai transaksi harian saham Rp 10,9 triliun. Posisi dolar Amerika Serikat terhadap rupiah di kisaran 17.677.
Seluruh sektor saham tertekan. Sektor saham energi melemah 6,56%, sektor saham basic susut 7,94%, sektor saham industri terpangkas 4,83%. Selain itu, sektor saham consumer nonsiklikal tergelincir 1,69%, sektor saham consumer siklikal merosot 4,83%. Kemudian sektor saham kesehatan terpangkas 1,87%, sektor saham keuangan susut 1,60%, sektor saham properti melemah 2,84%, sektor saham teknologi turun 2,90%. Lalu sektor saham teknologu melemah 1,38%, sektor saham infrastruktur terpangkas 5,5% dan sektor saham transportasi turun 5,34%.
Pada sesi kedua perdagangan saham, saham INDF naik 0,76% menjadi Rp 6.650 per saham. Harga saham INDF dibuka stagnan Rp 6.600 per saham. Harga saham INDF berada di level tertinggi Rp 6.675 dan level terendah Rp 6.600 per saham. Total frekuensi perdagangan 2.275 kali dengan volume perdagangan saham 20.211 saham. Nilai transaksi Rp 13,4 miliar.
Harga saham WIFI tergelincir 3,5% menjadi Rp 1.930 per saham. Saham WIFI dibuka naik 60 poin menjadi Rp 2.060 per saham. Harga saham WIFI berada di level tertinggi Rp 2.070 dan terendah Rp 1.910 per saham. Total frekuensi perdagangan 3.974 kali dengan volume perdagangan saham 193.567 saham. Nilai transaksi harian Rp 38,3 miliar.
Harga saham IRSX terpangkas 8,64% menjadi Rp 402 per saham. Saham IRSX dibuka naik menjadi Rp 454 per saham dari penutupans ebelumnya Rp 440 per saham. Harga saham IRSX berada di level tertinggi Rp 460 dan terendah Rp 380 per saham. Total frekuensi perdagangan 6.548 kali dengan volume perdagangan saham 781.052 saham. Nilai transaksi Rp 32,5 miliar.
Penutupan IHSG Sesi Pertama
Sebelumnya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tertekan hingga penutupan perdagangan saham sesi pertama perdagangan saham, Kamis (21/5/2026). Koreksi IHSG terjadi di tengah bursa saham Asia menguat. Analis menilai, tekanan terhadap IHSG didorong sentimen internal dan global.
Mengutip data RTI, IHSG anjlok 2,76% menjadi 6.144,35. Indeks saham LQ45 turun 1,56%. Seluruh indeks saham acuan melemah.
Analis PT MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana menuturkan, tekanan terhadap IHSG didorong sejumlah faktor. Pertama, sentimen hasil rebalancing MSCI, di mana beberapa saham big caps atau kapitalisasi besar yang dikeluarkan dari konstituen mendorong terjadinya outflow terutama menjelang effective date rebalancing MSCI.
Kedua, BI rate naik sebesar 50 basis poin (bps)menjadi 5,25% untuk menjaga stabilitas Rupiah.
"Ini berisiko mengerem pertumbuhan kredit bank,” ujar Herditya saat dihubungi Liputan6.com lewat pesan singkat.
Ketiga, hasil FOMC Minutes menunjukkan suku bunga AS masih akan ditahan tinggi karena inflasi mereka yang masih tinggi. Herditya prediksi, tekanan IHSG masih berlanjut pada sesi kedua perdagangan saham.
"Sesi 2 kami perkirakan IHSG masih bergerak terkoreksi,” kata dia.
Sektor Saham
Pada sesi pertama, IHSG ditutup di level tertinggi 6.378,81 dan level terendah 6.134,99. Sebanyak 601 saham melemah dan 118 saham menguat. Sementara itu, 94 saham diam di tempat. Total frekuensi perdagangan saham 1.285.918 kali dengan volume perdagangan saham 19,9 miliar saham. Nilai transaksi harian saham Rp 9,8 triliun. Posisi dolar Amerika Serikat terhadap rupiah di kisaran 17.648.
Seluruh sektor saham tertekan. Sektor saham energi melemah 5,02%. Sektor saham basic turun 6,49%, dan catat koreksi terbesar. Sektor saham industri tergelincir 4,02%, sektor saham consumer nonsiklikal melemah 1,07%, sektor saham consumer siklikal terpangkas 4,11%, dan sektor saham kesehatan melemah 1,29%.
Sementara itu, sektor saham keuangan susut 1,1%, sektor saham properti merosot 2,35%, sektor saham teknologi turun 0,935, sektor saham infrastruktur melemah 3,88% dan sektor saham transportasi terperosok 4,69%.