Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) mengusulkan penambahan kuota program magang nasional dari 100.000 menjadi 150.000 peserta tahun 2026.
Langkah ini sebagai upaya merespons tingginya antusiasme masyarakat serta kebutuhan lulusan baru atau fresh graduate untuk mendapatkan pengalaman kerja nyata.
Advertisement
Hal itu disampaikan Wakil Menteri Ketenagakerjaan, Afriansyah Noor saat melakukan monitoring dan evaluasi (monev) di Rumah Sakit (RS) Umi, Kota Bogor pada Selasa (14/4/2026).
Afriansyah sempat meninjau langsung pelaksanaan magang batch 1 hingga 3 yang telah berjalan di rumah sakit tersebut.
"Kami sudah rapat dengan DPR RI untuk menambah kuota peserta dari 100.000 menjadi 150.000 orang. Penambahan ini akan mulai diimplementasikan pada batch selanjutnya di tahun 2026, sekitar bulan Mei atau Juni mendatang," ujarnya.
Ia menyebut, program yang digagas Presiden Prabowo Subianto ini dinilai menjadi angin segar bagi para alumni SMK dan Diploma (D3) yang belum memiliki pengalaman kerja.
Menariknya, bagi yang mengikuti magang akan mendapat uang saku sebagai pengganti biaya transportasi dan kebutuhan harian.
"Anak-anak ini akan difasilitasi pemerintah dengan mendapatkan uang saku sebesar UMP yang berlaku di wilayah masing-masing baik kabupaten, kota maupun provinsi. Selama enam bulan mereka didampingi mentor handal untuk beradaptasi dengan lingkungan kerja profesional," jelasnya.
Hingga saat ini, lanjutnya, tercatat lebih dari 9.000 perusahaan dari berbagai sektor telah berkolaborasi dalam program Magang Nasional. Sektor-sektor tersebut meliputi industri, kesehatan, BUMN hingga pertambangan.
Peserta Magang
Untuk RS Ummi, telah menyerap 120 peserta magang pada batch pertama dan kedua. Terkait mekanisme pendaftaran, para pencari kerja dapat mengakses aplikasi MagangHub.
"Di sana, setiap calon peserta diberikan kesempatan untuk memilih maksimal dua jabatan atau bidang pekerjaan yang sesuai dengan latar belakang pendidikan mereka," paparnya.
Meski saat ini fokus utama masih pada lulusan baru tingkat menengah, ia menambahkan bahwa tidak menutup kemungkinan untuk memperluas jangkauan program ke jenjang profesional yang lebih tinggi di masa depan.
"Sementara ini kita fokus menjembatani anak-anak fresh graduate dulu agar mereka memiliki kompetensi dan intelektual yang siap pakai di lapangan," kayanya. (Achmad Sudarno)