Jerit Hati Ayah Pelajar SMA di Yogya yang Dikeroyok dan Dilindas Motor Kelompok Pemuda Hingga Tewas

Sugeng Riyanto tidak ikhlas atas perilaku sekelompok pemuda yang menganiaya anaknya hingga berujung meninggal.

oleh Kukuh SetyonoDiterbitkan 21 April 2026, 13:26 WIB
Rumah remaja Bantul IDS korban penganiayaan berujung tewas (Foto: Kukuh Setyono/Liputan6.com)

Liputan6.com, Jakarta - Ayah kandung almarhum IDS (16), Sugeng Riyanto tidak ikhlas atas perilaku sekelompok pemuda yang menganiaya anaknya hingga berujung meninggal. Menurutnya, penyiksaan yang dilakukan mereka melebihi apa yang terjadi saat peristiwa PKI 1965.

"Ia dijemput dua orang yang mengendarai N-Max pada Selasa (14/4/2026) malam sekitar pukul 21.30 WIB. Sebelumnya pukul 21.00 WIB dia masih bermain dengan keponakannya," kata Sugeng pada Selasa (21/4/2026).

Karena tertidur sejak pukul 21.00 WIB karena kecapekan, kepergian anaknya ini didapatkan dari para tetangga yang masih terjaga saat itu.

Menurut saksi, IDS ini dibawa oleh kedua rekannya ke area belakang SMAN Bambanglipuro yang juga merupakan tempat ia menempuh pendidikan. Di sana, dia sudah ditunggu beberapa rekannya yang diketahui merupakan kakak kelas.

Tidak berselang lama, datang dua orang mengendarai motor yang kemudian membawa IDS. Karena tidak ada yang kenal dan curiga, salah satu kakak kelasnya kemudian membuntuti hingga sampai ke lapangan Gandung Mlati, Kecamatan Pandak.

Menurut informasi rekan IDS yang membuntuti, di sana ternyata sudah menunggu sekelompok orang yang diperkirakan berjumlah 10 orang. IDS disuruh duduk jongkok dan hanya ditanya ‘Apakah kamu ikut geng itu?’. Karena memang tidak ikut, IDS menjawab tidak ikut dan langsung dikeroyok.

Sugeng mengatakan, IDS dihajar beramai-ramai dengan menggunakan selang, pipa paralon, gunting, dan disulut rokok. Bahkan di tengah ketidakberdayaannya, beberapa pelaku sempat melindas tubuh IDS berulang kali.

“Terakhir, ada satu pelaku yang berniat memotong telinganya dengan gunting. Namun oleh, rekannya yang tadi mengikuti, gunting tersebut direbut dan para pelaku membubarkan diri,” ujar Sugeng.

Oleh rekannya, IDS dilarikan ke RS Rumah Sakit Saras Adyatma, Bantul untuk mendapatkan perawatan. Korban sempat dirawat selama dua hari. Biaya yang dihabiskan Sugeng mencapai Rp10 juta per hari. Maka IDS dipindahkan untuk mendapatkan perawatan di RS PKU Kota Yogyakarta.

 

Dokter Sampai Tak Berani Operasi

Selama mendapatkan perawatan, IDS sama sekali tidak sadar. Bahkan, dokter yang akan melakukan tindakan operasi tidak berani karena IDS mengalami luka parah pada kepala sehingga terjadi pembengkakan.

"Anak saya pada Minggu (19/4/2026) malam pukul 22.00 WIB dinyatakan meninggal dan kemarin sudah dimakamkan," kata Sugeng.

Sebagai orang tua, Sugeng tidak ikhlas anak bungsunya tersebut meninggal dengan sangat tidak manusiawi. Berbeda jika itu memang atas kehendak Allah SWT, Ia dan keluarga pasti merelakannya.

"Ini penganiayaan yang melebihi dulu ketika PKI. Hal seperti itu membuat saya, saya sakit," ujar Sugeng.

Minta Pelaku Dihukum Berat

Oleh karena itu, dia dan keluarga sangat berharap para pelaku segera ditangkap oleh aparat kepolisian dan dihukum seberat-beratnya.

Ditanya mengenai perilakunya beberapa waktu terakhir, Sugeng menegaskan sejak setengah tahun terakhir IDS sangat jarang keluar rumah malam. Kalau memang keluar, pukul 21.00 atau 22.00 WIB saat dihubungi ibunya Sri Wahyuni maupun dirinya sendiri, IDS pasti segera pulang.

Bahkan, ke sekolah pun, IDS berboncengan motor dengan satu rekan yang menjemputnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya