Saat Harga BBM Melambung, Mobil Listrik Jadi Primadona Global

Data dari China Passenger Car Association (CPCA) menunjukkan bahwa total ekspor kendaraan listrik dan hybrid dari China mencapai 349.000 unit pada Maret 2026

oleh Septian PamungkasDiterbitkan 21 April 2026, 10:02 WIB
Ilustrasi mobil listrik (chuttersnap/Unsplash)

Liputan6.com, Jakarta - Industri kendaraan listrik global kembali menunjukkan geliat yang semakin agresif. Kali ini, sorotan tertuju pada pabrikan asal Tiongkok, Geely, yang sukses mencatat lonjakan ekspor kendaraan energi baru atau New Energy Vehicle (NEV) secara signifikan di tengah gejolak harga minyak dunia.

Berdasarkan laporan terbaru seperti disitat dari Carnewschina, ekspor NEV Geely melonjak hingga 479 persen secara tahunan (year-on-year). Kenaikan tajam ini sejalan dengan meningkatnya permintaan global terhadap kendaraan elektrifikasi, yang kini semakin dilirik sebagai solusi mobilitas hemat energi.

Fenomena ini bukan terjadi secara terpisah. Data dari China Passenger Car Association (CPCA) menunjukkan bahwa total ekspor kendaraan listrik dan hybrid dari China mencapai 349.000 unit pada Maret 2026. Angka tersebut melonjak 139,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Kenaikan ini tidak lepas dari dampak krisis energi global yang mendorong harga bahan bakar melambung di berbagai negara.

Kondisi tersebut secara langsung mengubah preferensi konsumen, yang mulai beralih ke kendaraan listrik karena dinilai lebih ekonomis dalam jangka panjang.

Secara tren, kenaikan harga bensin memang terbukti berkorelasi kuat dengan meningkatnya minat terhadap kendaraan listrik di berbagai pasar global.

Selain Geely, pabrikan besar lain seperti BYD juga menunjukkan performa impresif. Pada Maret lalu, BYD berhasil mengekspor sekitar 120.000 unit NEV, meningkat signifikan dibandingkan tahun sebelumnya.

Sementara itu, Geely mencatat total penjualan luar negeri sebesar 81.000 unit, dengan kontribusi NEV mencapai 51.000 unit. Angka ini menjadi bukti kuat bahwa elektrifikasi kini menjadi tulang punggung ekspansi global perusahaan tersebut.

Tak hanya dua raksasa itu, sejumlah produsen otomotif China lainnya juga mulai agresif memperluas pasar ekspor. Hal ini menandakan bahwa ekspansi global brand otomotif Negeri Tirai Bambu semakin merata dan kompetitif.

 

Perubahan Perilaku Konsumen

Di sisi lain, perubahan perilaku konsumen juga menjadi faktor penting. Di berbagai negara, lonjakan harga bensin dan diesel mendorong peningkatan minat terhadap kendaraan listrik secara drastis.

Meski begitu, adopsi kendaraan listrik masih tergolong bertahap. Mayoritas konsumen saat ini masih menjadikan EV sebagai kendaraan tambahan, bukan pengganti mobil bermesin konvensional.

Tantangan pun masih membayangi. Harga kendaraan listrik yang relatif tinggi, khususnya di negara berkembang, menjadi hambatan utama dalam penetrasi pasar.

Selain itu, infrastruktur pendukung seperti jaringan pengisian daya serta layanan purna jual juga belum merata.

Di beberapa wilayah, ketersediaan suku cadang bahkan masih menjadi kendala karena waktu distribusi yang cukup lama.

Namun demikian, peluang besar di pasar global terus dimanfaatkan oleh para produsen otomotif China. Sejumlah merek bahkan mulai meningkatkan target ekspor secara agresif untuk memperkuat posisi mereka di kancah internasional.

Secara keseluruhan, industri otomotif China saat ini berada dalam fase ekspansi global yang sangat kuat.

Dengan dukungan teknologi yang kompetitif serta rantai pasok yang solid, China berhasil menjelma menjadi salah satu eksportir mobil terbesar di dunia, sekaligus pemain kunci dalam revolusi kendaraan listrik global.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya