Emiten PGEO Rombak Susunan Pengurus, Ini Jajaran Terbaru

Berikut susunan komisaris dan direktur terbaru PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) usai RUPST pada Selasa, (21/4/2026).

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 21 April 2026, 20:39 WIB
Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) untuk Tahun Buku 2025 PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO), Selasa (21/4/2026). (Foto: Pertamina Geothermal Energy)

Liputan6.com, Jakarta - Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) untuk Tahun Buku 2025 PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) memutuskan merombak susunan pengurus pada Selasa, (21/4/2026). Pada RUPST Perseroan, PT Pertamina Geothermal Energy Tbk resmi menunjuk Fransetya Hasudungan Hutabarat sebagai direktur keuangan menggantikan Yurizki Rio.

Fransetya membawa pengalaman lebih dari 25 tahun di bidang keuangan korporat lintas industri, mulai dari farmasi, properti, transportasi, hingga energi.

Sebelumnya, ia menjabat sebagai Director of Finance Sub-Holding Refining & Petrochemical di PT Kilang Pertamina Internasional. Di posisi tersebut, ia berhasil mendorong pencapaian investment grade rating dari S&P Global Ratings dan Fitch Ratings pada 2024 dan 2025. Fransetya juga pernah menjabat sebagai direktur keuangan di sejumlah perusahaan public, demikian mengutip dari keterangan resmi perseroan, Selasa pekan ini.

Berikut adalah susunan keanggotaan direksi dan dewan komisaris PT Pertamina Geothermal Energy Tbk:

Susunan Komisaris

  • Komisaris Utama : Gigih Udi Atmo
  • Komisaris Independen : Abdul Musawir Yahya
  • Komisaris Independen : Mohammad Firmansyah
  • Komisaris : John Anis
  • Komisaris : Abdulla Zayed

Susunan Direksi

  • Direktur Utama : Ahmad Yani
  • Direktur Keuangan : Fransetya Hasudungan Hutabarat
  • Direktur Eksplorasi dan Pengembangan : Edwil Suzandi
  • Direktur Operasi : Andi Joko Nugroho

Direktur Utama PT Pertamina Geothermal Energy Tbk Ahmad Yani memberikan apresiasi atas pengabdian yang diberikan Yurizki Rio selama masa jabatannya dalam mendorong kinerja keuangan Perseroan sesuai dengan roadmap transisi energi.

"Kami memandang bergabungnya Bapak Fransetya Hutabarat sebagai bagian dari Direksi Perseroan merupakan momentum positif untuk mendorong peningkatan kinerja bisnis Perseroan ke depan. Ke depan, PGE akan terus mendorong ekspansi bisnis sekaligus memperkuat kinerja keuangan Perseroan secara berkelanjutan,” ujar dia.

RUPST ini juga menyetujui ada perubahan anggaran dasar Perseroan, di mana Perseroan akan menjalankan kegiatan usaha di bidang aktivitas pengolahan data, aktivitas penyediaan infrastruktur komputasi, hosting dan aktivitas terkait, serta penyewaan dan sewa guna mesin dan peralatan pertambangan dan penggalian untuk mengembangkan sumber pendapatan baru (new revenue stream).

 

Kinerja 2025

Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) untuk Tahun Buku 2025 PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO), Selasa (21/4/2026). (Foto: Pertamina Geothermal Energy)

Kinerja operasional Perseroan pada 2025 turut menunjukkan capaian yang signifikan. Pada 2025 menjadi tonggak bersejarah bagi PGE dengan pencatatan produksi tertinggi sepanjang sejarah (all time high), yakni sebesar 5.095,48 gigawatt hour (GWh), meningkat 5,55 persen dibandingkan tahun 2024. Pencapaian ini didorong oleh beroperasinya PLTP Lumut Balai Unit 2 secara komersial pada Juni 2025, yang menambah kapasitas terpasang PGE sebesar 55 megawatt (MW) menjadi 727 MW.

Tidak hanya dari sisi produksi, PGE juga terus memperkuat fondasi pertumbuhan jangka panjang melalui berbagai inisiatif strategis. Perseroan memulai eksplorasi greenfield PLTP Gunung Tiga di Lampung dengan potensi kapasitas 55 MW, menjalin kerja sama dengan PLN IP dengan potensi tambahan kapasitas hingga 530 MW, dan mencetak prestasi dengan empat proyek PGE yang masuk dalam Blue Book Bappenas 2025–2029.

Selain itu, PGE juga melakukan groundbreaking Pilot Project Green Hydrogen Ulubelu, menginisiasi pengembangan green data center berbasis panas bumi, serta meluncurkan inovasi Flow2Max dengan berkolaborasi bersama Ecolab, yang merupakan bagian dari strategi diversifikasi pendapatan melalui pendekatan Beyond Electricity.

 

Kinerja Keuangan

PT Pertamina Gothermal Energy (PGE) menambah satu Wilayah Kerja (WK) Geothermal dalam rangka meningkatkan kapasitas terpasang Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) sehingga saat ini PGE mengoperasikan 15 WK. Dok Pertamina

Ahmad menuturkan, 2025 menjadi tahun yang penting bagi PGE. Dengan berbagai proyek penting yang berhasil diselesaikan dan dimulai, Perseroan optimistis hal ini akan mendukung pertumbuhan perusahaan dan agenda nasional.

“Sebagai perusahaan panas bumi terbesar di Indonesia, PGE terus mengakselerasi pertumbuhan melalui tiga strategi utama: optimalisasi aset eksisting, ekspansi bisnis, dan diversifikasi sumber pendapatan baru. Pencapaian kami di tahun 2025 menjadi fondasi penting dalam mewujudkan visi menjadi world leading geothermal producer, mendukung agenda transisi energi bersih, sekaligus meningkatkan ketahanan energi nasional,” ujar dia.

Seiring kinerja operasional yang kuat, PGE juga membukukan performa keuangan yang solid sepanjang 2025. Perseroan mencatat pendapatan sebesar USD 432,73 juta dan laba bersih sebesar USD 137,67 juta. EBITDA meningkat 1,94 persen secara tahunan menjadi USD 330,35 juta dengan margin 76,34 persen, mencerminkan fundamental keuangan yang sehat sekaligus memperkuat posisi Perseroan dalam mendukung ekspansi bisnis ke depan.

Performa keuangan yang positif merupakan cerminan keberhasilan strategi bisnis berkelanjutan PGE. Untuk mengejar target kapasitas 1 gigawatt (GW) pada 2028 dan 1,8 GW pada 2034, Perseroan kini tengah melakukan investasi strategis dengan fokus pada proyek-proyek quick win yang bertujuan meningkatkan kapasitas terpasang dan produksi panas bumi sekaligus memperkuat kinerja keuangan Perseroan secara berkelanjutan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya