Liputan6.com, Polmas: Secara keseluruhan kondisi keamanan di Kabupaten Polmas, Sulawesi Selatan, berangsur normal. Namun demikian, hingga Ahad (5/10) siang, di beberapa daerah masih terlihat mencekam. Warga lebih memilih tinggal di rumah setelah terjadi kerusuhan karena bentrokan antara massa pendukung dan kelompok yang menolak pemekaran, empat hari silam [baca: Pemekaran Tak Mulus, Desa Dikosongkan].
Pemerintah Daerah Polmas memperkirakan, jumlah pengungsi di wilayah Kabupaten Majene akibat kerusuhan itu mencapai lebih dari 4.000 jiwa dan sekitar 3.000 di antaranya masih berada di hutan Ulumanda dan Kopeyang. Seluruh pengungsi adalah warga Kecamatan Aralle, Mambi, dan Tabulahan yang menolak bergabung dalam wilayah pemekaran Kabupaten Mamasa.
Dilaporkan, seorang pengungsi bernama Fandi, warga Mambi meninggal dalam perjalanan menuju Kabupaten Majene. Diduga korban meninggal karena kelelahan.(YYT/Muhammad Takbir)
Pemerintah Daerah Polmas memperkirakan, jumlah pengungsi di wilayah Kabupaten Majene akibat kerusuhan itu mencapai lebih dari 4.000 jiwa dan sekitar 3.000 di antaranya masih berada di hutan Ulumanda dan Kopeyang. Seluruh pengungsi adalah warga Kecamatan Aralle, Mambi, dan Tabulahan yang menolak bergabung dalam wilayah pemekaran Kabupaten Mamasa.
Dilaporkan, seorang pengungsi bernama Fandi, warga Mambi meninggal dalam perjalanan menuju Kabupaten Majene. Diduga korban meninggal karena kelelahan.(YYT/Muhammad Takbir)