Liputan6.com, Abu Dhabi - Uni Emirat Arab (UEA) menuduh Iran melancarkan serangan rudal dan drone yang menargetkan wilayahnya. Serangan itu memicu kebakaran di kilang minyak di emirat Fujairah dan melukai tiga warga negara India.
Insiden tersebut menjadi serangan pertama terhadap UEA sejak Iran dan Amerika Serikat menyepakati gencatan senjata pada 8 April lalu.
Advertisement
Kementerian Pertahanan UEA menyatakan sistem pertahanan udara negara itu berhasil mencegat 12 rudal balistik, tiga rudal jelajah, dan empat drone yang disebut diluncurkan dari Iran sepanjang hari, dikutip dari laman Al Jazeera, Sabtu (9/5/2026).
Sementara itu, pemerintah Fujairah melaporkan sebuah drone menghantam Zona Industri Perminyakan Fujairah dan memicu kebakaran besar. Tiga warga negara India dilaporkan mengalami luka sedang akibat serangan tersebut.
Kementerian Luar Negeri UEA mengecam keras serangan yang disebutnya sebagai tindakan teroris tanpa provokasi yang menyasar fasilitas sipil.
“UEA tidak akan mentolerir ancaman apa pun terhadap keamanan dan kedaulatannya,” demikian pernyataan kementerian tersebut.
Pemerintah UEA juga menegaskan memiliki “hak penuh dan sah” untuk merespons serangan tersebut.
Hingga kini belum ada pernyataan resmi dari pemerintah Iran terkait tuduhan tersebut.
Namun, stasiun televisi pemerintah Iran, IRIB, mengutip sumber militer yang menyatakan Teheran tidak memiliki rencana sebelumnya untuk menyerang fasilitas minyak di UEA.
Sumber tersebut justru menyalahkan operasi militer Amerika Serikat yang dinilai berupaya membuka jalur pelayaran bagi kapal-kapal komersial di Selat Hormuz.
“Militer AS harus bertanggung jawab atas hal ini,” kata sumber tersebut.
Kantor berita semi-resmi Tasnim kemudian mengutip sumber lain yang memperingatkan bahwa seluruh kepentingan UEA dapat menjadi sasaran Iran apabila Abu Dhabi mengambil langkah yang dianggap tidak bijaksana.
Ketegangan Militer
Ketegangan meningkat setelah Presiden AS Donald Trump meluncurkan upaya baru untuk mengawal kapal tanker keluar dari Selat Hormuz, jalur strategis perdagangan energi dunia yang sebagian besar tertutup sejak perang antara AS, Israel, dan Iran pecah pada 28 Februari lalu.
Komando militer gabungan Iran sebelumnya telah memperingatkan kapal-kapal komersial agar tidak menerima pengawalan dari AS. Iran juga mengancam akan menyerang pasukan Amerika yang mencoba memasuki Selat Hormuz.
Media Iran sempat melaporkan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) berhasil menghalau kapal perang AS yang mendekati selat tersebut. Kantor berita Fars bahkan mengklaim dua rudal menghantam sebuah fregat AS di dekat Pulau Jask, Iran.
Namun, militer Amerika Serikat membantah laporan tersebut.
Tak lama setelah itu, UEA menyatakan Iran meluncurkan dua drone ke arah kapal tanker yang berafiliasi dengan Perusahaan Minyak Nasional Abu Dhabi (ADNOC) saat melintasi Selat Hormuz.
Penasihat Presiden UEA, Anwar Gargash, menyebut serangan terhadap kapal tanker minyak Barakah sebagai “pembajakan maritim”. ADNOC mengatakan kapal tersebut tidak membawa muatan dan tidak ada korban luka dalam insiden itu.
Jurnalis yang berbasis di Dubai, Natasha Turak, mengatakan serangan terbaru memicu kekhawatiran baru di tengah situasi keamanan kawasan yang masih rapuh.
“Kami kembali mendengar peringatan rudal berbunyi di telepon genggam untuk pertama kalinya dalam hampir sebulan sejak gencatan senjata berlaku,” ujarnya kepada Al Jazeera.
Menurut Turak, meningkatnya ketegangan tidak sepenuhnya mengejutkan karena isu utama antara Washington dan Teheran, termasuk program nuklir Iran dan kendali atas Selat Hormuz, belum terselesaikan.
Perundingan antara Iran dan AS mengalami kebuntuan sejak gencatan senjata mulai berlaku pada 8 April. Meski kedua pihak sempat melakukan pembicaraan langsung di Islamabad pada 11 April melalui mediasi Pakistan, belum ada kesepakatan damai permanen yang tercapai.
Trump kemudian memperpanjang masa gencatan senjata tanpa menetapkan tenggat baru atas permintaan Pakistan.
Di tengah meningkatnya ancaman keamanan, Kementerian Pendidikan UEA mengumumkan seluruh sekolah negeri dan swasta akan kembali menerapkan pembelajaran jarak jauh hingga Jumat.
Kebijakan itu diambil untuk memastikan keselamatan komunitas pendidikan di seluruh wilayah UEA.