Momen Unik Piala Dunia: Ludah Frank Rijkaard ke Rudi Voller di San Siro

Kisah rivalitas sengit Belanda vs Jerman Barat di Piala Dunia 1990 memuncak pada insiden ludah Frank Rijkaard dan Rudi Voller.

oleh Harley IkhsanDiterbitkan 16 April 2026, 06:00 WIB
Frank Rijkaard saat membela timnas Belanda. (AFP/David Ake)

Liputan6.com, Jakarta - Piala Dunia selalu menyajikan drama dan momen tak terlupakan, baik itu gol indah, penyelamatan heroik, maupun insiden kontroversial. Salah satu momen paling ikonik dan penuh intrik terjadi pada Piala Dunia 1990 di Italia yang mempertemukan dua raksasa sepak bola Eropa, Belanda dan Jerman Barat.

Pertemuan ini tidak hanya sekadar laga sepak bola, melainkan pertarungan yang sarat emosi dan sejarah panjang rivalitas sengit.

Insiden yang melibatkan gelandang Belanda Frank Rijkaard dan striker Jerman Barat Rudi Voller menjadi sorotan utama, mengubah jalannya pertandingan dan meninggalkan jejak abadi dalam sejarah turnamen. Momen ini menjadi pengingat betapa intensnya persaingan di level tertinggi sepak bola.

Peristiwa di San Siro, Milan, pada putaran kedua Piala Dunia Italia itu bukan hanya tentang kartu merah, tetapi juga tentang puncak rivalitas yang telah terbangun selama bertahun-tahun. Insiden ini menunjukkan betapa dalamnya akar persaingan antara kedua negara. Peristiwa ini juga menjadi salah satu contoh bagaimana sebuah momen tunggal dapat mendefinisikan sebuah pertandingan dan bahkan karier pemain.


Akar Rivalitas Sengit Belanda dan Jerman Barat

Gerd Muller. Striker Jerman Barat yang wafat pada 15 Agustus 2021 di usia 75 tahun ini menempati posisi ke-3 sebagai pencetak gol terbanyak di putaran final Piala Dunia. Hanya dalam 2 edisi, 1970 dan 1974 ia mampu mengoleksi 14 gol dan 6 assist dalam 13 laga. Gol ke-14 dicetak saat Jerman Barat menang 2-1 atas Belanda di partai final Piala Dunia 1974, 7 Juli 1974. (fifa.com)

Rivalitas antara Belanda dan Jerman Barat pada era tersebut memang sangat sengit dan memiliki akar sejarah yang dalam. Konflik ini tidak hanya terbatas di lapangan hijau, melainkan juga dipengaruhi oleh memori Perang Dunia Kedua. Kebencian tim dan penggemar kedua negara semakin intensif setelah final Piala Dunia 1974, di mana Jerman mengalahkan Belanda dalam pertandingan yang dijuluki “Mother of all Defeats”.

Beberapa insiden sebelumnya semakin memanaskan rivalitas ini. Pada Kejuaraan Eropa 1980, kiper Jerman Toni Schumacher diserang oleh pemain Belanda Huub Stevens, menambah daftar panjang ketegangan. Kemudian, pada tahun 1988, Ronald Koeman membalas dengan gestur kontroversial setelah Belanda mengalahkan Jerman di semifinal Kejuaraan Eropa, menunjukkan betapa personalnya persaingan ini.

Puncak ketegangan terlihat pada kualifikasi Italia 90 di Rotterdam, di mana penggemar Belanda membentangkan spanduk raksasa yang menyamakan kapten Jerman, Lothar Matthäus, dengan Adolf Hitler. Semua latar belakang ini menjadikan pertemuan mereka di babak kedua Italia 90 diprediksi akan menjadi pertandingan yang sangat “panas” dan penuh drama. Rivalitas ini menjadi bumbu penyedap yang tak terpisahkan dari setiap pertemuan kedua tim.

Lanjut Baca:

Insiden legendaris ini terjadi saat Belanda menghadapi Jerman Barat di putaran kedua Piala Dunia Italia, yang berlangsung di stadion ikonik San Siro, Milan. Frank Rijkaard dari Belanda dan Rudi Voller dari Jerman Barat adalah dua pemain utama yang terlibat dalam drama tersebut. Kronologi awal insiden bermula ketika Rijkaard melakukan tekel keras terhadap Voller pada menit ke-20 pertandingan, memicu ketegangan di lapangan. Wasit asal Argentina, Juan Carlos Loustau, segera memberikan kartu kuning kepada Rijkaard atas tekel tersebut, sebuah hukuman yang dianggap “sepenuhnya pantas”. Kartu kuning ini memiliki konsekuensi besar bagi Rijkaard, karena itu adalah kartu kuning keduanya di turnamen, yang berarti ia akan absen di perempat final jika Belanda lolos. Marah dengan hukuman tersebut, Rijkaard meludah ke rambut Voller saat ia berlari melewatinya untuk mengambil posisi tendangan bebas. Setelah terjadi adu mulut singkat, wasit Loustau juga memberikan kartu kuning kepada Voller, mengabaikan ketidakpercayaan Voller dan undangannya untuk memeriksa ludah yang ada di rambutnya. Drama berlanjut setelah tendangan bebas, di mana Voller dan Rijkaard kembali terlibat insiden di kotak penalti. Rijkaard mencoba menarik telinga Voller dan menginjak kakinya, menyebabkan Voller terjatuh, yang semakin memperkeruh suasana. Wasit Loustau tanpa ragu segera mengacungkan kartu merah ke arah Rijkaard, lalu berbalik dan juga menunjukkannya kepada Voller, sebuah keputusan yang mengejutkan banyak pihak. Voller merasa sangat terkejut dan hingga kini masih bingung dengan keputusan wasit untuk mengusirnya, mengingat ia adalah korban dari provokasi. Saat Rijkaard berjalan menuju ruang ganti, ia kembali meludah ke rambut Voller, mengukuhkan julukannya sebagai “Llama” karena kemampuannya melontarkan ludah.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya