Liputan6.com, Jakarta - Danantara membocorkan nilai investasi dalam proyek pengolahan sampah menjadi energi listrik (PSEL) mencapai USD 1 miliar atau senilai Rp 17,3 triliun (kurs 17.385 per USD). Langkah pertama proyek ini terlihat dalam penandatanganan nota kesepahaman (MoU) bersama Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
CEO Danantara, Rosan Perkasa Roeslani mengatakan, nilai USD1 juta untuk setiap 1.000 ton kapasitas pengolahan. Namun, angka tersebut tidak bersifat linear jika kapasitas diperbesar.
Advertisement
“Kurang lebih ya (Rp2 triliun) itu tergantung, tapi itu per seribu ton. Itu per seribu ton, tapi kalau dua ribu ton bukan berarti dikali dua, nggak juga, nggak seperti itu. Jadi ini kalau, saya bicara 8.000 (ton) ya, kalau 8.000 ya investasinya kurang lebih 1 miliar ya. USD 1 miliar, tapi mungkin kita akan bangunnya bisa jadi lebih dari 8.000,” ungkapnya di Kemenko Pangan, Senin (4/6/2026).
Adapun listrik yang dihasilkan dari fasilitas PSEL nantinya akan dijual ke Perusahaan Listrik Negara (PLN). Rosan menyebut, tarif pembelian listrik sudah diatur melalui kebijakan pemerintah, yakni sekitar 20 sen dolar AS per kWh.
“Kan sudah ada inpresnya, itu harganya 20 sen,” ucapnya.
Ia memastikan, pemerintah mulai mempercepat rencana menjadi titik awal proyek yang ditargetkan sudah beroperasi pada awal 2028.
Pasalnya, volume sampah Jakarta yang mencapai sekitar 8.000 ton per hari sudah mendesak untuk segera ditangani dengan pendekatan yang lebih modern. Sementara itu, timbunan di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang disebut telah menyentuh sekitar 60 juta ton.
“Karena itu ini menjadi prioritas. Kami ingin segera menindaklanjuti dan masuk ke tahap pembangunan,” ujar Rosan.
3 Lokasi
Ia menjelaskan, ada tiga lokasi yang tengah dipertimbangkan untuk pembangunan fasilitas PSEL, yakni Bantar Gebang, Sunter, dan Tanjung Muara Kamal. Dari ketiga opsi tersebut, Danantara akan memilih lokasi yang paling efisien dan memungkinkan proses pembangunan berjalan cepat.
Tak hanya menangani sampah baru, proyek ini juga dirancang untuk mengurai timbunan lama di Bantar Gebang. Kapasitas fasilitas bahkan disiapkan bisa melampaui volume harian saat ini.
“Kalau kebutuhannya 8.000 ton per hari, bisa saja kita bangun 10.000 sampai 12.000 ton. Tujuannya supaya sampah lama juga bisa ikut terolah,” katanya.