Mantan Menko Ekonomi Ingatkan Risiko Tahan Harga BBM

Mantan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution menilai subsidi BBM perlu disesuaikan karena bisa menekan nilai tukar rupiah.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 22 April 2026, 20:45 WIB
Menteri Koordinator Perekonomian, Darmin Nasution saat menjadi pembicara dalam acara Bincang Ekonomi di Liputan6.com di SCTV Tower, Jakarta, Kamis (2/3). (Liputan6.com/Fatkhur Rozaq)

Liputan6.com, Jakarta - Mantan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution, menilai pemerintah perlu melakukan penyesuaian terhadap postur subsidi bahan bakar minyak (BBM) di tengah meningkatnya tekanan global. Kebijakan menahan harga BBM bersubsidi saat harga minyak mentah dunia naik berpotensi memberikan dampak terhadap stabilitas nilai tukar rupiah.

Ia menjelaskan, ketika harga minyak global meningkat sementara harga BBM domestik tetap ditahan, pemerintah harus menutup selisih tersebut melalui tambahan subsidi.

Kondisi ini akan meningkatkan kebutuhan pembiayaan negara dan pada akhirnya memberi tekanan terhadap nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

“Artinya ya Anda (pemerintah) membuat harga BBM di dalam negeri itu tetap tidak naik, misalnya, ya itu dia akan keluar tekanannya di tempat lain (nilai tukar rupiah),” ujar Darmin saat ditemui dalam Simposium PT SMI 2026 di Jakarta, Rabu (22/4/2026).

Ia menambahkan, dalam kondisi global yang penuh ketidakpastian, pemerintah tidak dapat menjaga seluruh indikator ekonomi tetap optimal secara bersamaan.

 

Konsekuensi yang Ditanggung

Menteri Koordinator Perekonomian, Darmin Nasution saat menjadi pembicara dalam acara Bincang Ekonomi di Liputan6.com di SCTV Tower, Jakarta, Kamis (2/3). (Liputan6.com/Fatkhur Rozaq)

Darmin menekankan bahwa setiap kebijakan ekonomi memiliki konsekuensi yang harus ditanggung.

Menurutnya, keputusan menahan harga energi perlu diimbangi dengan penyesuaian di sektor lain, baik dari sisi fiskal maupun nilai tukar.

Jika tidak, tekanan akan terkonsentrasi pada satu titik, seperti pelemahan rupiah.

"Jadi itu adalah cost yang harus dipikul karena Anda tidak mau adjust di sini (subsidi BBM). Harus ada adjustment supaya tidak semuanya menekan nilai tukar," jelasnya.

Sejalan dengan itu, nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan Rabu tercatat melemah 38 poin atau 0,22% menjadi Rp17.181 per dolar AS, dari sebelumnya Rp 17.143 per dolar AS.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya