Liputan6.com, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 1,98% ke level 6.723,320 pada perdagangan saham Rabu, 13 Mei 2026, di tengah sentimen dari hasil review kuartalan MSCI Mei 2026
Proyeksi dari Phintraco Sekuritas, IHSG diperkirakan masih berada dalam tekanan pada perdagangan pekan depan dan berpotensi menguji area support di level 6.700 hingga 6.650.
Advertisement
Phintraco Sekuritas menilai tekanan teknikal terhadap IHSG masih cukup kuat, terlihat dari pelebaran histogram negatif pada indikator MACD yang masih berlanjut, serta stochastic RSI yang bergerak menuju area oversold.
“Secara teknikal, pelebaran histogram negatif pada MACD masih berlanjut diiringi dengan stochastic RSI yang bergerak menuju oversold area. Sehingga kami memperkirakan IHSG berpotensi uji level 6700-6650 pada perdagangan pekan depan,” mengutip proyeksi Phintraco Sekuritas, ditulis Sabtu (16/5/2026).
Dari sisi sentimen, pasar masih merespons keputusan MSCI yang mengeluarkan sejumlah saham Indonesia dari MSCI Global Standard Index dan MSCI Global Small Cap Index. Langkah tersebut dinilai menjadi salah satu pemicu utama pelemahan IHSG dalam beberapa hari terakhir.
Meski demikian, Phintraco melihat ada sejumlah faktor yang dapat menahan tekanan lebih dalam, salah satunya karena estimasi foreign outflow dinilai tidak sebesar proyeksi awal pasar. Selain itu, keputusan MSCI yang tetap mempertahankan Indonesia dalam kategori emerging market turut menjadi sentimen penopang.
“Namun perkiraan foreign outflow tidak sebesar proyeksi sebelumnya dan optimisme investor bahwa Indonesia masih tidak berubah di Emerging Market, serta sebagian arus dana keluar selama ini sudah mengantisipasi langkah MSCI tersebut,” jelas isi proyeksi Phintraco Sekuritas.
Dengan kombinasi sentimen eksternal dan tekanan teknikal tersebut, pelaku pasar diperkirakan akan tetap berhati-hati dan mencermati area support krusial IHSG pada awal perdagangan pekan depan.
IHSG Anjlok 1,98% Setelah Pengumuman MSCI
Sebelumnya, laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) makin tertekan pada perdagangan saham Rabu, (13/5/2026) setelah rilis hasil tinjauan indeks MSCI. Koreksi IHSG hari ini terjadi di tengah mayoritas sektor saham memerah dan transaksi harian di bawah Rp 20 triliun.
Mengutip data RTI, IHSG hari ini anjlok 1,98% menjadi 6.723,32. Indeks saham LQ45 merosot 1,79% menjadi 657,88. Sebagian besar indeks saham acuan tertekan.
Analis PT MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana menuturkan, IHSG terpangkas 1,98% dan masih didominasi oleh tekanan jual. Ia menilai, hal itu sejalan dengan mayoritas pergerakan bursa global dan regional Asia yang juga terkoreksi beserta laporan yang disampaikan Rabu pagi. Koreksi IHSG itu dipengaruhi sejumlah faktor. Pertama, rilis data inflasi Amerika Serikat (AS) yang masih tinggi di 3,8% Year on Year (YoY).
Ia menilai, rilis data ekonomi itu akan membuat suku bunga the Federal Reserve (the Fed) akan cenderung tinggi untuk jangka lama. “Kedua, memanasnya kondisi geopolitik Amerika Serikat-Iran mengenai gencatan senjata dan juga perundingan yang terjadi,” kata dia saat dihubungi Liputan6.com.
Ketiga, ia mengatakan, rilis rebalancing MSCI Indonesia yang berisiko menimbulkan downweighting dan aliran dana investor asing yang keluar dari pasar Indonesia juga menekan IHSG.
Sektor Saham
Pada perdagangan saham Rabu pekan ini, IHSG berada di level tertinggi 6.787,34 dan level terendah 6.705,43. Sebanyak 416 saham melemah sehingga bebani IHSG. 239 saham menguat dan 163 saham diam di tempat.
Total frekuensi perdagangan saham 2.299.552 kali dengan volume perdagangan saham 38,9 miliar saham. Nilai transaksi harian saham Rp 19,8 triliun. Posisi dolar Amerika Serikat terhadap rupiah di kisaran 17.470.
Dari 11 sektor saham, dua sektor saham menghijau. Sektor saham transportasi naik 4,89%, dan catat kenaikan terbesar. Sektor saham industri menanjak 1,26%.
Sementara itu, sektor saham basic melemah 4,43%, dan catat koreksi terbesar. Sektor saham energi melemah 1,61%, sektor saham consumer nonsiklikal terpangkas 0,44%, sektor saham consumer siklikal terperosok 1,4%.
Lalu sektor saham kesehatan melemah 1,22%, sektor saham Keuangan tergelincir 0,58%, sektor saham properti merosot 0,70%, sektor saham teknologi terpangkas 0,71% dan sektor saham infrastruktur susut 2,72%.