Sekjen NATO Nilai Turki Alami Revolusi Industri Pertahanan

Menurut Sekjen NATO, negara-negara anggota dapat belajar banyak dari Turki.

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 24 April 2026, 10:00 WIB
Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte menggelar pertemuan di sela ajang World Economic Forum (WEF) pada Rabu (21/1/2026). (Dok. AP/Evan Vucci)

Liputan6.com, Ankara - Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte pada Rabu (22/4/2026) mengatakan bahwa industri pertahanan negara-negara anggota NATO dapat belajar dari Turki. Ia menilai negara tersebut telah mengalami revolusi industri pertahanan.

Pernyataan itu disampaikan saat ia berbicara di kantor pusat Aselsan, salah satu perusahaan industri pertahanan terkemuka di Turki. Rutte mengatakan ada "banyak hal" yang bisa dipelajari dari capaian negara itu, terutama karena kemajuannya yang sangat cepat dalam beberapa tahun terakhir.

Ia menegaskan bahwa peningkatan produksi industri pertahanan, yang berjalan seiring dengan inovasi, menjadi "prioritas utama" bagi NATO. Menurutnya, dua hal ini akan menjadi fokus utama dalam KTT NATO di Ankara pada Juli mendatang.

Rutte mengatakan negara-negara anggota NATO harus meningkatkan kemampuan mereka dan melakukan lebih banyak upaya. Ia menekankan bahwa peningkatan anggaran pertahanan saja tidak cukup untuk menjamin keamanan, jika tidak diikuti dengan peningkatan produksi kemampuan penting seperti sistem pertahanan udara, drone, amunisi, radar, dan teknologi luar angkasa. 

"Tentu saja, kita akan merayakan keberhasilan meningkatkan belanja pertahanan secara bersama-sama. Namun, produksi industri pertahanan akan menjadi sangat penting. Kita perlu meningkatkan kemampuan dan melakukan lebih banyak upaya, serta dapat belajar banyak dari apa yang dilakukan Turki di sini," ujarnya seperti dikutip dari laporan kantor berita Anadolu. 

Lingkungan Keamanan yang Tidak Stabil

Rutte menilai kondisi keamanan global saat ini semakin tidak stabil. Menurutnya, ancaman datang dari berbagai wilayah, "dari Arktik hingga Mediterania, dari luar angkasa hingga dasar laut," termasuk serangan rudal, drone, serta ancaman siber yang semakin canggih. 

Ia menyoroti pula perang yang masih berlangsung antara Rusia dan Ukraina, modernisasi militer dan perluasan kemampuan nuklir China, serta aktivitas Iran di kawasan sebagai sumber utama ketidakstabilan. Ia menambahkan bahwa Turki secara langsung terdampak oleh sejumlah ancaman tersebut.

Rutte menyebut NATO baru-baru ini telah mencegat rudal balistik yang menuju Turki dari Iran dalam empat kejadian terpisah. Hal ini, menurutnya, menunjukkan kesiapan aliansi dalam melindungi seluruh anggotanya.

Revolusi Pertahanan Turki

Rutte kembali menegaskan bahwa Turki telah mengalami revolusi industri pertahanan. Ia menilai Aselsan berada di garis depan perkembangan tersebut.

Ia pun mendorong perusahaan itu untuk terus meningkatkan produksi dan inovasi dengan lebih cepat.

Rutte menekankan bahwa industri pertahanan memiliki peran penting dalam menjaga keamanan bersama. Ia mengatakan bahwa melindungi "satu miliar orang di Eropa dan Amerika Utara" tidak bisa hanya mengandalkan kekuatan militer, tetapi juga membutuhkan kapasitas industri yang kuat.

Ia ikut menyoroti meningkatnya kerja sama pertahanan di dalam aliansi. Menurutnya, perusahaan-perusahaan Turki kini semakin aktif di luar negeri, baik melalui ekspor maupun operasi di beberapa negara Eropa. Ia pun menyerukan agar kerja sama terus diperkuat "dari Alaska hingga Ankara".

"Baru-baru ini, seperti yang Anda ketahui, Aselsan menjual sistem peperangan elektronik canggih ke Polandia. Anda juga telah memulai operasi di Albania dan Rumania, serta melengkapi sebuah kapal untuk Angkatan Laut Kroasia," kata Rutte.

Ia turut menyoroti peran para insinyur muda di perusahaan tersebut. Ia menyebut rata-rata usia karyawan Aselsan sekitar 33 tahun, bahkan mungkin lebih muda.

"Saya senang bisa berbicara kepada Anda, para insinyur muda yang membuat semua ini menjadi mungkin," tambahnya.

Aselsan yang berkantor pusat di Ankara didirikan pada tahun 1975. Perusahaan ini kini menjadi salah satu perusahaan pertahanan terbesar di Turki dan masuk dalam 50 besar di dunia.

Pada Januari 2026, perusahaan ini menjadi perusahaan Turki pertama yang mencapai kapitalisasi pasar sebesar USD 30 miliar. 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya