Bicara Soal Rupiah Melemah, Prabowo: Rakyat di Desa Tak Pakai Dolar

Prabowo menilai, kondisi Indonesia masih baik di tengah ketidakpastian global seiring pangan dan energi masih aman di tengah rupiah melemah.

oleh Agustina MelaniMaulandy Rizky Bayu KencanaDiterbitkan 16 Mei 2026, 18:44 WIB
Presiden Prabowo Subianto saat meresmikan Museum Marsinah di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur. (Foto: tangkapan layar Sekretariat Presiden)

Liputan6.com, Jakarta - Presiden Prabowo Subianto bicara soal nilai tukar rupiah yang melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Prabowo menilai, kondisi Indonesia masih kuat terutama masyarakat pedesaan yang tidak terlalu berpengaruh terhadap gejolak rupiah.

“Saya yakin sekarang ada, sebentar-sebentar Indonesia akan kolaps, chaos. Rupiah begini, dolar begini, orang rakyat di desa tidak pakai dolar,” ujar Prabowo.

Ia memastikan, kondisi energi dan pangan stabil di tengah situasi geopolitik global yang tidak pasti. “Pangan aman, energi aman, banyak negara panik, Indonesia masih oke,” kata Prabowo.

Selain itu, Prabowo juga mengungkapkan sejumlah negara yang meminta bantuan Indonesia untuk memasok pupuk hingga beras.

Imbas konflik geopolitik berlanjut di Timur Tengah, yang berdampak terhadap harga minyak dan produk turunannya. 

Berdasarkan laporan dari Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman, Prabowo bilang banyak negara saat ini meminta pasokan pupuk dari Indonesia. 

"Kita tidak euforia, tidak sombong, tapi kita sekarang berada di pihak yang bisa memberi bantuan. Australia minta tolong kita, kita jual ke Australia 500 ribu ton urea," tutur Prabowo

"Filipina juga minta ke kita. Kemudian India minta ke kita, Bangladesh minta ke kita, Brasil minta ke kita. Perintah saya, bantu semua," ia menambahkan. 

Tak hanya pupuk, Prabowo juga menerima banyak permintaan beras dari berbagai negara. Ia pun bersyukur kondisi Indonesia tidak seperti negara lainnya, karena diklaim telah berhasil swasembada pangan.  

"Juga banyak negara sekarang mau beli beras dari kita. Bayangkan kalau kita tidak swasembada, kalau kita tidak buru-buru beresin masalah pertanian," kata Prabowo.

Rupiah Tembus 17.600 per Dolar AS, Analis Ungkap Penyebabnya

Teller tengah menghitung mata uang dolar AS di penukaran uang di Jakarta, Rabu (10/7/2019). Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup stagnan di perdagangan pasar spot hari ini di angka Rp 14.125. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sebelumnya, nilai tukar rupiah mencapai 17.600 per dolar Amerika Serikat (AS). Kondisi geopolitik global di Timur Tengah, kenaikan harga minyak dunia, hingga data ekonomi AS dinilai menjadi faktornya.

Analis Paaar Uang sekaligus Presiden Direktur PT Doo Financial Futures, Ariston Tjendra mengatakan pelemahan nilai tukar rupiah dipengaruhi penguatan indeks dolar AS. Terutama adanya faktor dari memanasnya perang AS dan Iran.

"Selain gejolak Timteng dan harga minyak yang masih di level tinggi, Ini juga karena data ekonomi AS yang masih bagus sehingga menurunkan peluang Bank Sentral AS untuk memangkas suku bunga acuannya tahun ini," kata Ariston kepada Liputan6.com, Jumat (15/5/2026).

Dia mengatakan, data penjualan ritel AS menunjukkan kenaikan dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Hal ini menandai perbaikan ekonomi di Negeri Paman Sam.

"Indeks dolar AS sudah menguat 1,18% sejak penutupan Jumat pekan lalu dari 97.84 ke area 90.00 pagi ini," katanya.

Dia memprediksi, pelemahan nilai tukar rupiah masih akan terjadi jika perang AS-Iran berkepanjangan. Namun, pelemahan tak hanya terjadi pada rupiah, melainkan mata uang negara lainnya terhadap dolar AS.

"Hari ini kelihatannya semua nilai tukar melemah terhadap dolar AS. Selama gejolak Timur Tengah belum reda dengan kenaikan harga minyak mentah, rupiah masih dalam tekanan," jelas dia.

Rupiah Tertekan ke Level Rp 17.600

Karyawan menunjukkan uang rupiah dan dolar AS di Jakarta, Rabu (30/12/2020). Nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup menguat 80 poin atau 0,57 persen ke level Rp 14.050 per dolar AS. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) makin tertekan. Pada Jumat, (15/5/2026), rupiah menyentuh posisi 17.600 per dolar AS. Adapun analis prediksi, salah satu faktor pelemahan rupiah dipicu geopolitik global.

Berdasarkan data google finance Jumat pagi, rupiah sempat tembus 17.612 per dolar AS. Kemudian bergerak di kisaran 17.579.

Pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) disinyalir masih terdampak oleh kondisi geopolitik global. Perang yang memanas antara AS dan Iran di Timur Tengah terus menguatkan indeks dolar AS.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya