Checklist Amalan sebelum Haji bagi Pemula, Jangan sampai Terlewat agar Mabrur

Checklist amalan sebelum haji bagi pemula penting dilakukan untuk memastikan yang wajib maupun sunnah dilaksanakan, demi meraih derajat mabrur

oleh Nanik RatnawatiDiterbitkan 07 Mei 2026, 07:00 WIB
Ilustrasi haji, Ka'bah, Islami, muslim. (Photo by Ömer F. Arslan on Unsplash)

Liputan6.com, Jakarta - Menunaikan ibadah haji adalah perjalanan suci yang menjadi dambaan setiap Muslim. Lebih dari sekadar perjalanan fisik, haji adalah momentum spiritual yang menuntut kesiapan lahir dan batin. Untuk itu, umat Islam perlu memahami checklist amalan sebelum haji bagi pemula.

Sebab, tidak sedikit calon jemaah pemula mengabaikan amalan-amalan penting sebelum keberangkatan. Padahal, fase persiapan ini, dalam tradisi fikih dan tasawuf, justru menjadi fondasi. Perjalanan menuju Baitullah dimaknai tidak hanya sah secara syariat, tetapi juga bermakna secara batin

Bagi mereka yang pertama kali melangkah ke Tanah Suci, persiapan matang secara fisik, mental, spiritual, dan administratif menjadi kunci untuk meraih haji yang mabrur.

Merujuk Buku Manasik Haji dan Umroh Rasulullah SAW dan Tuntunan Manasik Haji dan Umrah, serta ebook doa dan dzikir Manasik Haji, berikut ini adalah amalan-amalan sebelum haji bagi pemula. Simak selengkapnya.

1. Tobat: Fondasi Spiritual Perjalanan Haji

Persiapan spiritual adalah fondasi utama yang akan menentukan kualitas ibadah haji. Tanpa bekal hati yang bersih dan niat yang lurus, seluruh rangkaian ibadah berisiko kehilangan ruhnya. Rasulullah SAW mengingatkan bahwa amalan tergantung niatnya. Oleh karena itu, calon jemaah harus menata hati dan jiwa sebelum melangkahkan kaki.

Amalan pertama dan paling fundamental yang ditekankan para ulama adalah tobat. Ini bukan sekadar ucapan istighfar di bibir, tetapi proses penyucian diri yang mencakup beberapa dimensi penting.

Langkah Praktis:

  • Bertobat dengan sungguh-sungguh (taubat nasuha) dengan menyesali segala dosa dan maksiat yang pernah dilakukan, serta bertekad kuat untuk tidak mengulanginya.
  • Melunasi seluruh utang kepada sesama manusia. Pengembalian hak dan pemenuhan kewajiban finansial ini menjadi syarat mutlak agar hati menjadi lapang dan ibadah tidak terganggu oleh beban pikiran.
  • Mengembalikan semua hak orang lain yang pernah diambil, termasuk barang pinjaman dan amanat yang belum diselesaikan.
  • Menyelesaikan janji atau hak yang mengikat dengan orang lain, seperti menepati janji yang belum terpenuhi.
  • Meminta maaf secara tulus kepada orang-orang yang pernah dizalimi, baik melalui ucapan maupun perbuatan. Sebagaimana Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menyebut tobat sebagai “pintu pertama menuju penyucian jiwa.”

Wahbah az-Zuhaili dalam Fiqih Islam wa Adillatuhu menegaskan bahwa seseorang yang hendak melakukan perjalanan jauh, terutama haji, wajib: mengembalikan hak orang lain, melunasi utang, dan meminta maaf kepada sesama. Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin juga menekankan pentingnya tobat sebagai langkah awal persiapan spiritual sebelum berhaji.

Tobat memiliki dimensi sosial. Ia memastikan seseorang tidak membawa beban moral dalam perjalanan ibadahnya. Sebab, haji bukan hanya perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan etika.

2. Meluruskan Niat Hanya karena Allah

Haji adalah puncak dari seluruh rukun Islam, sehingga niat yang tulus dan ikhlas menjadi penentu diterimanya ibadah. Dalam Buku Tuntunan Manasik Haji dan Umrah, Kementerian Haji dan Umrah RI dengan tegas menyebutkan bahwa niat haji harus dilandasi keikhlasan dan dimurnikan hanya untuk mencari ridha Allah SWT, bukan untuk tujuan duniawi seperti popularitas (riya’) atau sebutan sosial (gelar haji).

Dalam Fiqih Sunnah, Sayyid Sabiq menjelaskan bahwa tobat dan istighfar adalah persiapan ruhaniah yang paling utama sebelum haji, yang membersihkan hati dari segala kotoran dosa dan menguatkan niat. Persiapan mental juga melibatkan meningkatkan ketakwaan serta mengelola stres dan kecemasan.

3. Memperbanyak Istighfar, Doa, dan Zikir

Sebelum memasuki fase keberangkatan, calon jamaah dianjurkan untuk mulai membiasakan lisan dan hatinya dengan dzikir. Amalan ini membantu menjaga “getaran spiritual” sepanjang perjalanan panjang.

Perjalanan haji bukan hanya perjalanan fisik, tapi juga perjalanan jiwa. Maka, mendekatlah kepada Allah dengan dzikir, doa, dan memperbanyak istighfar.

4. Shalat Sunnah Safar 2 Rakaat

Amalan ini menjadi simbol penyerahan diri sebelum perjalanan panjang. Dalam Buku Tuntunan Manasik Haji dan Umrah, Kementerian Haji dan Umrah RI menjelaskan bahwa shalat safar dianjurkan sebagai bentuk permohonan keselamatan dan perlindungan selama perjalanan.

Niat Shalat Sunnah Safar:

أُصَلِّي سُنَّةَ السَّفَرِ رَكْعَتَيْنِ لِلَّهِ تَعَالَى

Ushalli sunnatas safari rak'ataini lillahi ta'ala.

Artinya: “Aku niat shalat sunnah safar dua rakaat karena Allah Ta’ala.”

Tata Cara Pelaksanaan:

  • Dikerjakan dua rakaat, sebagaimana shalat sunnah pada umumnya.
  • Rakaat pertama: setelah Al-Fatihah, dianjurkan membaca Surah Al-Kafirun.
  • Rakaat kedua: setelah Al-Fatihah, dianjurkan membaca Surah Al-Ikhlas.
  • Setelah salam, disunahkan membaca doa safar dan ayat Kursi.

Dalam Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzdzab, Imam An-Nawawi (w. 676 H) menjelaskan bahwa shalat dua rakaat sebelum bepergian adalah sunnah yang sangat dianjurkan (mustahab), memiliki makna psikologis: menenangkan hati, menata niat, dan memohon perlindungan.

Hadis riwayat Abu Hurairah RA menegaskan bahwa dua rakaat shalat sebelum keluar rumah dapat menjaga seseorang dari keburukan. Selain itu, Sayyid Sabiq dalam Fikih Sunnah menyebut shalat sunnah sebelum safar termasuk amalan yang dianjurkan karena mengandung nilai tawakal dan penguatan niat.

5. Belajar Manasik Haji (Teori & Praktik)

Sebagai pemula, salah satu sumber kecemasan terbesar adalah ketidaktahuan tentang tata cara (manasik) haji. Bekali diri dengan ilmu yang cukup agar tidak ragu saat pelaksanaan.

  • Mengikuti Bimbingan Manasik Haji: Ikuti seluruh rangkaian bimbingan yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama atau Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH).
  • Mempelajari Rukun & Wajib Haji: Pahami perbedaan antara rukun (yang tidak bisa ditinggalkan) dan wajib (yang bisa diganti dengan dam jika tertinggal). Pahami poin-poin penting seperti tata cara tawaf, sa'i, dan wukuf dari sumber yang kredibel.
  • Mempraktikkan Simulasi: Lakukan praktik langsung mandi sunah, memakai kain ihram, dan membaca niat di rumah. Hal ini sangat membantu menghilangkan rasa kaku saat pelaksanaan di Tanah Suci.

6. Menjaga Kekhusyukan dengan Lisan dan Hati

Memperbanyak Membaca Talbiyah, Takbir, Tahlil, dan Tahmid: Mulai biasakan kalimat talbiyah sehari sebelum keberangkatan.

Menjaga lisan dari perkataan sia-sia (rafats), perdebatan (jidal), dan kemaksiatan (fusuq) sebagai latihan mental di tanah air.

7. Persiapan Kebugaran dan Kesehatan

Ibadah haji membutuhkan tenaga yang tidak sedikit. Menjaga kebugaran tubuh adalah investasi yang sangat penting.

  • Menjaga Pola Makan Sehat: Konsumsi makanan bergizi seimbang, kurangi makanan berminyak dan pedas yang dapat memicu gangguan lambung.
  • Latihan Fisik Rutin: Lakukan olahraga ringan secara konsisten seperti jalan cepat minimal 30 menit per hari atau naik turun tangga untuk melatih otot kaki. Latihan ini sangat penting untuk mensimulasikan aktivitas tawaf dan sa’i yang akan banyak menghabiskan energi di Tanah Suci.
  • Cek Kesehatan Menyeluruh: Lakukan pemeriksaan kesehatan (Medical Check Up) secara lengkap. Pastikan vaksinasi wajib (seperti vaksin meningitis) sudah lengkap. Konsultasikan dengan dokter terkait riwayat penyakit yang diderita agar mendapat obat cadangan yang cukup. Istirahat yang cukup adalah bagian penting dari menjaga kondisi agar tetap prima.

8. Persiapan Administratif dan Logistik

Menyediakan Bekal dan Harta Halal: Pastikan seluruh biaya berasal dari usaha yang halal. Ini termasuk melunasi BPIH dan menyediakan uang saku (living cost).

Menyiapkan Dokumen Perjalanan: Paspor minimal berlaku 6 bulan (disarankan 7–8 bulan) dari tanggal kepulangan, visa haji (e-visa), kartu identitas (Gelang RFID), dan tiket pesawat.

Mengurus Keperluan Keluarga: Selesaikan urusan administrasi keluarga, tentukan kuasa hukum jika diperlukan, dan pastikan keluarga yang ditinggalkan mendapatkan nafkah yang cukup. Menyediakan nafkah bagi keluarga yang ditinggal merupakan bagian penting dari persiapan, sebagaimana disebutkan oleh Imam Al-Ghazali.

9. Amalan di Momen Keberangkatan

Setelah semua persiapan matang, saatnya melaksanakan amalan pada hari H. Langkah-langkah ini menandai dimulainya perjalanan spiritual secara resmi.

1. Mandi sunnah sebelum berangkat keluar rumah sebagai simbol kebersihan fisik dan spiritual.

2. Shalat Safar dua rakaat di rumah (seperti dijelaskan di bagian A.4).

3. Doa Keluar Rumah (Umum):

بِسْمِ اللهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللهِ، لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ

Latin: Bismillâhi tawakkaltu ‘alallâh, lâ haula wa lâ quwwata illâ billâh.

Artinya: “Dengan nama Allah, aku bertawakal kepada Allah. Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.”

4. Doa Naik Kendaraan (Pesawat/Mobil):

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ، سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ، وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُونَ

Latin: Bismillâhir-rahmânir-rahîm. Subhânalladzî sakhkhara lanâ hâdzâ wa mâ kunnâ lahû muqrinîn. Wa innâ ilâ rabbinâ lamunqalibûn.

Artinya: “Dengan menyebut nama Allah. Mahasuci Allah yang telah menundukkan kendaraan ini bagi kami, padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya. Dan sesungguhnya kepada Tuhan kami, kami akan kembali.”* (QS. Az-Zukhruf: 13-14).

Hikmah Menjaga Amalan Sunnah Sebelum Keberangkatan

Menjaga konsistensi amalan sunnah sebelum berangkat memberikan setidaknya lima hikmah besar:

  • Membersihkan Hati dan Jiwa: Proses tobat dan istighfar melatih jiwa untuk menjadi lebih bersih, rendah hati, dan siap menerima limpahan rahmat Allah di Tanah Suci.
  • Mendapatkan Perlindungan dan Kemudahan: Melalui doa dan shalat safar, seorang hamba secara simbolis “menitipkan” dirinya kepada Allah, sehingga perjalanan dilindungi dan dimudahkan.
  • Menguatkan Fondasi Spiritual (Tawakal): Shalat safar mengajarkan bahwa setelah berikhtiar maksimal, seseorang harus berserah diri sepenuhnya (tawakal) kepada Allah, melepaskan kekhawatiran akan hal-hal di luar kendali.
  • Melatih Kedisiplinan dan Kesiapan Mental: Membiasakan diri dengan waktu-waktu shalat dan dzikir membangun mental yang lebih tenang dan siap menghadapi berbagai situasi di Tanah Suci.
  • Meraih Pahala Berlipat Ganda: Shalat sunnah yang dilakukan dengan ikhlas menambah bekal pahala yang sangat dibutuhkan di hari akhir.

People also Ask:

Apa saja yang harus dilakukan sebelum berangkat haji?

Sebelum berangkat haji, jamaah melakukan persiapan intensif: manasik haji (pembekalan ilmu), pemeriksaan kesehatan rutin dan olahraga, mengurus dokumen (paspor, visa, kartu kuning), walimatus safar (pamitan), dan melaksanakan salat sunnah safar. Di asrama haji, dilakukan karantina dan pengecekan akhir sebelum terbang.

Apa saja yang terjadi dalam 10 hari sebelum ibadah Haji?

“Alasan paling nyata mengapa sepuluh hari di bulan Dzul Hijjah diistimewakan adalah karena terkumpulnya amalan-amalan ibadah terbesar pada periode ini - salat, siyam (puasa), sedekah (amal), dan haji (ziarah) .”

Apa saja 7 wajib haji?

Wajib haji adalah rangkaian amalan yang harus dilakukan, namun jika terlewat (karena uzur) atau tidak dikerjakan, haji tetap sah dengan membayar dam (denda). Tujuh wajib haji meliputi: 1) Ihram dari miqat, 2) Mabit di Muzdalifah, 3) Mabit di Mina, 4) Melontar Jumrah Aqabah, 5) Melontar 3 Jumrah (Ula, Wusta, Aqabah) di hari Tasyrik, 6) Menjauhi larangan ihram, 7) Tawaf Wada'.

Amalan apa agar cepat naik haji?

Amalan agar cepat naik haji meliputi kombinasi doa dan tindakan nyata: rutin membaca Al-Qur'an dan doa khusus (seperti surat Al-Hajj: 27), memperbanyak sedekah, istigfar, shalat sunnah (Tahajud/Dhuha), serta berbakti kepada orang tua. Usaha fisik meliputi menabung (bisa melalui Investasi Sukuk) dan mendaftar haji segera.

Apa 4 syarat wajib haji?

Syarat Wajib Haji

Baligh – Anak-anak belum diwajibkan meski sah jika melaksanakannya. Berakal Sehat – Orang dengan gangguan jiwa tidak terkena kewajiban. Merdeka – Haji tidak wajib bagi budak. Mampu – Harus mampu secara fisik dan finansial.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya