Jaga Rupiah, Purbaya Mau Borong SBN di Pasar Sekunder

Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa akan mengaktifkan bond stabilization fund untuk menjaga stabilitas rupiah dan pasar obligasi.

oleh Arief Rahman HDiterbitkan 07 Mei 2026, 12:20 WIB
Petugas menata tumpukan uang kertas rupiah di Cash Center Bank BNI di Jakarta (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa berencana mengaktifkan kembali dana stabilisasi obligasi atau bond stabilization fund sebagai langkah menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan pasar surat utang negara.

Dana tersebut disiapkan untuk membeli kembali Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder ketika investor melepas kepemilikannya. Strategi ini diharapkan dapat menjaga imbal hasil (yield) obligasi pemerintah tetap stabil sekaligus mengurangi tekanan terhadap rupiah.

“Di pemerintah, saya punya bond stabilization fund sendiri yang ada beberapa pihak. Kita juga bisa mencukupi dengan dana sendiri untuk sementara,” kata Purbaya dikutip Kamis (7/5/2026).

Menurut dia, skema dana stabilisasi obligasi sebenarnya sudah dimiliki Kementerian Keuangan sejak lama. Namun, fasilitas tersebut selama ini tidak aktif karena belum pernah digunakan.

“Bukan hal yang baru, tapi nggak pernah dijalani. Artinya, ada, tapi mati. Saya mau hidupkan saja,” ujarnya.

Purbaya menjelaskan, langkah buyback SBN dilakukan agar investor asing yang memegang surat utang pemerintah tidak mengalami kerugian modal atau capital loss akibat kenaikan yield yang terlalu tinggi.

Meski memiliki tujuan serupa menjaga stabilitas pasar keuangan, dana stabilisasi obligasi versi Kementerian Keuangan disebut memiliki kerangka berbeda dibanding Bond Stabilization Framework (BSF) milik Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK).

 

Yield Obligasi Naik, Pemerintah Siap Koordinasi dengan BI

Petugas menata tumpukan uang kertas di Cash Center Bank BNI di Jakarta, Kamis (6/7). Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada sesi I perdagangan hari ini masih tumbang di kisaran level Rp13.380/USD. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Purbaya mengatakan rencana pengaktifan kembali dana stabilisasi obligasi akan mulai dilakukan pada Kamis, 7 Mei 2026.

Langkah tersebut disiapkan meski imbal hasil surat utang negara saat ini masih berada di sekitar asumsi makro APBN 2026 sebesar 6,7 persen.

Menurutnya, kenaikan yield SBN terjadi cukup cepat dalam beberapa bulan terakhir.

“Dalam beberapa bulan terakhir, dari Januari, yield-nya naik kencang. Waktu saya injeksi uang (ke perbankan), (imbal hasil) sempat 5,9 persen. (Tapi) naik terus dari 6,1 persen, sekarang 6,7 persen,” jelas Purbaya.

Terkait sumber pendanaan, Menkeu mengatakan anggaran dapat berasal dari berbagai pos keuangan pemerintah, meski belum merinci sumber spesifik yang akan digunakan.

Ia juga belum membeberkan besaran maupun skema buyback obligasi yang akan dilakukan pemerintah dalam waktu dekat.

Namun demikian, Purbaya memastikan pihaknya akan terus berkoordinasi dengan Bank Indonesia (BI) dalam menjaga stabilitas pasar keuangan dan nilai tukar rupiah.

“Saya akan coba bantu rupiah dengan cara saya sendiri,” tuturnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya