WHO Selidiki Dugaan Wabah Hantavirus di Kapal Pesiar Atlantik, Penumpang Belum Diizinkan Turun

Kapal pesiar terkait kini tidak sedang berlayar bebas, melainkan tertahan di perairan dekat Cape Verde sambil menunggu penanganan lebih lanjut.

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 04 Mei 2026, 11:35 WIB
Ilustrasi kapal pesiar. (dok. Unsplash.com/Yolanda Sun)

Liputan6.com, Pretoria - Tiga orang tewas dan sedikitnya tiga lainnya jatuh sakit akibat dugaan wabah hantavirus di sebuah kapal pesiar di Samudra Atlantik. Demikian menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Kementerian Kesehatan Afrika Selatan pada Minggu (3/5/2026).

Dalam pernyataannya kepada The Associated Press, WHO mengatakan bahwa penyelidikan sedang berlangsung, namun setidaknya satu kasus hantavirus telah dikonfirmasi. Salah satu pasien dirawat di unit perawatan intensif di sebuah rumah sakit di Afrika Selatan, kata badan kesehatan PBB tersebut, seraya menambahkan bahwa pihaknya bekerja sama dengan otoritas setempat untuk mengevakuasi dua orang lainnya yang menunjukkan gejala dari kapal.

Perusahaan Belanda yang mengoperasikan kapal pesiar tersebut mengatakan bahwa kapal kini berada di lepas pantai Cape Verde, sebuah negara kepulauan di lepas pantai barat Afrika dan otoritas setempat telah memberikan bantuan, namun belum mengizinkan siapa pun untuk turun dari kapal. Perusahaan itu menyebutkan bahwa dua orang yang sakit di atas kapal dan membutuhkan perawatan medis mendesak adalah anggota kru.

Hantavirus, yang ditemukan di seluruh dunia, merupakan keluarga virus yang terutama menyebar melalui kontak dengan urine atau feses hewan pengerat yang terinfeksi, seperti tikus. Penyakit ini sempat mendapat perhatian setelah istri aktor mendiang Gene Hackman, Betsy Arakawa, meninggal akibat infeksi hantavirus di New Mexico tahun lalu.

Hackman sendiri meninggal sekitar satu minggu kemudian di rumah mereka akibat penyakit jantung.

Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC), hantavirus menyebabkan dua sindrom serius, yaitu sindrom paru hantavirus yang merupakan penyakit berat yang menyerang paru-paru dan demam berdarah dengan sindrom ginjal yang merupakan penyakit berat yang memengaruhi ginjal.

Meskipun jarang, WHO menyebutkan bahwa infeksi hantavirus dapat menular antar manusia. Hingga kini belum ada pengobatan atau obat khusus, namun penanganan medis sejak dini dapat meningkatkan peluang bertahan hidup.

"WHO mengetahui dan mendukung penanganan peristiwa kesehatan masyarakat yang melibatkan sebuah kapal pesiar yang berlayar di Samudra Atlantik," kata organisasi tersebut. "Penyelidikan rinci sedang berlangsung, termasuk pengujian laboratorium lanjutan dan investigasi epidemiologi. Perawatan medis dan dukungan sedang diberikan kepada penumpang dan awak kapal. Proses pengurutan virus juga sedang dilakukan."

Kementerian Kesehatan Afrika Selatan menyatakan bahwa kapal tersebut, MV Hondius, berangkat dari Argentina sekitar tiga minggu lalu untuk pelayaran yang mencakup kunjungan ke Antartika, Kepulauan Falkland, dan beberapa pemberhentian lainnya. Kapal itu dijadwalkan berlayar menuju Kepulauan Canary di Spanyol di sisi lain Samudra Atlantik.

Menurut Kementerian Kesehatan Afrika Selatan, korban pertama adalah seorang pria berusia 70 tahun yang meninggal di atas kapal dan jenazahnya diturunkan di Saint Helena, wilayah seberang laut Inggris di Atlantik Selatan. Istri pria tersebut kemudian pingsan di sebuah bandara di Afrika Selatan saat hendak terbang pulang ke Belanda dan meninggal di rumah sakit terdekat.

Kementerian tersebut mengidentifikasi pasien yang dirawat di unit perawatan intensif di Johannesburg sebagai warga negara Inggris. Disebutkan bahwa pasien tersebut jatuh sakit di dekat Pulau Ascension, sebuah pulau terpencil lainnya di Atlantik, setelah kapal meninggalkan Saint Helena, lalu dipindahkan ke Afrika Selatan.

 

Masih Ada Jenazah di Kapal

Kementerian Kesehatan Afrika Selatan menyebutkan bahwa sekitar 150 wisatawan berada di atas kapal saat wabah terjadi. Beberapa operator tur daring menyebutkan bahwa Hondius, yang digambarkan sebagai kapal pesiar khusus wilayah kutub, biasanya membawa sekitar 70 awak kapal.

Oceanwide Expeditions, perusahaan yang mengoperasikan kapal tersebut, mengatakan bahwa jenazah korban ketiga masih berada di atas kapal di Cape Verde dan prioritas utama mereka adalah memastikan dua anggota kru yang sakit mendapatkan perawatan medis.

"Otoritas kesehatan setempat telah mengunjungi kapal untuk menilai kondisi dua individu yang menunjukkan gejala," ungkap perusahaan itu. "Mereka masih belum memutuskan mengenai pemindahan kedua individu tersebut ke fasilitas medis di Cape Verde."

WHO menyatakan bahwa pihaknya bekerja sama dengan otoritas nasional dan operator kapal untuk melakukan penilaian risiko kesehatan masyarakat secara menyeluruh serta memberikan dukungan bagi penumpang dan awak yang masih berada di atas kapal.

Sementara itu, Institut Nasional Penyakit Menular Afrika Selatan tengah melakukan pelacakan kontak di wilayah Johannesburg untuk mengidentifikasi apakah ada orang lain yang terpapar oleh penumpang yang terinfeksi selama berada di Afrika Selatan. 

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya