Harga Polypropylene Melonjak, YPAS Siapkan Penyesuaian Harga Jual

Kondisi pasar polypropylene mengalami tekanan baik dari sisi harga dan ketersediaan.

oleh Tira SantiaDiterbitkan 17 April 2026, 06:30 WIB
Harga Polypropylene (PP), bahan baku utama industri plastik yang sangat sensitif terhadap pergerakan harga minyak mentah melonjak. Hal ini berdampak terhadap PT Yanaprima Hastapersada Tbk (YPAS). (Ilustrasi Laporan Keuangan.Unsplash/Isaac Smith

Liputan6.com, Jakarta - Kenaikan tensi geopolitik di Timur Tengah, khususnya potensi konflik yang melibatkan Iran dan jalur strategis Selat Hormuz, mulai membayangi industri berbasis petrokimia. Salah satu yang terdampak adalah harga Polypropylene (PP), bahan baku utama industri plastik yang sangat sensitif terhadap pergerakan harga minyak mentah.

PT Yanaprima Hastapersada Tbk (YPAS) pun mengakui tekanan tersebut berpotensi semakin besar. Perseroan menyebut, lonjakan harga PP saat ini sudah terjadi dan berisiko meningkat lebih ekstrem apabila gangguan distribusi energi global benar-benar terjadi.

Marketing Manager YPAS, Bernard Tjandradjaja, menjelaskan kenaikan harga bahan baku menjadi tantangan utama yang dihadapi perseroan saat ini. Menurut dia, kondisi pasar Polypropylene tengah mengalami tekanan baik dari sisi harga maupun ketersediaan.

"Betul bahwa dengan adanya tendensi konflik di Timur Tengah ini harga bahan baku sangat meningkat tinggi," kata Bernard dalam Public Expose YPAS, Kamis, 16 April 2026, dikutip Jumat, (17/4/2026).

Ia menambahkan, saat ini harga Polypropylene tidak hanya mahal, tetapi juga terbatas di pasar. Kondisi tersebut membuat industri plastik harus bergerak cepat dalam mengantisipasi risiko pasokan sekaligus menjaga kelangsungan produksi.

Strategi Penyesuaian Harga Jual

Sebagai langkah antisipasi, YPAS menyatakan akan melakukan penyesuaian harga jual produk mengikuti kenaikan harga bahan baku. Strategi ini dinilai sebagai opsi paling realistis untuk menjaga margin usaha di tengah tekanan biaya yang meningkat.

"Yang bisa kami lakukan atau Persero akan lakukan adalah berusaha untuk menyesuaikan harga jual mengikuti kenaikan harga bahan baku Polypropylene. Karena sementara ini untuk harga Polypropylene memang sangat-sangat terbatas dan sangat tinggi," ujarnya.

Meski demikian, kebijakan tersebut tidak dilakukan secara sepihak. Perseroan mengedepankan komunikasi dengan para pelanggan untuk mencari titik temu yang saling menguntungkan.

 

 

Negosiasi dengan Konsumen Jadi Kunci

Ilustrasi laporan keuangan (Foto: Isaac Smith/Unsplash)

Di tengah kenaikan harga, YPAS menilai permintaan terhadap produk plastik, khususnya untuk kebutuhan kemasan, masih tetap tinggi. Hal ini karena sektor industri tetap membutuhkan packaging plastik untuk menjaga operasionalnya.

Kondisi tersebut membuka ruang bagi perseroan untuk melakukan negosiasi harga dengan pelanggan. Dengan pendekatan kolaboratif ini, YPAS berharap dapat menjaga hubungan bisnis jangka panjang sekaligus mempertahankan kinerja di tengah tekanan eksternal yang belum mereda.

"Namun, di sisi lain bahwa konsumen-konsumen kami juga membutuhkan packaging plastik untuk berjalannya industri dan operasional mereka. Karena itu ya kita akan saling berdiskusi dan negosiasi untuk penyesuaian harga jualnya," pungkasnya.

 

Laba YPAS Melonjak 220% meski Produksi Turun

Ilustrasi Laporan Keuangan atau Laba Rugi. Foto: Freepik/ pch.vector

Sebelumnya, PT Yanaprima Hastapersada Tbk (YPAS) mencatat lonjakan laba signifikan sepanjang 2025. Perseroan membukukan laba bersih sebesar Rp 5,5 miliar atau mencapai 220% dari target yang telah ditetapkan.

"Dari segi profitabilitas, peningkatan pendapatan perseroan yang diiringi dengan pencapaian efisiensi biaya-biaya berpengaruh terhadap pencapaian profit perseroan sebesar 220% dari target yang telah ditetapkan, yaitu terdapat laba bersih tahun berjalan sebesar Rp 5,5 miliar," kata Direktur Keuangan YPAS, Rinawati Dinata, dalam Public Expose, Kamis (16/4/2026).

Kinerja tersebut tidak lepas dari strategi perseroan yang lebih selektif dalam menentukan pasar dan harga jual, dengan fokus pada segmen produk bernilai tinggi (high value). Langkah ini terbukti mampu menjaga profitabilitas di tengah dinamika permintaan pasar.

Rinawati mengungkapkan perseroan secara aktif mengarahkan penjualan ke segmen dengan margin lebih tinggi, termasuk produk untuk kebutuhan food grade dan ekspor.

"Sepanjang tahun 2025, perseroan merambah ke pasar yang memiliki high value untuk fasilitas food grade," ujarnya.

Sepanjang 2025, penjualan perseroan mencapai Rp 362,4 miliar atau 101% dari target Rp 360 miliar. Angka ini juga tumbuh 5,4% dibandingkan realisasi 2024.

Penopang Peningkatan Pendapatan YPAS 2025

Ilustrasi Laporan Keuangan, Laba, Rugi. Foto: Freepik/mindandi

Peningkatan pendapatan tersebut didorong oleh penyesuaian harga jual sepanjang tahun serta pergeseran fokus ke pasar dengan nilai tambah lebih tinggi. Dari sisi segmen, penjualan karung plastik mencatat kenaikan 13,5% menjadi Rp 159,2 miliar. Selain itu, segmen roasted dan sandwich melonjak signifikan hingga 147% seiring ekspansi pasar ekspor.

Sebaliknya, segmen kantong semen mengalami penurunan 21,2% menjadi Rp 131,9 miliar akibat melemahnya permintaan domestik. Namun, perseroan tetap menjaga kinerja dengan mengalihkan fokus ke segmen yang lebih menguntungkan.

"Dari segmen kantong semen, tahun 2025 mengalami penurunan 21,2% atau sebesar Rp 131,9 miliar dibandingkan tahun 2024 yang mencatat penjualan sebesar Rp 167,4 miliar," ujarnya.

Efisiensi Biaya

Selain strategi penjualan, peningkatan laba YPAS juga ditopang oleh efisiensi biaya dan penurunan harga bahan baku. Hal ini mendorong margin laba kotor perseroan naik sebesar 1,7% dibandingkan tahun sebelumnya.

Sepanjang 2025, laba kotor tercatat sebesar Rp 32,4 miliar, meningkat dari Rp 24,7 miliar pada 2024. Sementara itu, laba usaha juga mengalami kenaikan sebesar 2,1%.

"Sepanjang tahun 2025 laba kotor perseroan tercatat Rp 32,4 miliar dan Rp 24,7 miliar. Laba usaha perseroan juga mengalami kenaikan 2,1% di tahun 2025. Sehingga perolehan laba tahun terjalan mencapai Rp 5,5 miliar," pungkasnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya