Bursa Saham Asia Melesat Mengikuti Wall Street

Mengikuti wall street, bursa saham Asia Pasifik menguat pada perdagangan saham Kamis, (21/5/2026). Hal itu dipicu sentimen geopolitik.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 21 Mei 2026, 08:18 WIB
Bursa saham Asia Pasifik dibuka menguat pada perdagangan saham Kamis, (21/5/2026). (AP Photo/Shizuo Kambayashi)

Liputan6.com, Jakarta - Bursa saham Asia Pasifik dibuka menguat pada perdagangan saham Kamis, (21/5/2026). Kenaikan bursa saham Asia mengekor wall street seiring meningkatnya harapan konflik Timur Tengah dapat segera berakhir meredam lonjakan harga minyak.

Mengutip CNBC, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menuturkan, pihaknya berada dalam tahap akhir negosiasi dengan Iran. Sentimen itu meningkatkan optimisme investor.

Adapun harga minyak telah mengalami kenaikan tajam karena pemerintahan Trump memblokade pelabuhan Iran, sementara Selat Hormuz, salah satu jalur air energi terpenting di dunia, telah ditutup secara efektif oleh Teheran. Investor juga akan fokus pada data ekonomi yang keluar dari Asia-Pasifik, khususnya data perdagangan Jepang yang akan dirilis nanti hari ini.

Indeks Nikkei 225 Jepang naik 0,92%, sementara S&P/ASX 200 Australia menguat 1,27%. Kontrak berjangka indeks Hang Seng Hong Kong berada di 25.761, lebih tinggi dari penutupan terakhir indeks di 25.651,12.

Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berjangka naik 0,78% menjadi USD 99,03 per barel dalam perdagangan Asia pada Kamis pagi, sementara minyak mentah Brent naik 0,73% menjadi USD 105,72 per barel. Pada sesi Rabu, harga WTI berjangka turun 5,66% menjadi USDD 98,26 per barel, sementara minyak mentah Brent turun 5,63% menjadi USD 105,02 per barel.

Kontrak berjangka yang terkait dengan indeks pasar turun 0,3%. Sementara itu, kontrak berjangka Nasdaq 100 terpangkas 0,4%. Kontrak berjangka Dow Hones melemah 0,15.

Pada perdagangan di wall street, indeks Dow Jones naik 1,31% menjadi 50.009,35. Indeks S&P 500 mendaki 1,08% menjadi 7.432,97. Indeks Nasdaq menguat 1,54% menjadi 26.270,36.

Penutupan IHSG pada 20 Mei 2026

Suasana di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (2/11/2015). Pelemahan indeks BEI ini seiring dengan melemahnya laju bursa saham di kawasan Asia serta laporan kinerja emiten triwulan III yang melambat. (Liputan6.com/Immanuel Antonius)

Sebelumnya, laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah pada perdagangan saham Rabu, (20/5/2026). IHSG hari ini merosot di tengah sentimen suku bunga acuan atau BI Rate naik 0,50% atau 50 basis poin (bps).

Mengutip data RTI, IHSG hari ini ditutup melemah 0,82% menjadi 6.318,50. Indeks LQ45 turun 0,65% menjadi 630,67. Sebagian besar indeks saham acuan bervariasi.

Analis PT MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana menuturkan, IHSG ditutup tekoreksi 0,82% setelah selama sesi pertama bergerak volatile di tengah pidato Presiden pada sidang paripurna.

“Di sisi lain nilai tukar Rupiah bergerak menguat di 17.700 terhadap dolar Amerika Serikat dan BI memutuskan menaikkan BI rate di 5,25% untuk menstabilkan nilai tukar Rupiah,” ujar dia saat dihubungi Liputan6.com.

Pada perdagangan saham Rabu pekan ini, IHSG berada di level tertinggi 6.459,56 dan level terendah 6.215,30. Sebanyak 483 saham melemah sehingga bebani IHSG. 208 saham menguat dan 125 saham diam di tempat. Total frekuensi perdagangan saham 2.476.561 kali dengan volume perdagangan saham 41,1 miliar saham. Nilai transaksi harian saham Rp 22,4 triliun. Posisi dolar Amerika Serikat terhadap rupiah di kisaran 17.646.

 

Sektor Saham

Sebelumnya, sepanjang Senin (9/2/2026), pergerakan IHSG diwarnai penguatan 433 saham. Sementara, 252 saham melemah dan 136 lainnya stagnan. Tampak dalam foto, layar monitor menunjukkan pergerakan pasar saham di lantai Bursa Efek Indonesia menjelang aktivitas perdagangan, Jakarta pada Senin 9 Februari 2026. (BAY ISMOYO/AFP)

Dari 11 sektor saham, dua sektor saham  menguat yakni sektor saham keuangan bertambah 1,21% dan sektor saham infrastruktur menanjak 0,05%.

Sementara itu, sektor saham energi melemah 2,65%, sektor saham basic merosot 4,67%, sektor saham industri turun 1,27%, sektor saham consumer nonsiklikal tergelincir 0,24%, sektor saham consumer siklikal susut 2,06%.

Kemudian sektor saham kesehatan turun 0,27%, sektor saham properti terpangkas 0,83%, sektor saham teknologi susut 1,38% dan sektor saham transportasi melemah 4,22%.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya