Liputan6.com, Jakarta - Dua sentimen mempengaruhi bursa saham Indonesia pada pekan ini baik dari sentimen global dan domestik. Salah satunya pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Pekan ini, IHSG turun 6,6% menjadi 7.129, investor asing juga mencatat aksi jual mencapai USD 55 juta atau Rp 948,91 miliar, berdasarkan catatan Ashmore Asset Management Indonesia.
Advertisement
Sedangkan sektor saham energi dan properti serta real estate membebani bursa saham. Sektor saham tersebut masing-masing turun 8,15% dan 6,30%. Sementara itu, sektor saham transportasi dan logistic naik 4,61%.
Pada pekan ini, Bank Indonesia (BI) juga mempertahankan suku bunga 4,75%, dan ini sesuai harapan. BI juga terus menegaskan mengenai stabilitas mata uang di tengah melemahnya kondisi global terkait konflik berkepanjangan di Timur Tengah, sambil melihat kemungkinan untuk memperketat suku bunga jika perlu.
Selain itu, pada pekan ini, penyedia indeks global yakni MSCI mengumumkan mengakui reformasi pasar modal yang dilakukan otoritas Indonesia. MSCI juga masih ingin menilai perkembangannya.
“Ini adalah langkah positif di mana fokusnya sekarang pada implementasi dan konsistensi inisiatif ini untuk meningkatkan standar pasar modal Indonesia,” demikian seperti dikutip dari riset Ashmore Asset Management Indonesia, Minggu (26/4/2026).
Selain itu, MSCI akan menggunakan data konsentrasi pemegang saham tinggi atau high shareholder concentration (HSC) yang dirilis BEI dan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), di mana saham-saham ini akan dihapus dalam tinjauan indeks berikutnya.
“Tidak ada juga indikasi klasifikasi pasar Indonesia bergerak menuju status frontier, sehingga skenario terburuk mungkin telah berlalu,” demikian seperti dikutip.
Dibayangi Rupiah
Ashmore menilai, koreksi bursa saham Indonesia juga dipengaruhi pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menyentuh 17.300 pekan ini.
Sisi lain risiko baru dalam perang di Timur Tengah yang membawa harga minyak di atas level USD 100, yang telah menurunkan selera risiko global.
“Ada potensi perbaikan struktural di pasar modal ketika reformasi terbukti efektif dan konsisten, yang dapat menarik investor global kembali ke negara ini,” demikian seperti dikutip.
Terlepas dari itu, pasar terus mengamati perkembangan dan kemungkinan pembicaraan damai antara AS dan Iran yang dapat menghasilkan hasil yang kredibel.
Pasar Global
Di sisi lain, pasar global terus didorong sejumlah berita utama dan berhati-hati pekan ini lantaran perkembangan konflik di Timur Tengah. Perpanjangan gencatan senjata memberi waktu untuk mencapai solusi mengakhiri konflik.
“Perkembangan ini sekali lagi mendorong pola serupa di mana harga minyak naik dengan minyak mentah Brent melampaui USD 105, dolar AS menguat dengan DXY bergerak menuju 99, dan selera risiko secara keseluruhan menjadi lebih defensif,” demikian seperti dikutip dari riset PT Ashmore Asset Management Indonesia.
Saat gencatan senjata sebelum berakhir, AS memperpanjang gencatan senjata dengan Iran pada 21 April 2026 untuk memberi waktu memulai kembali pembicaraan perdamaian. Namun, ini tidak diterjemahkan menjadi peningkatan arus melalui Selat Hormuz karena kapal-kapal diserang, sehingga premi risiko tetap tinggi.
“Catatan positifnya adalah AS dan Iran tampaknya bersedia untuk mencoba negosiasi lebih lanjut, tetapi kondisi keseluruhan masih dinamis di mana kedua belah pihak belum bersedia untuk berkompromi secara signifikan,” demikian seperti dikutip.
Hal ini menunjukkan kepada pasar dampak mendasar terhadap pasar global kemungkinan tetap ada, dengan ketidakpastian utama adalah durasi konflik yang sedang berlangsung.