8 Macan Tutul Jawa Teridentifikasi di TN Bromo Tengger Semeru, Jaga Keseimbangan Ekosistem Hutan

Survei tahap pertama jaga keseimbangan ekosistem hutan, di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, sedikitnya 8 individu macan tutul Jawa teridentifikasi.

oleh Devira PrastiwiDiterbitkan 05 Mei 2026, 20:30 WIB
8 individu macan tutul Jawa teridentifikasi di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. (Kemenhut)

Liputan6.com, Jakarta - Komitmen dukung keberadaan macan tutul Jawa untuk terciptanya keseimbangan ekosistem hutan dilakukan oleh PT Bank Central Asia Tbk (BCA) di bawah payung Bakti BCA.

"Terlebih, di Hari Macan Tutul Internasional, keberadaan salah satu spesies endemik pulau Jawa ini semakin berkurang dan dapat mempengaruhi stabilitas rantai kehidupan di hutan," ujar EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn, Selasa (5/5/2026).

Dia menyebut, Bakti BCA bersama Kementerian Kehutanan (Kemenhut), Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BBTNBTS), dan Yayasan SINTAS Indonesia menjalankan Java Wide Leopard Survey (JWLS) di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru sebagai dukungan terhadap penyusunan Strategi dan Rencana Aksi Konservasi (SRAK) macan tutul Jawa (Panthera pardus melas).

"Sejak 2024, kontribusi ini memperkuat upaya pengelolaan konservasi berbasis data, sekaligus mendukung pemerintah dalam usaha pelestarian macan tutul Jawa di Indonesia," kata Hera.

Hera merinci, hingga Juli 2025, survei tahap pertama di TNBTS berhasil mengidentifikasi sedikitnya delapan individu macan tutul Jawa, terdiri dari satu jantan, enam betina, dan satu anakan.

Sementara itu, kata dia, survei tahap kedua masih berlangsung pada 2026 untuk melengkapi gambaran populasi secara menyeluruh.

"Program ini juga telah melatih 84 peserta untuk teknik survei menggunakan kamera pengintai dan 16 peserta untuk teknik manajemen dan analisis data kamera pengintai dari berbagai lembaga, termasuk Unit Pelaksana Teknis Ditjen KSDAE dan BBKSDA Jawa Timur, dalam teknik survei menggunakan kamera pengintai," jelas Hera.

 

Habitat Macan Tutul Jawa Alami Perubahan Bentang Alam

8 individu macan tutul Jawa teridentifikasi di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. (Kemenhut)

Kemudian, Direktur Yayasan SINTAS Indonesia Hariyo T. Wibisono mengungkapkan, habitat macan tutul Jawa telah mengalami perubahan bentang alam akibat ekspansi aktivitas manusia dalam beberapa dekade terakhir.

"Dalam kondisi ini, macan tutul Jawa kerap terdorong keluar dari habitat alaminya, bahkan mendekati pemukiman warga," ucap dia.

Menurut Hariyo, kebutuhan dasar macan tutul Jawa sesungguhnya sederhana, antara lain habitat yang aman, cukup luas untuk wilayah jelajahnya, serta tetap terhubung antar kawasan.

Dalam kondisi Pulau Jawa seperti saat ini, lanjut dia, memahami satwa liar bukan lagi sekadar pengetahuan, tapi sudah kebutuhan.

"Hutan adalah rumah mereka, dan kehadiran manusia di sekitarnya pasti membawa dampak. Selama kita tidak mengganggu atau memprovokasi, satwa seperti macan tutul Jawa juga tidak akan menyerang. Maka, jika berbagi ruang semakin sulit, berbagi waktu adalah solusi yang paling realistis untuk tetap hidup berdampingan," kata Hariyo.

Dia menambahkan, keterbatasan data menjadi tantangan lain yang tak kalah penting. Tanpa informasi yang akurat mengenai jumlah individu, struktur populasi, dan konektivitas habitat, upaya konservasi berisiko tidak tepat sasaran.

"Oleh karenanya, dukungan BCA dalam proses pendataan populasi pun menjadi penting sebagai dasar perencanaan konservasi jangka panjang," ucap Hariyo.

 

Hidup Berdampingan

Hariyo menyebut, di tingkat tapak, masyarakat yang hidup berdampingan dengan hutan justru menyimpan pemahaman yang kuat tentang keseimbangan ini. Randi, warga Ranu Pani, melihat keberadaan macan tutul dari perspektif yang realistis sekaligus reflektif.

"Macan tutul itu satwa liar, jadi nalurinya memang begitu, apalagi kalau dekat ternak warga. Tapi kami juga paham, mereka turun ke dekat kampung pasti ada sebabnya. Bisa jadi ekosistemnya sudah terganggu," kata dia.

Ia menekankan, solusi utama bukanlah mengusir, melainkan menjaga habitatnya.

"Kalau tempatnya aman, mereka tidak akan turun ke warga. Jadi sebenarnya bukan soal mengusir, tapi bagaimana kita sama-sama menjaga supaya manusia dan macan tutul bisa tetap hidup berdampingan," terang Hariyo.

Hal senada disampaikan Petugas Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru Tuangkat. Dalam kearifan lokal, kata dia, macan tutul bukanlah ancaman semata, melainkan bagian dari sistem kehidupan yang harus dihormati.

"Macan tutul itu bukan untuk dilawan, tapi dijaga keberadaannya. Kami percaya, kalau hutan tetap lestari, mereka tidak akan turun ke pemukiman. Kuncinya sederhana yakni jaga hutannya, hormati alamnya. Dengan begitu, manusia dan macan tutul bisa hidup berdampingan, seperti yang sudah diajarkan oleh leluhur kami sejak dulu," tutur dia.

"Di tengah tekanan yang terus meningkat terhadap ekosistem pulau Jawa, pesan yang muncul justru sederhana namun mendasar: konservasi bukan hanya tentang menyelamatkan satu spesies, tetapi tentang menjaga relasi antara manusia dan alam," jelas Tuangkat.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya