Inggris Kirim Kapal Perang ke Timur Tengah untuk Misi Pengamanan Selat Hormuz

Inggris tidak bergerak seorang diri dalam misi pengamanan Selat Hormuz.

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 10 Mei 2026, 08:53 WIB
Kapal perusak tipe 45 milik Angkatan Laut Kerajaan Inggris, HMS Dragon, berada di Pangkalan Angkatan Laut Portsmouth Harbour, Hampshire, Inggris, Selasa (3/3/2026), sebelum diberangkatkan untuk melindungi personel militer Inggris di Siprus. (Dok. Andrew Matthews/PA via AP)

Liputan6.com, London - Angkatan Laut Kerajaan Inggris mengirim HMS Dragon, kapal perusak tipe 45 milik Inggris, ke Timur Tengah sebagai persiapan menghadapi kemungkinan keterlibatannya dalam misi internasional untuk menjaga keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz.

Melansir laporan BBC, Kementerian Pertahanan Inggris (MoD) pada Sabtu (9/5/2026) menyebut misi ini sebagai operasi yang "sepenuhnya bersifat defensif dan independen".

Perdana Menteri Inggris Keir Starmer, yang bersama Presiden Prancis Emmanuel Macron mendorong pembentukan misi itu, mengatakan bahwa operasi pengamanan pelayaran hanya akan dilakukan setelah pertempuran di kawasan benar-benar berhenti.

Iran telah memperketat pengawasan dan pengendalian di Selat Hormuz selama beberapa bulan terakhir sebagai bentuk balasan atas serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel.

Sekitar 20 persen pasokan minyak dunia dan gas alam cair melewati jalur laut penting tersebut. Ketegangan dan gangguan pelayaran di kawasan itu telah menyebabkan harga energi melonjak di berbagai negara.

Gencatan senjata antara AS dan Iran memang sudah berlaku sejak April. Namun, hingga sekarang belum ada solusi jangka panjang untuk mengakhiri konflik. Pekan ini, kedua negara saling menuduh telah melakukan serangan di wilayah Selat Hormuz.

HMS Dragon adalah salah satu dari enam kapal perusak tipe 45 milik Angkatan Laut Inggris. Kapal ini dirancang khusus untuk menghadapi ancaman pesawat dan rudal, serta dikenal sebagai salah satu kapal perang paling canggih yang dimiliki Inggris.

Kapal ini akan menjadi kapal Angkatan Laut Inggris pertama yang dikirim ke Timur Tengah sejak perang Iran dimulai pada akhir Februari. Pengiriman ini juga terjadi setelah kapal induk Prancis Charles de Gaulle melintasi Terusan Suez pada awal pekan ini untuk tujuan yang sama.

Sementara itu, kapal Inggris lainnya, RFA Lyme Bay, masih dipasangi peralatan pemburu ranjau otomatis sebagai persiapan untuk kemungkinan penugasan.

 

Sikap Inggris soal Perang Iran

Sebelumnya, HMS Dragon berada di wilayah Mediterania timur sebagai bagian dari operasi pertahanan Inggris. Tugas utamanya adalah melindungi pangkalan udara militer Inggris RAF Akrotiri di Siprus setelah fasilitas tersebut diserang drone buatan Iran pada Maret.

Terkait keputusan pengiriman HMS Dragon ke Timur Tengah, MoD menerangkan bahwa langkah ini merupakan "bagian dari perencanaan yang bijaksana." Dengan penempatan lebih awal ini, kapal perang tersebut dapat segera digunakan apabila dibutuhkan dalam "misi pertahanan di masa depan."

Menurut MoD, pengerahan ini memberi Inggris fleksibilitas lebih besar untuk mendukung operasi bersama negara-negara lain di Selat Hormuz.

MoD menambahkan, "Siprus tetap memiliki pertahanan yang kuat karena kami telah memperkuat kemampuan pertahanan penting yang sebelumnya sudah kami tempatkan di kawasan itu sejak Januari."

HMS Dragon sempat harus bersandar di pelabuhan tidak lama setelah tiba di Siprus karena mengalami apa yang disebut MoD sebagai masalah teknis ringan. Pada saat itu, pemerintah Inggris sempat mendapat kritik karena dianggap lambat merespons konflik di Timur Tengah.         

Bulan lalu, sebanyak 51 negara mengadakan pertemuan untuk membahas cara melindungi kapal-kapal dagang yang melintas di Selat Hormuz. Setelah pertemuan itu, Starmer mengatakan bahwa puluhan negara telah menawarkan diri untuk "menyumbangkan aset" bagi operasi gabungan bersama Prancis.

Sikap Starmer sendiri terhadap konflik Iran versus AS dan Israel adalah Inggris tidak akan terseret ke dalam perang. Ia pun menegaskan bahwa Inggris tidak akan mendukung blokade pelabuhan-pelabuhan Iran oleh AS, yang hingga kini masih berlangsung.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya