Liputan6.com, Jakarta - BNB Chain mulai mengkaji kesiapan jaringan blockchain menghadapi ancaman komputasi kuantum melalui riset terbaru yang berfokus pada migrasi sistem kriptografi di BNB Smart Chain (BSC).
Dalam laporan yang dilansir dari Chainwire, BNB Chain mengevaluasi kemungkinan mengganti sistem kriptografi blockchain konvensional dengan teknologi yang lebih tahan terhadap serangan komputer kuantum. Sejumlah metode diuji, termasuk tanda tangan transaksi ML-DSA-44 dan mekanisme agregasi pqSTARK untuk proses konsensus validator.
Advertisement
Meski komputer kuantum saat ini belum cukup kuat untuk membobol sistem kriptografi blockchain yang digunakan secara luas, BNB Chain menilai langkah antisipasi perlu dilakukan sejak dini demi menjaga keamanan jaringan dalam jangka panjang.
Riset itu mencakup berbagai aspek inti di ekosistem BSC, mulai dari skema tanda tangan transaksi pasca-kuantum, sistem agregasi validator, alur verifikasi transaksi, penyimpanan kunci publik, hingga performa jaringan lintas wilayah ketika beban data meningkat.
Hasil pengujian menunjukkan teknologi pasca-kuantum sebenarnya sudah dapat diterapkan secara teknis. Namun, ada konsekuensi besar terhadap efisiensi jaringan.
Ukuran transaksi misalnya melonjak dari 110 byte menjadi sekitar 2,5 KB. Ukuran blok juga meningkat dari sekitar 110 KB menjadi hampir 2 MB. Dampaknya, kemampuan pemrosesan transaksi native atau transactions per second (TPS) turun dari 4.973 menjadi 2.997.
BNB Chain menyebut penurunan performa bukan terutama disebabkan proses verifikasi tanda tangan digital, melainkan membengkaknya ukuran data transaksi dan blok yang memperbesar beban propagasi jaringan antarwilayah.
Ada Komponen yang Belum Diuji
Di tengah tantangan itu, teknologi pqSTARK justru dinilai cukup menjanjikan. Sistem tersebut mampu mengompresi tanda tangan validator dengan rasio sekitar 43:1 sehingga beban pada lapisan konsensus masih relatif terkendali.
BNB Chain juga mengakui masih ada sejumlah komponen yang belum diuji dalam riset ini, termasuk pengganti pasca-kuantum untuk handshake peer-to-peer (P2P) dan komitmen KZG. Menurut perusahaan, pengembangan di area tersebut membutuhkan koordinasi yang lebih luas di tingkat ekosistem blockchain.
BNB Chain menegaskan riset ini bukan respons terhadap ancaman keamanan yang mendesak, melainkan bagian dari evaluasi teknologi untuk menyiapkan infrastruktur blockchain menghadapi perkembangan komputasi kuantum di masa depan.
Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.
Consensys Menunda IPO Imbas Pasar Kripto Lesu
Sebelumnya, Concensys yang dikenal dengan produk dompet Ethereum MetaMask telah menunda rencana penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO) hingga 2026. Hal ini karena pasar yang lemah dan bergejolak. Ini menambah daftar panjang perusahaan kripto yang menunda rencana IPO pada 2026.
Mengutip Coinmarketcapnews.com, perusahaan yang didirikan oleh salah satu pendiri Ethereum, Joe Lubin telah berupaya mengajukan pernyataan pendaftaran kepada Securities and Exchange Commission (SEC) pada akhir Februari 2026. Pengajuan rahasia biasanya merupakan langkah formal pertama menuju persetujuan IPO. Namun, sayangnya hal itu belum terwujud.
Consensys telah meminta bantuan bank JPMorgan dan Goldman Sachs untuk memimpin penawaran publik, menurut laporan tersebut. Perusahaan terakhir kali dinilai sebesar USD 7 miliar setelah mengumpulkan USD 450 juta dalam putaran Seri D pada awal 2022.
Pasar Kripto Lesu
Waktu penundaan ini sangat buruk bagi Consensys. Pasar kripto anjlok tajam pada Februari di tengah ketidakpastian ekonomi, Perang Iran, kekhawatiran tarif, ekspektasi buruk terhadap penurunan suku bunga, dan arus keluar besar-besaran dari ETF Bitcoin. Gelombang likuidasi di seluruh pasar kripto yang menggunakan leverage mengakhiri aksi jual tersebut.
Consensys bukan satu-satunya yang mempertimbangkan kembali rencana dan jadwal IPO-nya. Kraken, salah satu bursa kripto terbesar di AS, menangguhkan IPO senilai miliaran dolar AS pada awal tahun ini, bahkan setelah mengajukan permohonan secara rahasia ke SEC pada akhir tahun 2025.
Pembuat dompet perangkat keras Prancis, Ledger, juga menunda rencana pencatatan saham senilai USD 4 miliar minggu ini, dengan alasan kondisi pasar yang lemah, menurut laporan Cryptopolitan sebelumnya.