Harga Emas Dibayangi Sentimen Geopolitik Global, Diprediksi Tembus Level Segini

Sentimen global terutama dari ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan Eropa Timur akan mempengaruhi harga emas pekan ini.

oleh Tira SantiaDiterbitkan 11 Mei 2026, 10:00 WIB
Harga emas berpeluang kembali menguat pada pekan ini di tengah memanasnya tensi geopolitik global.(Liputan6.com/Johan Tallo)

Liputan6.com, Jakarta - Harga emas berpeluang kembali menguat pada pekan ini di tengah memanasnya tensi geopolitik global. Pengamat pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi memprediksi harga logam mulia bahkan bisa menembus level Rp 2,9 juta per gram apabila ketegangan di Timur Tengah dan Eropa Timur terus meningkat.

Ia menjelaskan, pada perdagangan sebelumnya harga emas dunia ditutup di level USD 4.616 per troy ons, sementara harga logam mulia domestik berada di posisi Rp 2.796.000 per gram. Menurut dia, pergerakan harga emas pekan depan masih akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan konflik geopolitik global.

"Kemarin untuk emas dunia ditutup di USD 4.616. kemudian logam mulia ditutup di level Rp 2.796.000," kata Ibrahim kepada Liputan6.com, Senin (11/5/2026).

Ibrahim mengatakan, skenario penguatan emas masih terbuka lebar apabila pasar kembali dibayangi ketidakpastian global. Untuk level resistance pertama, harga emas dunia diproyeksikan berada di USD 4.702 per troy ons dengan harga logam mulia domestik sekitar Rp 2.866.000 per gram.

Sementara itu, apabila penguatan berlanjut, resistance kedua diperkirakan mencapai USD 4.851 per troy ons. Dalam kondisi tersebut, harga logam mulia di dalam negeri berpotensi menyentuh Rp 2.900.000 per gram.

"Seandainya menguat untuk emas, resisten pertama itu di USD 4.702. Kemudian logam mulianya itu di Rp 2.866.000. Kemudian kalau seandainya menguat ya resisten kedua itu di USD 4.851 per tray on. Logam mulianya kemungkinan besar ini akan mencapai di Rp 2.900.000 per gram," ujarnya.

 

 

 

Support Terendah Diprediksi Rp 2,75 Juta

Pegawai menunjukkan emas batangan 24 karat di gerai Galeri 24, kawasan Kebayoran Baru, Jakarta, Kamis (5/8/2021). Harga emas yang dijual PT Aneka Tambang Tbk dijual lebih murah Rp 2.000 per gram pada hari ini ke posisi Rp 941 ribu per gram. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Meski demikian, Ibrahim juga mengingatkan adanya potensi koreksi harga emas apabila tensi geopolitik mulai mereda. Ia memperkirakan support pertama emas dunia berada di USD 4.520 per troy ons dengan harga logam mulia di level Rp 2.786.000 per gram.

Sedangkan support kedua diperkirakan berada di USD 4.389 per troy ons. Jika skenario pelemahan itu terjadi, harga logam mulia domestik bisa turun hingga Rp 2.750.000 per gram.

"Kemudian kalau seandainya terkoreksi di support pertama itu di USD 4.520, kemudian logam mulianya itu di Rp 2.786.000. Kemudian support kedua kalau seandainya melemah untuk harga emas itu di USD 4.389 per tray ons, logam mulianya di Rp 2.750.000 per gram," ujarnya.

 

Konflik Timur Tengah dan Rusia-Ukraina Jadi Penggerak

Petugas menunjukan dummy emas batangan saat pameran di Jakarta, Jumat (23/8/2019). Harga emas produksi PT Aneka Tambang Tbk (Antam) atau emas Antam turun Rp 4.000 menjadi Rp 751 ribu per gram, pada perdagangan Jumat (23/8/2019). (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Ibrahim menilai faktor utama yang mempengaruhi fluktuasi harga emas saat ini berasal dari ketegangan geopolitik, terutama konflik Rusia-Ukraina dan memanasnya situasi di Timur Tengah.

Menurut dia, ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat setelah insiden penyitaan kapal tanker kosong yang disebut digunakan Iran untuk mengelabui Amerika Serikat. Situasi tersebut memicu aksi saling serang antara kedua pihak di kawasan Timur Tengah.

Meski demikian, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump disebut masih menyatakan, gencatan senjata tetap berlaku meskipun dalam kondisi rapuh. Pernyataan tersebut dinilai sedikit meredakan kekhawatiran pasar.

Di sisi lain, Rusia juga disebut mengancam akan melakukan serangan besar-besaran terhadap Ukraina dan negara-negara anggota NATO yang memberikan bantuan militer. Kondisi itu dinilai berpotensi kembali mendorong kenaikan harga emas dunia.

"Di Eropa sendiri Rusia mengancam akan melakukan penyerangan besar-besaran terhadap Rusia, terhadap Ukraina dan negara-negara anggota NATO yang membantu. Artinya, ada kemungkinan besar ini yang akan membuat harga emas ini akan kembali mengalami kenaikan," pungkasnya.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya