Kinerja SPPA Melejit, Nilai Transaksi Tembus Segini pada 2025

BEI mencatat lonjakan transaksi SPPA didorong sejumlah faktor.

oleh Tira SantiaDiterbitkan 13 April 2026, 15:41 WIB
Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat total nilai transaksi Sistem Penyelenggara Pasar Alternatif (SPPA) naik 461,6% sepanjang 2025. (Foto: Liputan6.com/Tira Santia)

Liputan6.com, Jakarta - Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat total nilai transaksi Sistem Penyelenggara Pasar Alternatif (SPPA) sepanjang 2025 mencapai Rp 1.382,1 triliun, melonjak 461,6 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

“Sepanjang tahun 2025, SPPA juga menunjukkan peningkatan kinerja transaksi yang signifikan dengan total nilai transaksi mencapai Rp 1.382,1 triliun atau meningkat sebesar 461,6 persen dibandingkan tahun sebelumnya,” kata Direktur Pengawasan Transaksi dan Kepatuhan BEI, Kristian S. Manullang, dalam SPPA Award 2025, di Main Hall BEI, Jakarta, Senin (13/4/2026).

Lonjakan ini menjadi indikasi kuat meningkatnya kepercayaan pelaku pasar terhadap SPPA sebagai platform utama dalam transaksi surat utang dan pasar uang. Peningkatan aktivitas tersebut juga mencerminkan semakin dalamnya likuiditas pasar keuangan domestik, khususnya pada instrumen fixed income.

Salah satu faktor utama yang mendorong lonjakan transaksi adalah implementasi transaksi Repurchase Agreement (REPO) di SPPA sejak 10 Maret. Sejak diluncurkan, transaksi REPO mencatatkan nilai hingga Rp 751,6 triliun.

“Peningkatan jumlah transaksi ini disebabkan oleh telah terimplementasinya transaksi Repurchase Agreement atau REPO pada tanggal 10 Maret 204 di SPPA dengan total nilai transaksi mencapai Rp 751,6 triliun,” ujarnya.

Selain itu, transaksi outright atau jual-beli putus juga mengalami peningkatan signifikan sebesar 196,2 persen secara tahunan menjadi Rp 630,5 triliun. Dari sisi pangsa pasar inter-dealer, transaksi outright berkontribusi sebesar 23 persen, sementara REPO mencapai 28 persen.

Menurut Kristian, capaian ini tidak lepas dari dukungan berbagai pihak yang menjadikan SPPA sebagai platform pilihan untuk transaksi Efek Bersifat Utang dan Sukuk (EBUS) serta REPO dengan underlying Surat Utang Negara (SUN). Keberadaan SPPA dinilai mampu menjawab kebutuhan industri akan sistem transaksi yang terstandarisasi, aman, transparan, dan efisien.

 

Perkuat Ekosistem

Direktur Pengawasan Transaksi dan Kepatuhan BEI, Kristian S. Manullang, dalam SPPA Award 2025, di Main Hall BEI, Jakarta, Senin (13/4/2026). (Foto: Liputan6.com/Tira Santia)

Kristian mengatakan, BEI terus mengembangkan SPPA sebagai bagian dari lini bisnis penyelenggara pasar alternatif yang mengacu pada regulasi Otoritas Jasa Keuangan. Platform ini berfungsi sebagai sarana perdagangan resmi di pasar sekunder untuk instrumen surat utang.

Saat ini, SPPA telah digunakan oleh 39 pengguna jasa, dengan 14 di antaranya aktif dalam transaksi REPO. Para pengguna terdiri dari bank umum, bank pembangunan daerah, hingga perusahaan sekuritas. SPPA juga menawarkan berbagai mekanisme transaksi, mulai dari order book hingga bilateral over-the-counter (OTC) trading.

“Saat ini SPPA telah mengakomodasi perdagangan surat utang oleh 39 pengguna jasa dan 14 pengguna jasa di antaranya merupakan pengguna jasa REPO, pengguna jasa SPPA terdiri dari Bank Umum, Bank Pembangunan Daerah, dan Sekuritas baik dengan mekanisme order book sampai dengan mekanisme bilateral OTC trading dan menjadikan SPPA sebagai platform dengan mekanisme matching yang paling lengkap khususnya untuk instrumen OTC,” ujarnya.

 

Tren Pertumbuhan Transaksi dari Tahun ke Tahun

Pekerja melintas di dekat layar digital pergerakan saham di Gedung BEI, Jakarta, Rabu (14/10/2020). Pada pembukaan perdagangan pukul 09.00 WIB, IHSG masih naik, namun tak lama kemudian, IHSG melemah 2,3 poin atau 0,05 persen ke level 5.130, 18. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Secara historis, nilai transaksi SPPA memperlihatkan tren yang cenderung meningkat meski sempat mengalami fluktuasi. Pada 2021, total transaksi tercatat sebesar Rp 149,2 triliun, kemudian mengalami penurunan pada 2022 menjadi Rp 125,1 triliun.

Memasuki 2023, kinerja mulai pulih dengan nilai transaksi sebesar Rp 139,3 triliun. Tren positif tersebut berlanjut pada 2024 dengan lonjakan cukup signifikan ke level Rp 246,0 triliun.

Namun, titik balik terbesar terjadi pada 2025. Nilai transaksi melonjak drastis hingga mencapai Rp 1.382,1 triliun, mencerminkan peningkatan berkali lipat dibandingkan tahun sebelumnya.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya