Liputan6.com, Jakarta - Perubahan preferensi konsumen mulai membentuk arah baru pasar ritel di Indonesia. Dalam beberapa tahun terakhir, brand-brand asal Asia semakin mendominasi berbagai kategori yang sebelumnya banyak diisi oleh merek Barat. Pergeseran ini mencerminkan perubahan selera konsumen yang mencari produk lebih relevan dengan gaya hidup regional, baik dari sisi desain, harga, maupun kecepatan mengikuti tren.
Fenomena ini berkaitan dengan perubahan struktur perdagangan dan kedekatan karakter pasar di kawasan Asia. Konsumen Indonesia kini semakin familiar dengan brand dari negara seperti China, Jepang, Korea Selatan, hingga Singapura yang semakin aktif masuk ke pasar domestik.
Advertisement
Selain faktor perdagangan, kesamaan karakteristik pasar juga mempermudah brand Asia menyesuaikan produknya dengan konsumen Indonesia. Brand dari kawasan ini cenderung lebih agresif melakukan riset pasar dan memodifikasi produk sesuai kebutuhan lokal, sehingga mampu bergerak lebih cepat mengikuti perubahan tren gaya hidup.
Perubahan ini juga tercermin pada strategi pelaku industri ritel. PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA) menangkap peluang tersebut dengan memperluas portofolio brand Asia melalui berbagai lini usaha di dalam grupnya.
Di sektor lifestyle, anak usaha ERAA PT Sinar Eka Selaras Tbk (ERAL) menggandeng sejumlah brand Asia seperti ANTA, ASICS, dan Gentlewoman. Sementara di sektor food and groceries melalui Erajaya Food & Nourishment (EFN), Erajaya membawa merek seperti CHAGEE dan Paris Baguette ke pasar Indonesia. Ekspansi ini menunjukkan upaya grup untuk menangkap pertumbuhan konsumsi yang semakin dipengaruhi tren Asia di berbagai kategori.
Strategi tersebut mulai tercermin pada kinerja ERAL. Berdasarkan laporan keuangan audited yang disampaikan ke Bursa Efek Indonesia, ERAL mencatat penjualan bersih sebesar Rp6,49 triliun pada tahun buku 2025, tumbuh 34,1 persen dibandingkan Rp4,84 triliun pada 2024.
Perluas Basis Bisnis
Analis Pasar Saham, Wawan Hendrayana, menilai ekspansi portofolio brand Asia yang dilakukan Erajaya merupakan langkah strategis untuk memperluas basis bisnis perusahaan.
Menurutnya, selama ini Erajaya dikenal sebagai pemain dominan dalam distribusi dan ritel smartphone. Dengan masuk ke segmen lifestyle, fashion, hingga food and beverages, perusahaan mulai membangun sumber pertumbuhan baru yang tidak sepenuhnya bergantung pada siklus industri perangkat seluler.
“Strategi ini cukup sukses mendiversifikasi bisnis Erajaya di luar lini smartphone yang selama ini mendominasi. Dengan portofolio brand yang lebih beragam, perusahaan memiliki peluang untuk menangkap pertumbuhan konsumsi di segmen lifestyle yang sedang berkembang,” ujarnya, Senin (27/4/2026).
Ia menambahkan bahwa keberhasilan ERAL mencatat pertumbuhan penjualan yang signifikan menunjukkan bahwa brand-brand yang dibawa memiliki penerimaan yang baik di pasar Indonesia. Menurutnya, karakter brand Asia yang relatif lebih adaptif terhadap tren regional memberikan keunggulan dalam menarik konsumen, khususnya generasi muda di kawasan perkotaan.
Fase Ekspansi
Meski demikian, Wawan mengingatkan bahwa fase ekspansi biasanya diikuti oleh peningkatan biaya operasional yang cukup besar, terutama untuk pembukaan gerai baru, penguatan jaringan distribusi, serta aktivitas pemasaran untuk membangun awareness brand.
“Dalam jangka pendek, pertumbuhan penjualan menjadi katalis positif. Namun setelah fase ekspansi ini, investor biasanya akan mulai melihat bagaimana perusahaan meningkatkan efisiensi operasional dan memperbaiki margin,” katanya.
Dengan tren konsumsi yang terus berkembang dan semakin terbukanya pasar terhadap brand Asia, strategi diversifikasi yang dijalankan Erajaya dinilai memiliki peluang untuk terus berkembang, sekaligus memperkuat posisi grup sebagai pemain ritel yang tidak hanya bertumpu pada satu kategori produk.