Pesantren Minhaajurrosyidiin Kembangkan Pengelolaan Sampah Terintegrasi, Dorong Santri Peduli Lingkungan

Pesantren terus mengedukasi santri dan masyarakat melalui kegiatan pembelajaran serta dakwah agar peduli terhadap keberlanjutan lingkungan.

oleh Liputan6.comDiterbitkan 22 April 2026, 16:00 WIB
Pondok Pesantren Minhaajurrosyidiin menjadi pelopor penggunaan mesin Reverse Vending Machine (RVM) di Indonesia (Istimewa)

Liputan6.com, Jakarta - Ketua Pondok Pesantren Minhaajurrosyidiin K.H. Chairul Baihaqi mengatakan, pesantrennya menjadi pelopor penggunaan mesin Reverse Vending Machine (RVM) di Indonesia.

Inovasi ini dikembangkan untuk memperkuat pengelolaan sampah sekaligus menciptakan nilai ekonomi berbasis lingkungan bagi masyarakat sekitar.

“Konsep kami adalah tidak ada sampah terbuang karena semuanya diolah menjadi nilai ekonomi bagi warga dan masyarakat sekitar. Kami mengembangkan pengolahan sampah organik menjadi pupuk serta mendukung pertanian dan peternakan internal pesantren,” ujar Chairul Baihaqi di Jakarta, Rabu (22/4/2026).

Ia menjelaskan keberadaan RVM melengkapi sistem pengelolaan sampah yang telah diterapkan pesantren, baik untuk sampah organik maupun anorganik. Seluruh proses diarahkan untuk mendukung konsep zero waste dengan memanfaatkan limbah menjadi sumber daya yang bernilai guna.

Menurutnya, langkah tersebut juga menjadi bagian dari implementasi ekoteologi yang menanamkan kesadaran menjaga lingkungan sebagai tanggung jawab bersama. Pesantren terus mengedukasi santri dan masyarakat melalui kegiatan pembelajaran serta dakwah agar peduli terhadap keberlanjutan lingkungan.

Kepala Direktorat Edukasi Perlindungan Konsumen Nuning Isnainijati menilai langkah pesantren tersebut menjadi contoh integrasi pengelolaan lingkungan dan literasi keuangan syariah. Program RVM dinilai mampu memperkuat ekosistem inklusi keuangan melalui implementasi program EPICS di lingkungan pesantren.

“Peresmian Reverse Vending Machine ini menjadi langkah strategis dalam pengelolaan sampah plastik berbasis ekonomi sirkular di pesantren. Program ini sekaligus meningkatkan literasi serta inklusi keuangan syariah masyarakat melalui implementasi EPICS secara berkelanjutan,” kata Nuning.

Ia menambahkan implementasi RVM menjadi bagian dari penguatan ekosistem EPICS yang menghubungkan edukasi keuangan dengan aktivitas ekonomi berbasis lingkungan. Melalui program ini, masyarakat diharapkan lebih memahami pengelolaan keuangan syariah secara efektif dan berkelanjutan.

 

Pintu Masuk Memanfaatkan Layanan Keuangan Syariah

Department Head BSI Harsaid Yusuf Bakhtiar menyatakan pihaknya siap mendukung pengembangan program melalui pelatihan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Menurutnya, keberadaan RVM dapat menjadi pintu masuk bagi masyarakat untuk mengenal dan memanfaatkan layanan keuangan syariah.

“Penggunaan mesin ini dapat menstimulus masyarakat membuka rekening dan memanfaatkan berbagai produk keuangan syariah yang tersedia. Mulai dari tabungan haji, emas, hingga perencanaan keuangan dapat diakses sehingga mendorong kemandirian ekonomi masyarakat,” ucap Harsaid Yusuf Bakhtiar.

Kolaborasi antara pesantren, regulator, dan industri keuangan ini diharapkan menjadikan model ekonomi hijau berbasis komunitas yang inklusif. Inisiatif Pondok Pesantren Minhajurrosyidiin dinilai berpotensi direplikasi secara nasional untuk memperkuat pengelolaan lingkungan berkelanjutan.

 

 

Tag Terkait

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya