1 Tentara Prancis Gugur dan 3 Terluka di Lebanon, Hizbullah Dituduh Pelakunya

Tuduhan terhadap Hizbullah secara terang-terangan disampaikan oleh presiden Prancis.

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 19 April 2026, 08:35 WIB
Seorang penjaga perdamaian PBB asal Prancis duduk di atas kendaraan lapis baja di jalan yang digunakan warga mengungsi untuk kembali ke desa mereka pada hari kedua gencatan senjata antara Hizbullah dan Israel di Qasmiyeh, dekat Tyre, Lebanon selatan, Sabtu, (18/5/2026). (Dok. AP/Bilal Hussein)

Liputan6.com, Paris - Pasukan penjaga perdamaian PBB di Lebanon selatan (UNIFIL) diserang dengan tembakan senjata ringan pada Sabtu (18/4/2026) pagi waktu setempat, menewaskan satu penjaga perdamaian asal Prancis dan melukai tiga lainnya, dua di antaranya dalam kondisi serius. Hal ini disampaikan Presiden Prancis Emmanuel Macron dan pihak UNIFIL.

Baik Macron maupun UNIFIL menyalahkan Hizbullah, tetapi kelompok militan Lebanon tersebut membantah keterlibatan.

Serangan di dekat Desa Ghandouriyeh di Lebanon selatan terjadi setelah gencatan senjata selama 10 hari mulai berlaku pada tengah malam Kamis antara Israel dan Hizbullah.

Perang terbaru antara Israel dan Hizbullah dimulai pada 2 Maret ketika kelompok yang didukung Iran itu meluncurkan roket ke Israel setelah Amerika Serikat (AS) dan Israel melancarkan serangan bersama terhadap Iran, menewaskan pejabat tinggi termasuk Pemimpin Tertinggi Ayatullah Ali Khamenei.

Perang, di mana Israel menginvasi Lebanon, menewaskan hampir 2.300 orang di Lebanon, menyebabkan lebih dari 1 juta orang mengungsi, dan menimbulkan kehancuran luas.

"Segala sesuatu menunjukkan bahwa tanggung jawab atas serangan ini berada pada Hizbullah," tulis Macron di media sosial. "Prancis menuntut agar otoritas Lebanon segera menangkap mereka yang bertanggung jawab dan menjalankan tanggung jawab mereka bersama UNIFIL."

Lebanon Luncurkan Investigasi

Di Beirut seperti dikutip dari laporan Associated Press, tiga pejabat peradilan mengatakan bahwa Tribunal Militer Lebanon telah membuka penyelidikan atas serangan tersebut dan sedang berkoordinasi dengan departemen intelijen tentara untuk mengidentifikasi para pelaku. 

Hizbullah membantah keterkaitan dengan serangan itu dan dalam sebuah pernyataan menyerukan kehati-hatian dalam menetapkan tuduhan dan penilaian sampai tentara Lebanon menyelesaikan penyelidikannya untuk menentukan seluruh keadaan. Hizbullah mengatakan bahwa pasukan penjaga perdamaian seharusnya berkoordinasi dengan tentara Lebanon dalam operasi mereka.

Hizbullah mengungkap keterkejutannya dalam pernyataan tersebut atas tuduhan tergesa-gesa yang diarahkan kepada pihaknya, terutama mengingat diamnya pihak-pihak yang sama ketika musuh Israel menyerang pasukan UNIFIL.

Macron mengidentifikasi prajurit yang tewas sebagai Sersan Kepala Florian Montorio dari Resimen Insinyur Parasut ke-17 dari Montauban. Ia mengatakan bahwa tiga rekan seperjuangannya terluka dan dievakuasi.

"Bangsa ini menundukkan kepala sebagai bentuk penghormatan dan menyampaikan dukungannya kepada keluarga para prajurit kami dan kepada seluruh personel militer kami yang terlibat untuk perdamaian di Lebanon," katanya.

Kematian itu terjadi hampir sebulan setelah serangan drone pada 12 Maret menargetkan pangkalan militer Kurdi di wilayah Erbil, Irak, menewaskan Perwira Kepala Prancis Arnaud Frion dan melukai enam lainnya.

Menteri Angkatan Bersenjata Prancis Catherine Vautrin mengatakan pada Sabtu bahwa prajurit tersebut tewas dalam sebuah penyergapan. Ia mengatakan bahwa Montorio sedang dalam misi membuka jalur menuju sebuah pos UNIFIL yang telah terisolasi selama beberapa hari akibat pertempuran antara Hizbullah dan pasukan Israel di daerah tersebut.

Gencatan senjata sendiri mulai berlaku di Lebanon pada Jumat (17/4).

"Ia terjebak dalam sebuah penyergapan oleh kelompok bersenjata dari jarak sangat dekat," tulisnya di X. "Segera terkena tembakan langsung dari senjata ringan, ia ditarik mundur di bawah tembakan oleh rekan-rekannya, yang tidak berhasil menyelamatkannya."

Sementara itu, UNIFIL mengatakan bahwa sebuah patroli yang sedang membersihkan sisa bahan peledak di sepanjang jalan di Desa Ghandouriyeh pada Sabtu untuk memulihkan hubungan dengan posisi-posisi UNIFIL yang terisolasi diserang oleh tembakan senjata ringan dari aktor non-negara. UNIFIL mengatakan bahwa satu penjaga perdamaian meninggal akibat luka-lukanya dan tiga lainnya terluka, dua di antaranya serius.

Macron Tuntut Klarifikasi

Menurut kantor presiden Prancis, Macron berbicara dengan Presiden Lebanon Joseph Aoun dan Perdana Menteri Nawaf Salam setelah serangan tersebut untuk menyerukan kepada otoritas Lebanon agar mengungkap sepenuhnya insiden ini, mengidentifikasi dan menuntut para pelaku tanpa penundaan, serta melakukan segala yang mungkin untuk menjamin keselamatan para prajurit UNIFIL, yang tidak boleh dalam keadaan apa pun menjadi sasaran.

Salam menulis di X bahwa ia telah memerintahkan penyelidikan atas serangan tersebut dan membawa para pelaku ke pengadilan. Adapun Aoun dan Ketua Parlemen Lebanon Nabih Berri mengecam serangan tersebut, sementara tentara Lebanon mengecam serangan itu, seraya menambahkan bahwa mereka akan melanjutkan koordinasi erat dengan UNIFIL.

Macron juga menegaskan pentingnya penghormatan penuh terhadap gencatan senjata oleh semua pihak serta kembali menegaskan komitmen Prancis terhadap kedaulatan Lebanon, demi kepentingan seluruh rakyat Lebanon dan stabilitas kawasan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya