Satelit Berotak AI Bisa Petakan Kandungan Logam dalam Tanah hingga Analisis Kerusakan Bencana

Meskipun implementasi AI di sektor antariksa dan satelit masih dalam tahap awal, potensinya dinilai sangat masif.

oleh IskandarDiterbitkan 13 Mei 2026, 08:00 WIB
Ketua Umum Asosiasi Satelit Indonesia (ASSI) Risdianto Yuli Hermansyah di ajang Asia Pacific Satellite International Conference (APSAT 2026), Selasa (12/5/2026) di Jakarta. Liputan6.com/Iskandar

Liputan6.com, Jakarta - Asosiasi Satelit Indonesia (ASSI) menyoroti peran krusial teknologi Artificial Intelligence (AI) dalam merevolusi industri satelit di Tanah Air.

Dalam ajang Asia Pacific Satellite International Conference (APSAT 2026), Selasa (12/5/2026) di Jakarta, integrasi AI dinilai bukan sekadar tren, melainkan kebutuhan mendasar untuk mencapai efisiensi operasional dan analisis data yang presisi.

Ketua Umum ASSI, Risdianto Yuli Hermansyah, mengungkapkan bahwa implementasi AI di industri satelit saat ini difokuskan pada dua pilar utama: efisiensi operasional dan earth observation (pengolahan data citra bumi).

Menurutnya, alokasi kapasitas satelit yang dulu dilakukan secara konvensional kini mulai beralih ke sistem berbasis AI demi menekan biaya operasional (OPEX).

"Kita menyebutnya sebagai Earth Intelligence. Bukan lagi sekadar gambar mentah, tetapi sudah diolah oleh AI menjadi analisis mendalam yang bisa langsung digunakan untuk pengambilan keputusan," ujar Risdianto.

Lebih lanjut, AI juga berperan dalam memperbaiki resolusi visual satelit serta mendukung pengembangan satelit masa depan yang memiliki kemampuan adaptive capacity dan adaptive coverage.

 

Satelit sebagai Sensor Global

Sekretaris Jenderal Asosiasi Satelit Indonesia (ASSI) Sigit Jatiputro di ajang Asia Pacific Satellite International Conference (APSAT 2026), Selasa (12/5/2026) di Jakarta. Liputan6.com/Iskandar

Senada dengan Risdianto, Sekretaris Jenderal ASSI, Sigit Jatiputro, menekankan bahwa meskipun implementasi AI di sektor antariksa (space) masih dalam tahap awal, potensinya sangat masif.

Ia memproyeksikan satelit akan bertransformasi menjadi sensor global yang menyuplai data besar bagi sistem AI.

"AI tanpa data yang besar itu tidak ada artinya. Di sini prinsipnya satelit menjadi sensor untuk segala hal--mulai dari pergerakan, pemantauan cuaca, hingga analisis frekuensi radio dan multispektrum," Sigit menjelaskan.

Ia mencontohkan dampak nyata teknologi ini dalam manajemen bencana di Sumatra baru-baru ini. Melalui pencitraan satelit yang didukung AI, analisis kerusakan bangunan dapat dilakukan dengan sangat cepat tanpa harus menerjunkan tim ke lokasi yang sulit dijangkau.

AI mampu mengidentifikasi ribuan rumah yang rusak secara otomatis hanya melalui foto satelit. Dengan pemanfaatan berbagai spektrum yang bahkan mampu menembus permukaan tanah untuk memetakan kandungan logam di wilayah Ring of Fire, ASSI optimis kolaborasi satelit dan AI akan menjadi tulang punggung keamanan nasional dan ekonomi digital Indonesia di masa depan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya