Liputan6.com, Jakarta - Pasar saham Asia-Pasifik dibuka menguat pada awal perdagangan Selasa, didorong oleh harapan adanya solusi damai atas konflik di Timur Tengah. Meski demikian, ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) masih terus berlangsung membayagi gerak bursa Asia ke depannya.
Ketua parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyampaikan kritik keras terhadap sikap Presiden AS Donald Trump.
Advertisement
“Trump, dengan memberlakukan pengepungan dan melanggar gencatan senjata, berupaya mengubah meja perundingan—dalam imajinasinya sendiri—menjadi meja penyerahan atau untuk membenarkan kembali perang,” tulisnya dalam unggahan di media sosial X, dikutip dari CNBC, Selasa (21/4/2026)
Ia menegaskan Iran tidak akan bernegosiasi di bawah tekanan.
“Kami tidak menerima negosiasi di bawah bayang-bayang ancaman, dan dalam dua pekan terakhir, kami telah bersiap untuk mengungkap kartu baru di medan perang,” tambahnya.
Pernyataan tersebut muncul setelah Presiden Donald Trump pada Senin mengancam akan terjadi “banyak ledakan bom” jika kesepakatan tidak tercapai sebelum gencatan senjata dengan Teheran berakhir.
Di tengah ketegangan tersebut, delegasi AS dilaporkan bersiap kembali ke Pakistan untuk kemungkinan putaran kedua pembicaraan damai.
Gerak Bursa Asia dan Sentimen Investor
Optimisme investor terhadap prospek ekonomi juga masih terjaga. Kepala strategi ekuitas di Wells Fargo, Ohsung Kwon, menyebut kondisi ekonomi masih cukup solid dalam jangka pendek.
“Saya pikir ekonomi akan baik-baik saja dalam tiga bulan ke depan,” ujarnya.
Dari sisi pasar energi, harga minyak justru mengalami penurunan. Minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) turun 1,72% ke USD 88,07 per barel, sementara Brent melemah 1,02% ke USD 94,51 per barel.
Sementara itu, mayoritas bursa saham Asia mencatatkan penguatan. Indeks Kospi Korea Selatan naik 1,58% dan Kosdaq bertambah 0,90%. Indeks Nikkei 225 Jepang menguat 0,52%, sedangkan Topix naik tipis. Di Australia, indeks S&P/ASX 200 naik 0,20%.
Kontrak berjangka indeks Hang Seng Hong Kong juga menunjukkan penguatan dibanding penutupan sebelumnya.
Wall Street
Di Wall Street, indeks utama cenderung bergerak variatif pada perdagangan sebelumnya. Indeks S&P 500 turun 0,24%, sementara Nasdaq melemah 0,26% dan mengakhiri tren kenaikan 13 hari berturut-turut—yang merupakan rekor terpanjang sejak 1992. Sementara itu, Dow Jones nyaris stagnan dengan penurunan tipis.
Kondisi ini menunjukkan pasar global masih bergerak hati-hati di tengah dinamika geopolitik yang terus berkembang.