Paus Bungkuk Terdampar di Laut Baltik, Otoritas Jerman Siapkan Metode Penyelamatan Tak Biasa

Paus bungkuk bernama Timmy ini terdampar di beting pasir yang berada di sepanjang pantai Laut Baltik, Jerman Utara.

oleh Erin Rahayu PutriDiterbitkan 23 April 2026, 20:30 WIB
Wisatawan melihat paus bungkuk (Megaptera novaeangliae) yang muncul ke permukaan perairan Samudra Pasifik di Pulau Contadora, Panama, pada tanggal 24 September 2023. (Luis ACOSTA/AFP)

Liputan6.com, Berlin - Seekor paus bungkuk bernama Timmy menjadi sorotan publik setelah berulang kali terdampar di perairan Laut Baltik dan membutuhkan penyelamatan segera. Tim penyelamat di Jerman kini menyiapkan metode tidak lazim menggunakan bantalan udara untuk mengembalikan mamalia laut tersebut ke habitatnya.

Operasi penyelamatan dimulai pada Kamis oleh otoritas dan tim ahli di wilayah pesisir utara Jerman, setelah kondisi paus sepanjang 12–15 meter itu dilaporkan semakin melemah. Timmy diduga tersesat dari habitat aslinya di Samudra Atlantik sejak awal Maret dan kini berada jauh dari jalur migrasinya, dikutip dari laman KSAT, Kamis (22/4/2026).

Upaya penyelamatan sebelumnya, termasuk menggunakan ekskavator dan kapal polisi, hanya berhasil membebaskan paus tersebut untuk sementara. Namun, Timmy kembali terdampar di perairan dangkal dan tidak menunjukkan kemampuan untuk berenang menuju Laut Utara, jalur yang harus dilalui untuk kembali ke habitat alaminya.

Kondisi kesehatan paus juga memburuk, terutama akibat rendahnya kadar garam di Laut Baltik yang menyebabkan kerusakan pada kulitnya. Dalam beberapa hari terakhir, Timmy dilaporkan hampir tidak bergerak, memicu kekhawatiran bahwa peluang bertahan hidupnya semakin kecil.

Sebagai langkah terbaru, tim penyelamat merancang penggunaan bantalan udara dan ponton untuk mengangkat tubuh paus ke kapal tunda. Rencana ini telah mendapat persetujuan pemerintah setempat, dengan target memindahkan Timmy ke perairan yang lebih dalam pada Jumat mendatang.

Menteri Lingkungan negara bagian Mecklenburg-Pomerania, Till Backhaus, menyatakan paus tersebut masih menunjukkan tanda-tanda kehidupan meski kondisinya lemah.

“Dia tidak aktif dan tidak lincah, tetapi masih ada tanda kehidupan. Namun, jelas ia mengalami kerusakan serius,” ujarnya.

Perhatian publik yang besar terhadap kasus ini mendorong aparat kepolisian menetapkan zona larangan sejauh 500 meter di sekitar lokasi untuk mencegah gangguan terhadap paus. Kebijakan ini diambil setelah insiden seorang warga nekat mendekati hewan tersebut.

Di sisi lain, rencana penyelamatan ini menuai perdebatan. Greenpeace menyatakan tidak mendukung operasi terbaru tersebut. Menurut mereka, kondisi paus yang sudah sangat lemah dan sakit membuat peluang keberhasilan kecil, sehingga intervensi tambahan dikhawatirkan justru memperburuk keadaan.

Kasus Timmy kini menjadi perhatian luas di Jerman, tidak hanya terkait upaya penyelamatan satwa liar, tetapi juga memicu diskusi publik mengenai etika intervensi manusia terhadap hewan yang berada di ambang kematian.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya