IHSG Terjepit Sentimen Global, Simak Sektor yang Diprediksi Jadi Penyelamat

Gejolak geopolitik AS-Iran memicu lonjakan harga minyak hingga USD 100 per barel. Simak prediksi analis mengenai arah IHSG.

oleh Tira SantiaDiterbitkan 14 April 2026, 10:45 WIB
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada penutupan perdagangan, Rabu 10 September 2025, ditutup menguat 70,402 poin atau naik 0,92% ke level 7.699,007, dari penutupan Selasa (9/9/2025) di 7.626,605. (BAY ISMOYO/AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kini memasuki babak baru yang cukup mengkhawatirkan pasar keuangan global. Gagalnya kesepakatan gencatan senjata hingga ancaman blokade jalur perdagangan penting dunia telah mengirimkan gelombang kejut ke berbagai aset investasi, tak terkecuali pasar modal dalam negeri yang tercermin dalam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Pengamat pasar modal Hendra Wardana, memprediksi pergerakan IHSG dalam jangka pendek masih akan bergerak volatil di kisaran 7.450 hingga 7.550.

"Arah pergerakan IHSG dalam jangka pendek diperkirakan masih akan bergerak volatil dengan kecenderungan sideways di kisaran 7.450 hingga 7.550," kata Hendra kepada Liputan6.com, Selasa (14/4/2026).

Menurutnya, selama harga minyak tetap tinggi dan konflik geopolitik belum mereda, sektor energi berpotensi tetap menjadi leading sector yang menopang pergerakan indeks.

Oleh karena itu, strategi yang dapat diambil investor adalah memanfaatkan momentum di saham-saham energi, namun tetap dengan disiplin manajemen risiko.

 

Harga Minyak Tembus USD 100

Pengunjung melintas di dekat monitor perkembangan saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (2/11). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Senin dibuka melemah sebesar 12,76 poin. (Liputan6.com/Immanuel Antonius)

Gagalnya perundingan gencatan senjata antara AS dan Iran memicu kekhawatiran eskalasi konflik yang lebih panjang, terutama dengan adanya rencana blokade Selat Hormuz oleh AS.

Kondisi ini langsung berdampak pada lonjakan harga minyak dunia yang menembus level USD 100 per barel, sehingga memicu kekhawatiran inflasi global kembali meningkat.

"Dampak lanjutannya, ekspektasi penurunan suku bunga oleh bank sentral global seperti The Fed berpotensi tertunda, bahkan membuka ruang kebijakan suku bunga tetap tinggi lebih lama. Inilah yang kemudian menekan mayoritas pasar saham global serta memicu pelemahan sektor-sektor sensitif suku bunga," ujarnya.

 

Rotasi Dana ke Saham Berbasis Komoditas

Pengunjung melintas di papan elektronik yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Jakarta, Rabu (15/4/2020). Pergerakan IHSG berakhir turun tajam 1,71% atau 80,59 poin ke level 4.625,9 pada perdagangan hari ini. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Dari sisi sektoral, terlihat jelas adanya rotasi dana ke saham-saham berbasis komoditas, khususnya sektor energi yang melonjak paling signifikan hingga 2,64%.

"Saham-saham seperti MEDC, ELSA, INDY, hingga ADRO menjadi motor penggerak utama, seiring meningkatnya ekspektasi kinerja akibat kenaikan harga minyak," ujarnya.

Sebaliknya, sektor keuangan justru mengalami tekanan cukup dalam, dengan pelemahan pada saham-saham perbankan besar seperti BBCA, BMRI, dan BBNI.

"Hal ini mencerminkan kekhawatiran investor terhadap potensi kenaikan inflasi dan suku bunga yang dapat menekan pertumbuhan kredit serta meningkatkan cost of fund," pungkasnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya