Laba PT Timah (TINS) Tembus Rp 1,31 Triliun

Kinerja TINS 2025 solid, laba PT Timah tembus Rp 1,31 triliun didorong harga timah global.

oleh Gagas Yoga PratomoDiterbitkan 23 April 2026, 11:30 WIB
Grup MIND ID PT Timah

Liputan6.com, Jakarta - PT TimahTbk (TINS) mencatatkan kinerja positif sepanjang 2025 dengan laba bersih melampaui target. Perseroan membukukan laba sebesar Rp 1,31 triliun atau mencapai 119% dari target yang ditetapkan dalam RKAP 2025.

Capaian ini didukung oleh kenaikan harga timah global serta strategi perusahaan dalam memperkuat tata kelola pertambangan.

Direktur Utama PT Timah, Restu Widiyantoro, mengatakan bahwa perusahaan terus fokus pada penguatan operasional dan efisiensi.

“Pada tahun 2025 Perseroan berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp 1,31 triliun atau mencapai 119% dari target yang telah ditetapkan dalam RKAP 2025. Perseroan fokus ke penguatan tata kelola pertimahan, optimalisasi kinerja operasi, pemasaran, dan keuangan,” ujarnya, dikutip dari keterbukaan informasi BEI, Kamis (23/4/2026).

Secara global, harga timah juga menunjukkan tren positif. Harga rata-rata timah di London Metal Exchange (LME) tercatat USD 34.119,96 per ton atau naik 13% dibandingkan tahun sebelumnya.

Dari sisi kinerja, pendapatan perusahaan mencapai Rp 11,55 triliun atau naik 6,41% dibandingkan 2024 sebesar Rp 10,86 triliun. Perseroan juga mencatat laba usaha Rp 1,91 triliun dan EBITDA sebesar Rp 2,76 triliun.

 

Tantangan Produksi dan Ekspansi Pasar

Holding Industri Pertambangan Indonesia atau MIND ID bersama PT Timah Tbk akan mengunakan teknologi terbaru dalam pengolahan komoditas timah di tahun 2023.

Di tengah kinerja keuangan yang solid, PT Timah menghadapi tantangan pada sisi produksi. Produksi bijih timah tercatat sebesar 18.635 ton Sn atau turun 4% dibandingkan tahun sebelumnya.

Penurunan ini dipengaruhi oleh maraknya penambangan ilegal serta penolakan masyarakat di sejumlah wilayah tambang baru.

Produksi logam timah juga turun 6% menjadi 17.815 metrik ton. Sejalan dengan itu, volume penjualan timah ikut menurun 5% menjadi 16.634 metrik ton.

Meski demikian, harga jual rata-rata logam timah meningkat 13% menjadi USD 35.240 per metrik ton.

Dari sisi pasar, ekspor masih mendominasi dengan kontribusi mencapai 95%, sementara pasar domestik hanya 5%. Enam negara tujuan utama ekspor meliputi Singapura, Korea Selatan, Jepang, Belanda, Italia, dan China.

Perseroan juga terus melakukan efisiensi biaya dan pengelolaan utang untuk menjaga stabilitas keuangan di tengah dinamika industri global.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya