Operasi Sindoor Tekan Ekonomi Pakistan, Inflasi Diproyeksikan Naik hingga 2027

Sejumlah analisis ekonomi menunjukkan, Pakistan memasuki 2025 dengan fundamental yang lemah.

oleh Teddy Tri Setio BertyDiterbitkan 06 Mei 2026, 11:34 WIB
Tentara berjaga di pos pemeriksaan untuk memastikan keamanan menjelang kemungkinan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran di ibu kota Pakistan, Islamabad, Jumat 10 April 2026. Jelang pelaksanaan perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran, yang dijadwalkan berlangsung pada Jumat 10 April 2026, otoritas Pakistan memperketat keamanan di Islamabad. (AP Photo/Anjum Naveed)

Liputan6.com, Islamabad - Ketegangan geopolitik akibat Operasi Sindoor yang terjadi pada Mei 2025 dilaporkan semakin menekan kondisi ekonomi Pakistan yang sejak awal telah berada dalam posisi rapuh. Dampaknya diperkirakan berlanjut hingga 2026–2027, dengan tekanan pada inflasi, investasi, perdagangan, dan stabilitas makroekonomi secara keseluruhan.

Sejumlah analisis ekonomi menunjukkan, Pakistan memasuki 2025 dengan fundamental yang lemah, ditandai pertumbuhan ekonomi yang stagnan di kisaran 3 persen dalam tiga tahun terakhir, defisit fiskal berulang, basis pajak yang sempit, serta ketergantungan tinggi pada pembiayaan eksternal dan program reformasi berbasis IMF. Kondisi ini diperburuk oleh cadangan devisa yang terbatas dan beban utang yang tinggi.

Kepercayaan Investor MelemahPasca meningkatnya ketegangan keamanan, sentimen investor dilaporkan mengalami tekanan signifikan. Investor asing maupun domestik disebut lebih berhati-hati dalam menempatkan modal di tengah meningkatnya risiko geopolitik. Sektor-sektor seperti energi, infrastruktur, pertambangan, hingga teknologi informasi disebut mengalami penundaan keputusan investasi.

Kenaikan persepsi risiko juga berdampak pada biaya asuransi dan pinjaman, yang membuat iklim investasi semakin tidak kompetitif dibandingkan negara-negara kawasan lain, dikutip dari laman Greek Times, Rabu (6/5/2026).

Tekanan pada Mata Uang dan Pasar KeuanganPasar keuangan Pakistan juga mengalami volatilitas akibat meningkatnya ketidakpastian. Tekanan terhadap mata uang, cadangan devisa, serta arus modal keluar menjadi perhatian utama pelaku pasar. Kondisi ini turut memengaruhi kemampuan negara dalam membiayai impor dan pembayaran utang luar negeri.

Sektor Pariwisata dan Logistik Terdampak

Sektor pariwisata yang sebelumnya menjadi salah satu fokus pengembangan ekonomi dilaporkan mengalami perlambatan akibat pembatalan perjalanan wisatawan internasional. Destinasi seperti Gilgit-Baltistan, Hunza, Skardu, hingga Swat disebut terdampak penurunan kunjungan.

Di sektor transportasi dan logistik, gangguan penerbangan, pembatasan wilayah udara, serta keterlambatan pengiriman kargo meningkatkan biaya operasional bagi pelaku usaha. Industri ekspor seperti tekstil, farmasi, dan barang teknik ringan menjadi yang paling terdampak.

 

Perdagangan dan Investasi Ekspor Melemah

Keputusan ini membuat upaya diplomasi untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung sejak Maret 2026 terancam batal. Tampak dalam foto, tentara berjaga di pinggir jalan untuk memastikan keamanan menjelang putaran kedua negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran, di Islamabad, Pakistan, Senin 20 April 2026. (AP Photo/Anjum Naveed)

Di sektor perdagangan, Pakistan menghadapi tekanan akibat menurunnya kepercayaan pembeli internasional. Sejumlah mitra dagang dilaporkan mulai melakukan diversifikasi sumber impor ke negara lain di Asia, yang berpotensi mengurangi pangsa ekspor Pakistan pada komoditas utama seperti tekstil, beras, dan produk kulit.

Ketegangan yang terjadi juga disebut mengalihkan fokus pemerintah dari agenda reformasi ekonomi ke isu keamanan dan diplomasi. Padahal, reformasi struktural seperti perbaikan sistem perpajakan, efisiensi energi, dan diversifikasi industri dinilai masih menjadi kebutuhan utama untuk menjaga stabilitas jangka panjang.

Tekanan Fiskal BertambahDi sisi fiskal, peningkatan kebutuhan keamanan diperkirakan menambah beban anggaran negara yang sudah terbatas. Kenaikan belanja pertahanan dan logistik berpotensi mengurangi ruang fiskal untuk sektor kesehatan, pendidikan, dan infrastruktur, yang pada akhirnya dapat memperlebar defisit anggaran.

Inflasi Diproyeksikan Naik

Salah satu dampak paling signifikan diperkirakan terjadi pada inflasi. Inflasi Pakistan yang sebelumnya diproyeksikan sekitar 4,5 persen pada 2025 diperkirakan meningkat menjadi 7,2 persen pada 2026 dan 8,4 persen pada 2027.

Kenaikan ini dipicu oleh terbatasnya kapasitas impor akibat tekanan cadangan devisa, ketergantungan pada barang impor seperti bahan bakar, obat-obatan, dan bahan baku industri, serta gangguan rantai pasok.

Kondisi tersebut diperkirakan akan menekan daya beli masyarakat, meningkatkan biaya produksi, serta memperlambat pertumbuhan konsumsi domestik.

 

Prospek Pertumbuhan Tetap Lemah

Sejumlah petugas keamanan dilaporkan siaga di sejumlah titik penting, termasuk hotel tempat delegasi menginap. Tampak dalam foto, petugas polisi berjaga di pos pemeriksaan yang dibarikade menjelang putaran kedua negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran, di Islamabad, Pakistan, Selasa 21 April 2026. (AP Photo/Anjum Naveed)

Dengan pertumbuhan ekonomi yang masih stagnan di sekitar 3 persen, Pakistan diperkirakan menghadapi periode pemulihan yang lambat. Proyeksi menunjukkan ekspor hanya tumbuh sekitar 2,3 persen pada 2026, sementara indikator lain seperti investasi, produksi industri, dan penciptaan lapangan kerja diperkirakan masih berada dalam tekanan.

Di luar dampak konflik, sejumlah tantangan struktural seperti basis pajak yang sempit, ketergantungan utang, inefisiensi energi, dan ketidakstabilan politik disebut tetap menjadi faktor utama yang memperlemah ketahanan ekonomi Pakistan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya