Data Ekonomi Amerika Serikat dan Domestik jadi Perhatian Pekan Ini

Berikut sejumlah data ekonomi domestik dan Amerika Serikat (AS) yang akan menjadi perhatian pekan ini.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 11 Mei 2026, 16:48 WIB
Amerika Serikat (AS) akan merilis data ekonomi pekan ini. (Foto: AP/Richard Drew)

Liputan6.com, Jakarta - Sentimen global dan domestik membayangi pasar keuangan domestik pada pekan lalu. Sejumlah rilis data ekonomi globa seperti inflasi Amerika Serikatl dan domestik akan menjadi perhatian pasar keuangan pekan ini.

Dari Amerika Serikat (AS), rencana Presiden AS Donald Trump mengunjungi China pekan ini untuk bertemu Presiden China Xi Jinping menjadi perhatian. Pertemuan puncak ini bertujuan menstabilkan hubungan kedua negara yang tegang akibat sengketa perdagangan dengan pembentukan mekanisme Board of Truce dan mendorong China untuk membantu AS kembali membuka Selat Hormuz.

Mengutip Syailendra Research, Senin, (11/5/2026), dari domestik, Badan Pusat Statistik (BPS) merilis pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) mencapai 5,61% pada kuartal pertama 2026 dari konsensus 5,4%. Pertumbuhan itu didukung dari belanja pemerintah naik 21,8% Year on Year (YoY) dan konsumsi rumah tangga naik 5,5% YoY.

Selain itu, data ekonomi domestik April 2026 yang dirilis antara lain:

  • PMI Manufaktur: 49,1 vs sebelumnya 50,1
  • Inflasi/Inflasi inti YoY: 2,42%/2,44% vs sebelumnya 3,48%/2,52%
  • Surplus neraca dagang: USD 3,32 miliar vs sebelumnya USD 1,28 miliar
  • Cadangan devisa: USD 146,2 miliar vs sebelumnya USD 148,2 miliar

Selain itu, Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa juga akan mengaktifkan kembali Bond Stabilization Fund pada 7 Mei 2026 untuk meredam yield Surat Berharga Negara (SBN), mencegah aliran dana asing keluar dan menstabilkan nilai tukar rupiah. Menkeu Purbaya juga akan menerbitkan Panda Bond untuk mengurangi ketergantungan pada dolar Amerika Serikat.

Pada pekan lalu, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia juga mengusulkan kerangka royalty progresif untuk beberapa mineral utama.

Seiring sentimen itu, bagaimana nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dan pasar saham?

Pekan lalu, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS naik 0,40% ke level 17.377 per dolar AS. Sebaliknya indeks dolar AS melemah 0,54% ke level 97,84.

 

Data Ekonomi

Seorang wanita berjalan ke konter tiket Southwest di Bandara Internasional Los Angeles, Los Angeles, Amerika Serikat, 19 Desember 2022. Liburan Natal dan Tahun Baru bagi sebagian warga Amerika Serikat dan Eropa tahun ini menghadirkan kekhawatiran karena tekanan ekonomi. (AP Photo/Jae C. Hong)

Di sisi lain, pasar obligasi dengan obligasi bertenor 10 tahun turun ke level 6,61% yang diikuti aliran dana asing masuk ke Surat Berharga Negara (SBN) sebesar USD 40 juta, melanjutkan aliran dana yang masuk pekan lalu USD 2 juta. Di sisi lain, obligasi Amerika Serikat bertenor 10 tahun stagnan di level 4,36%.

Sedangkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun tipis 0,04% ke level 6.969. Namun, aliran dana investor asing yang mencapai USD 48 juta atau Rp 833,20 miliar (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 17.360).

Sementara itu, ketiga indeks saham Amerika Serikat di wall street kompak naik dengan kenaikan signifikan oleh Nasdaq sebesar 2,9%, indeks Dow Jones naik 1,3% serta S&P 500 bertambah 1,9%.

Apa Saja yang Perlu Dicermati Pekan Ini?

  • 11 Mei: Data kepercayaan konsumen
  • 12 Mei: Data penjualan ritel
  • 12 Mei: Data inflasi dan inflasi inti Amerika Serikat
  • 14 Mei: Data penjualan ritel Amerika Serikat

Selain itu, pekan ini juga ada pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping. Jepang juga akan merilis prospek kebijakan bank sentral Jepang dan mencermati intervensi Yen.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya