Liputan6.com, Jakarta - Jeda yang dilakukan salah satu pembeli bitcoin (BTC) paling agresif yakni Strategy Inc menimbulkan pertanyaan di pasar kripto. Hal ini mengingat Strategy Inc cukup aktif beli bitcoin terutama pada bulan lalu.
Mengutip Yahoo Finance, ditulis Selasa (5/5/2026), selama berbulan-bulan, investor telah terbiasa dengan ritme yang dapat diprediksi yakni sinyal, beli dan ulangi. Konsistensi itu menjadikan Strategy, perusahaan milik Michal Saylor sebagai indikator permintaan bitcoin oleh institusi. Setiap pembelian dipantau secara cermat sebagai peristiwa yang menggerakkan pasar.
Advertisement
Jadi, ketika jeda pembelian itu terjadi pekan lalu, perhatian dengan cepat beralih dari bitcoin ke hal lain mengenai waktu, struktur, dan aturan yang mengatur perusahaan perusahaan publik.
Strategy telah membangun salah satu strategi akumulasi bitcoin paling agresif di pasar keuangan sehingga menjadikan pemegang bitcoin terbesar untuk korporasi. Strategy memiliki 818.334 BTC dengan rata-rata pembelian USD 75.537 atau Rp 1,31 miliar (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 17.390).
Seiring waktu ada 100 aksi beli yang dilakukan Strategy sehingga memperkuat posisi sebagai pembeli institusi yang dominan. Bahkan dalam beberapa minggu terakhir, kecepatan aksi tetap agresif. Strategy membeli 34.164 BTC senilai USD 2,54 miliar atau Rp 44,17 triliun pada April. Kemudian berlanjut pembelian sebanyak 3.273 BTC sekitar USD 255 juta atau Rp 4,43 triliun. Namun, 3 Mei 2026, pol aitu berubah.
“Tidak ada pembelian (pekan lalu-red). Kembali bekerja,” tulis Saylor di platform X, dahulu bernama Twitter.
Hal ini menandai jeda dalam siklus akumulasi mingguan perusahaan yang dipantau ketat.
Meskipun beberapa orang awalnya melihat jeda tersebut sebagai perubahan sentimen, penjelasannya jauh lebih struktural.
Alasan sebenarnya: kepatuhan.Perusahaan publik biasanya dibatasi untuk membuat keputusan perdagangan besar sebelum rilis pendapatan karena aturan seputar informasi nonpublik material (MNPI).
Hindari Transaksi Besar
Regulasi ini dirancang untuk mencegah perusahaan bertindak berdasarkan informasi yang belum diungkapkan ke pasar.
Dalam praktiknya, ini berarti menghindari pergerakan alokasi modal besar, termasuk pembelian Bitcoin, ketika hasil keuangan, metrik internal, atau panduan ke depan dapat memengaruhi pengambilan keputusan.
Strategi ini telah mengikuti pola serupa sebelumnya. Awal tahun ini, perusahaan menghentikan sebagian aktivitas modalnya, beberapa hari sebelum rilis laporan keuangan kuartal keempatnya, menurut pengamat pasar yang melacak siklus pendanaannya.
Perusahaan menghindari transaksi besar ketika mereka memiliki informasi yang belum dimiliki pasar.
Jika perusahaan membeli Bitcoin sementara sudah mengetahui laporan keuangan yang akan datang, hal itu dapat tampak seolah-olah mereka bertindak berdasarkan informasi yang belum tersedia untuk publik, sehingga menimbulkan potensi masalah regulasi.
Meskipun tidak ada niat untuk melakukan kesalahan, waktu seperti itu dapat menimbulkan pertanyaan, dan justru itulah yang ingin dihindari oleh aturan MNPI.
Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.