Ripple Kantongi Pinjaman Rp 3,5 Triliun untuk Ekspansi

Ripple yang meraih pinjaman ini dinilai dapat mengembangkan ekspansi platform Ripple Prime.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 13 Mei 2026, 10:00 WIB
Ripple. (Ilustrasi by AI)

Liputan6.com, Jakarta - Ripple mengumumkan langkah strategis besar yang dapat menjadi katalis jangka panjang yang signifikan bagi aset digital nya XRP. Salah satunya mendapatkan pinjaman yang dipakai untuk ekspansi platform pialang.

Mengutip Yahoo Finance, ditulis Rabu (13/5/2026), Ripple dapat fasilitas pinjaman sebesar USD 200 juta atau Rp 3,50 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 17.510) dari Neuberger Specialty Finance, tim investasi berbasis aset khusus manager global Neuberger. Fasilitas ini akan membantu mendukung ekspansi cepat Ripple Prime, platform pialang multi aset perusahaan yang diakuisisi Ripple pada 2025.

Perkembangan ini dinilai menjadi sinyal yang jelas tentang kematangan permintaan institusional. Ripple Prime menyediakan layanan utama dan solusi pembiayaan margin yang penting, bertindak sebagai jembatan antara pasar tradisional dan digital. Dengan meningkatkan kapasitas pinjaman, Ripple kini dapat menawarkan respons yang lebih besar dan efisiensi modal yang lebih baik kepada klien-nya.

Signifikansi bagi XRP terletak pada perannya sebagai kripto yang mendasari solusi perusahaan Ripple yang mencakup pembayaran global, penyimpanan dan manajemen likuiditas. Seiring dengan meningkatnya kemampuan Ripple Prime dalam menyediakan modal untuk perdagangan dan pembiayaan tingkat institusional, ekosistem di sekitar XRP menjadi semakin kuat.

Keterlibatan Neuberger semakin memperkuat posisi unik Ripple di pusat keuangan tradisional dan teknologi blockchain. Dengan memanfaatkan XRP bersama stablecoin RLUSD, Ripple terus membentuk sistem keuangan modern yang dibangun di atas transparansi dan efisiensi. Fasilitas senilai USD 200 juta ini memberikan fleksibilitas yang dibutuhkan untuk mendorong fase adopsi institusional selanjutnya.

Hingga saat ini pada 2026, nilai XRP telah menurun sekitar 22%, tetapi tetap menjadi salah satu cryptocurrency paling berharga di dunia, dengan kapitalisasi pasar sedikit di bawah USD 90 miliar.

 

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.

Ripple Gandeng KBank Korea, Uji Transfer Blockchain Tanpa XRP

Ripple. (Ilustrasi by AI)

Sebelumnya, perusahaan teknologi blockchain Ripple memperluas kehadiran institusionalnya di Korea Selatan melalui kerja sama dengan KBank, bank digital pertama di negara tersebut sekaligus mitra eksklusif bursa kripto Upbit.

Kesepakatan ini ditandatangani pada 27 April di kantor pusat KBank di Seoul oleh CEO KBank Choi Woo-hyung dan Managing Director Ripple Asia-Pasifik Fiona Murray. Kerja sama ini akan menguji sistem remitansi lintas negara berbasis blockchain di sejumlah jalur internasional.

Dikutip dari CoinMarketCap, Selasa (28/4/2026), uji coba ini bertujuan untuk melihat apakah sistem berbasis blockchain mampu meningkatkan kecepatan, efisiensi biaya, serta transparansi dibandingkan sistem perbankan koresponden tradisional.

Dalam implementasinya, Ripple dan KBank melakukan uji coba dalam beberapa tahap. Tahap pertama menguji layanan remitansi berbasis dompet digital melalui aplikasi terpisah.

Saat ini, uji coba telah memasuki tahap kedua, yakni menghubungkan langsung rekening nasabah KBank dengan sistem internal bank untuk menguji stabilitas transaksi di jaringan blockchain.

Fokus pengujian mencakup jalur remitansi yang terhubung dengan Uni Emirat Arab dan Thailand.

 

 

Pelopor Inovasi Perbankan Digital

Ilustrasi kripto (Foto By AI)

Dalam proyek ini, KBank menggunakan solusi dompet digital berbasis SaaS milik Ripple, yakni Palisade. Menariknya, uji coba kini menggunakan stablecoin sebagai alat penyelesaian transaksi, bukan aset kripto XRP.

Langkah ini memungkinkan bank menguji pembayaran berbasis blockchain tanpa harus menghadapi risiko volatilitas harga kripto, yang kerap menjadi perhatian dalam proyek dengan tingkat kepatuhan tinggi.

Fiona Murray menyebut KBank sebagai pelopor dalam inovasi perbankan digital di Korea Selatan.

Kerja sama ini menjadi langkah kedua Ripple dengan institusi Korea Selatan dalam bulan yang sama. Sebelumnya, Ripple juga menggandeng Kyobo Life Insurance untuk proyek tokenisasi penyelesaian obligasi pemerintah.

Kemitraan dengan KBank dinilai strategis karena posisi bank tersebut dalam ekosistem kripto Korea Selatan. KBank merupakan mitra perbankan eksklusif Upbit, bursa kripto terbesar di negara tersebut.

Regulasi di Korea Selatan mengharuskan pengguna bursa kripto untuk menghubungkan akun mereka dengan rekening bank terverifikasi, yang biasanya hanya bekerja sama dengan satu bank.

Model ini membantu KBank meningkatkan jumlah pengguna dari sekitar 2 juta pada 2020 menjadi 15 juta pada akhir 2025.

 

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya