Tembus Rp 17.300 per Dolar AS, Rupiah Terpukul Gejolak Global dan Capital Outflows

Rupiah tembus level psikologis Rp 17.300 per dolar AS akibat tekanan eksternal masif dan ketegangan geopolitik Timur Tengah.

oleh Gagas Yoga PratomoDiterbitkan 23 April 2026, 12:25 WIB
Petugas menunjukkan mata uang dolar dan mata uang rupiah di penukaran uang di Jakarta, Rabu (9/11). Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada saat jeda siang ini kian terpuruk di zona merah. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah yang melemah hingga level psikologis Rp 17.300 terhadap dolar AS pada hari ini. Pelemahan rupiah ini dinilai dipengaruhi kombinasi tekanan global dan domestik.

Mengutip data Trading Economics, hingga pukul 10.40 nilai tukar rupiah tercatat Rp 17.295 per dolar AS. Rupiah sempat menembus level 17.300 per dolar AS pada Kamis pukul 09.00.

Presiden Komisioner HFX International Berjangka, Sutopo Widodo, menyoroti kuatnya faktor eksternal yang memperburuk posisi rupiah.

“Pelemahan Rupiah yang kini mendekati level Rp 17.300 dipicu oleh kombinasi tekanan eksternal yang masif dan kerentanan domestik,” ujar Sutopo kepada Liputan6.com, Kamis (23/4/2026).

Ia menjelaskan, ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya terkait blokade Selat Hormuz, telah mendorong kenaikan harga energi dan inflasi global. Kondisi ini memperkuat dolar AS sebagai aset safe-haven. Di sisi lain, ketergantungan Indonesia pada impor energi serta arus modal keluar akibat sentimen penghindaran risiko membuat rupiah semakin tertekan.

 

Respons Kebijakan Moneter dan Fiskal

Teller tengah menghitung mata uang rupiah di penukaran uang di Jakarta, Junat (23/11). Nilai tukar dolar AS terpantau terus melemah terhadap rupiah hingga ke level Rp 14.504. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sutopo juga menilai respons kebijakan yang terkoordinasi antara Bank Indonesia dan pemerintah sangat diperlukan. BI diperkirakan akan melanjutkan intervensi di pasar spot dan Domestic Non-Deliverable Forward dengan memanfaatkan cadangan devisa, serta tetap membuka ruang penyesuaian suku bunga jika inflasi impor meningkat. Sementara itu, pemerintah dinilai perlu menjaga disiplin fiskal guna mempertahankan kepercayaan investor.

“Durasi sentimen negatif ini sangat bergantung pada penyelesaian konflik di Timur Tengah dan arah kebijakan suku bunga Federal Reserve di Amerika Serikat,” jelasnya.

Ia menambahkan, selama ketidakpastian global masih tinggi, rupiah berpotensi tetap berada dalam tekanan dalam jangka pendek hingga menengah. Namun, dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia di kisaran 4,9% hingga 5,7% pada 2026, stabilitas nilai tukar diperkirakan akan pulih setelah ketegangan global mereda dan harga energi mulai stabil.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya