Laporan Liputan6.com dari Turki: Cerita Aktivis Indonesia Lolos dari Penculikan Israel dalam Misi Kemanusiaan ke Gaza

Bukan tanpa antisipasi, namun lokasi di mana Israel menjalankan aksinya di luar prediksi para aktivis.

oleh Nanda Farikh IbrahimDiterbitkan 04 Mei 2026, 18:49 WIB
Maimon Herawati dan Thiago Avila saat berada di kapal Saf-Saf selama pelayaran menuju Jalur Gaza sebelum insiden pencegatan dan penculikan oleh pasukan zionis Israel. (Dok. Instagram/@MaimonHerawati1)

Liputan6.com, Ankara - Salah satu aktivis Global Sumud Flotilla (GSF) asal Indonesia, Maimon Herawati, mengungkapkan bagaimana dirinya lolos dari insiden pencegatan dan penculikan yang dilakukan tentara Israel terhadap kapal dengan misi kemanusiaan.

Maimon, yang juga merupakan steering committee GSF, menjelaskan bahwa sejak awal ia dan tim sudah memahami risiko tinggi yang dihadapi, terutama bagi kapal utama yang rentan menjadi target pertama dalam operasi intersepsi.

"Jadi, kami itu naik kapal pertama, kapal induk, kapal Saf-Saf namanya. Kami sudah tahu kalau terjadi apa-apa, kapal inilah yang pertama diintersep," ujar Maimon di Marmaris, Turki, kepada jurnalis Liputan6.com.

Ia menuturkan, perjalanan awal dilakukan dari Barcelona menuju Italia menggunakan kapal Saf-Saf, lalu berlanjut sampai Turki. Namun, rencana berubah ketika ia memutuskan turun di Italia untuk mempercepat koordinasi kedatangan delegasi Indonesia di Turki.

"Begitu sampai di Italia, seharusnya kami lanjut ke Turki dengan kapal Saf-Saf seperti Tiago Avila. Tapi karena harus mengurusi kedatangan tim Indonesia, kami turun dan naik pesawat. Jadi, kadarullah menghindarkan kami dari intercept dan penculikan itu," katanya.

Menurut Maimon, pencegatan yang dilakukan Israel terjadi di luar perkiraan tim. Berdasarkan analisis sebelumnya, intersepsi diperkirakan terjadi saat kapal sudah mendekati wilayah Gaza.

"Kami memperkirakan intercept itu sekitar 170 nautical mile dari Gaza atau masih lima hari perjalanan lagi. Jadi, ini benar-benar out of the blue, kami semua kaget," ungkapnya.

Tim GSF, sebut Maimon, tidak menyangka Israel akan melakukan pengejaran hingga sejauh itu di laut internasional.

"Mereka sudah sampai sejauh itu untuk mencoba mengejar dan menculik teman-teman," lanjutnya.

 

2 Aktivis Masih Ditahan Israel

Terkait dua aktivis GSF yang masih ditahan, yakni Tiago dan Saif Abukeshek, Maimon menyebut keduanya kini tengah menjalani proses hukum dengan pendampingan pengacara.

"Saif dan Tiago baru saja didampingi pengacara dalam proses pengadilan. Penjajah meminta perpanjangan penahanan empat hari, tapi hakim hanya memberikan dua hari," jelasnya.

Ia juga mengungkapkan kondisi keduanya memprihatinkan.

"Menurut pengacara, di sekujur tubuh Saif dan Tiago ada bekas-bekas penyiksaan," kata Maimon.

Sementara itu, terkait kelanjutan misi pelayaran, Maimon menegaskan bahwa penundaan yang terjadi bukan disebabkan oleh insiden penculikan, melainkan faktor cuaca buruk.

"Tertundanya bukan karena penangkapan, tapi karena badai. Kapal-kapal yang tidak dibajak berlindung di perairan Yunani untuk menunggu badai berlalu," paparnya.

Ia menambahkan, para aktivis kini berkumpul di Marmaris untuk melakukan evaluasi sebelum menentukan langkah selanjutnya.

"Nanti kita akan assessment dari sisi keamanan dan politik, baru kemudian menentukan next step. Tapi persiapan tetap berjalan, termasuk pelatihan bagi peserta, ada juga enam orang dari Indonesia," terang Maimon.

Sebagaimana diketahui, GSF merupakan gerakan maritim terbesar yang dilakukan masyarakat sipil untuk menembus blokade ilegal Israel di Gaza dan mengirimkan bantuan kemanusiaan untuk Palestina.

Dalam perjalanan menuju Gaza, konvoi kapal yang mrmbawa bantuan kemanusiaan tersebut dicegat oleh Israel. Insiden terjadi di perairan Internasional dekat Yunani, pada 29 Mei 2026.

Sebanyak 22 kapal Global Sumud Flotilla terdampak serangan Israel. Sementara, 178 aktivis sempat diculik, namun sebagian besar telah dilepaskan kembali.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya