Tambah 5 Juta SID, Investor Domestik Jadi Penopang Pasar

Tekanan global telah memicu arus dana keluar (capital outflow) dari pasar modal Indonesia.

oleh Tira SantiaDiterbitkan 06 Mei 2026, 14:24 WIB
Karyawan melintasi layar pergerakan IHSG, Jakarta, Rabu (3/8/2022). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan di Bursa Efek Indonesia, Rabu (3/08/2022), ditutup di level 7046,63. IHSG menguat 58,47 poin atau 0,0084 persen dari penutupan perdagangan sehari sebelumnya. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Pasar modal Indonesia tengah menghadapi tekanan global yang memicu arus dana keluar (capital outflow). Namun di tengah gejolak tersebut, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melihat adanya kekuatan baru yang menjadi penopang stabilitas, yakni lonjakan signifikan jumlah investor domestik.

Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, mengungkapkan bahwa dalam satu tahun terakhir jumlah investor pasar modal meningkat pesat hingga sekitar 5 juta single investor identification (SID).

"Kalau melihat angka jumlah investor di pasar modal kita dalam satu tahun naik sekitar 5 juta SID," kata Friderica dalam Keterangan Pers KSSKi di Istana Merdeka, ditulis Rabu (6/5/2026).

Perempuan yang akrab disapa Kiki ini menjelaskan, peningkatan jumlah investor domestik merupakan bagian dari strategi pendalaman pasar yang terus didorong OJK. Dengan basis investor lokal yang semakin besar, pasar modal Indonesia diharapkan tidak terlalu bergantung pada aliran dana asing.

Menurutnya, dominasi investor domestik dapat membantu meredam volatilitas ketika terjadi tekanan global, seperti kebijakan suku bunga tinggi yang lebih lama (higher for longer) dari bank sentral Amerika Serikat. Kondisi tersebut selama ini menjadi salah satu pemicu utama outflow di berbagai negara berkembang, termasuk Indonesia.

"Jadi, kita pendalaman pasar bagaimana investor domestik kita tingkatkan supaya kalau terjadi gonjangan di luar tetap lebih stabil untuk market kita," ujarnya.

 

Reformasi Pasar Dorong Kepercayaan Investor

IHSG melemah sejak awal perdagangan yang dibuka pada level 8.027,82. Berdasarkan data RTI, Kamis (29/1/2026), IHSG sore turun 88,354 poin atau setara 1,06 persen ke posisi 8.232,201. Tampak dalam foto, papan elektronik menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (29/1/2026). (YASUYOSHI CHIBA/AFP)

Selain memperkuat basis investor, OJK juga terus melakukan berbagai reformasi untuk meningkatkan transparansi dan kualitas pasar modal. Beberapa langkah yang telah dilakukan antara lain membuka data kepemilikan saham hingga level 1%, meningkatkan granularitas klasifikasi investor dari 9 menjadi 39 kategori, serta mengungkap ultimate beneficial owner.

Tak hanya itu, OJK juga mendorong peningkatan likuiditas melalui kebijakan free float saham di atas 15% secara bertahap. Upaya ini ditujukan untuk menjawab berbagai kekhawatiran investor global terkait transparansi dan kedalaman pasar di Indonesia.

"Kemudian ultimate beneficial owner juga sudah kita sampaikan. Dan juga satu lagi terkait likuiditas yaitu untuk free float di atas 15% dengan stages yang kita sampaikan," ujarnya.

 

Gejolak Jangka Pendek

Pengunjung tengah melintasi layar pergerakan saham di BEI, Jakarta, Senin (13/2). Pembukaan perdagangan bursa hari ini, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat menguat 0,57% atau 30,45 poin ke level 5.402,44. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

OJK mengakui bahwa berbagai penyesuaian kebijakan dan dinamika global dapat menimbulkan dampak jangka pendek di pasar, termasuk potensi volatilitas akibat rebalancing indeks global. Namun, hal ini dinilai sebagai konsekuensi dari proses perbaikan yang sedang berjalan.

Kiki menegaskan bahwa pergerakan pasar saham saat ini mulai lebih mencerminkan fundamental, terlihat dari pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) yang semakin sejalan dengan indeks utama seperti LQ45 dan IDX30.

"Kalau kita lihat nanti mungkin sebelumnya saya sampaikan saat ini kalau teman-teman memperhatikan indeks harga saham gabungan pergerakannya sudah inline dengan indeks-indeks utama seperti LQ45, IDX30 dan sebagainya," pungkasnya.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya