Kartini Masa Kini di Sulawesi Tenggara, Kisah Mantri BRI Menembus Pegunungan Demi Gerakkan Ekonomi Desa

Kisah inspiratif Mantri BRI di Sulawesi Tenggara yang menembus pegunungan demi melayani nasabah dan memberdayakan ekonomi desa.

oleh Wuri AnggariniDiterbitkan 21 April 2026, 19:08 WIB
Foto dok. BRI

Liputan6.com, Kolaka Utara - Semangat perjuangan Raden Ajeng Kartini tidak hanya menjadi catatan sejarah, tetapi juga terus hidup melalui kiprah perempuan Indonesia masa kini. Di berbagai daerah, banyak perempuan yang mengambil peran penting dalam pembangunan masyarakat, termasuk dalam mendorong perekonomian desa.

Semangat tersebut tercermin pada sosok Mispa Lewi Yt, seorang Mantri yang bertugas di BRI Unit Ranteangin. Ia menjalankan tugasnya di wilayah pegunungan di Kabupaten Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara, dengan kondisi geografis yang menantang.

Akses menuju desa-desa di wilayah tersebut tidak selalu mudah. Jalanan yang didominasi tanah dan batu membuat sebagian wilayah hanya bisa dijangkau menggunakan sepeda motor, bahkan terkadang harus dilalui dengan berjalan kaki. Namun bagi Mispa, medan berat itu justru menjadi bagian dari perjalanan pengabdiannya dalam memberdayakan masyarakat.

Perjalanan Mispa bergabung dengan Bank Rakyat Indonesia bermula dari masa sulit saat pandemi COVID-19 melanda. Ia sempat kehilangan pekerjaan sebelumnya karena harus dirumahkan. Situasi tersebut justru menjadi titik balik yang membawanya menemukan peluang baru.

"Saat dirumahkan, saya melihat peluang di BRI dan saya beranikan diri untuk mencoba melamar di situ meskipun saat itu sudah mencapai usia maksimal pendaftaran yaitu 25 tahun. Puji Tuhan, saya lulus sebagai customer service," cerita Mispa kepada Liputan6.com.

Kariernya di BRI terus berkembang. Setelah menjalani sekitar 20 bulan sebagai customer service, ia mengikuti job opening sebagai yang membawa ia berhasil lolos seleksi dan dipercaya menjadi Mantri BRI di wilayah Ranteangin pada 2024.

 

Foto dok. BRI

Ranteangin merupakan wilayah pegunungan dengan kondisi geografis yang menantang. Jalan menuju desa-desa di kawasan tersebut sebagian besar masih berupa tanah dan batu, sehingga hanya bisa diakses menggunakan sepeda motor.

"Wilayah desanya banyak kebun cengkeh, jadi rumah-rumah warganya jauh satu sama lain, terpisah kebun cengkeh yang luas. Kalau mau ketemu nasabah satu ke yang lain, kita harus jalan jauh dulu. Ada juga yang wilayahnya mendaki jadi nggak bisa diakses motor. Kira-kira bisa 1-2 km jalan kaki dari satu rumah ke rumah lain," cerita Mispa.

Saat hujan turun, tantangan semakin berat. Jalan tanah yang licin membuat perjalanan menjadi lebih sulit. Di masa awal bertugas sebagai Mantri BRI, kondisi tersebut sempat membuatnya hampir menyerah.

"Sempat mau menyerah. Tapi setelah itu, mungkin ada jalannya sendiri. Besok paginya tiba-tiba semangat lagi untuk bekerja. Selain itu, yang bikin saya semangat juga karena nasabah-nasabahnya yang sangat baik menyambut saya. Bahkan waktu itu ada nasabah yang bilang kalau saya jangan mutasi dulu, tapi tetap di sini saja sampai bertahun-tahun. Itu yang jadi sumber semangat saya juga," kenang Mispa.

Memberdayakan Masyarakat Lewat Edukasi Keuangan

Foto dok. BRI

Sebagai Mantri BRI, Mispa tidak hanya bertugas memberikan layanan perbankan, tetapi juga menjadi penggerak literasi keuangan bagi masyarakat. Sebagian besar warga di wilayah tersebut berprofesi sebagai petani cengkeh yang membutuhkan akses pembiayaan untuk mengembangkan usaha.

Selain melayani nasabah perorangan, Mispa juga mendampingi sebuah klaster usaha yang memproduksi minuman herbal berbahan tanaman rimpang bernama Gujames.

“Selain nasabah perorangan, saya juga membina klaster usaha minuman herbal berbahan rimpang dengan memberikan bantuan modal, edukasi pemasaran, serta pendampingan e-commerce. Saat ini, klaster tersebut telah berkembang dengan kemasan yang baik, memiliki sertifikat halal MUI, dan dipasarkan hingga ke luar wilayah desa,” jelasnya

Selama menjadi Mantri BRI, Mispa menghadapi tantangan rendahnya literasi keuangan masyarakat, di mana masih banyak warga yang belum terbiasa menggunakan layanan perbankan digital dan menyimpan uang tunai di rumah. Baginya, peran sebagai Mantri bukan sekadar profesi, tetapi juga kesempatan untuk berkembang sekaligus memberi dampak bagi banyak orang.

Perempuan tidak hanya menjadi ibu rumah tangga, tetapi juga bisa membantu perekonomian keluarga, memberdayakan masyarakat, dan membangun negeri. Banyak perubahan positif yang saya rasakan selama menjadi Mantri BRI, terutama dalam komunikasi, wawasan, dan kesejahteraan. Semoga saya bisa terus berkarier setinggi-tingginya di BRI,” tutup Mispa.

Pada kesempatan terpisah, Direktur Micro BRI Akhmad Purwakajaya mengungkapkan bahwa Mantri BRI merupakan tenaga pemasar produk mikro yang berperan penting sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi kerakyatan di Indonesia.

Dengan pemahaman yang kuat terhadap karakter usaha, potensi wilayah, serta kebutuhan finansial nasabah, Mantri tidak hanya menyalurkan pembiayaan, tetapi juga bertindak sebagai financial advisor yang mengawal pertumbuhan usaha melalui pendampingan menyeluruh sejak tahap awal hingga berkembang.

Hingga saat ini, BRI tercatat memiliki Mantri sebanyak 26.894 dengan 7.580 atau sekitar 28,2% diantaranya merupakan Mantri Perempuan.

“Kami sangat mengapresiasi dedikasi yang ditunjukkan oleh para Mantri BRI di lapangan. Kisah ini menegaskan bahwa perempuan tidak hanya mampu beradaptasi, tetapi juga menjadi motor penggerak ekonomi masyarakat. BRI percaya bahwa kesetaraan kesempatan adalah kunci untuk menciptakan pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan” tegas Akhmad.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya