Liputan6.com, Lilongwe- Perjalanan mengasuh anak dengan autisme kerap menjadi ujian emosional yang berat, terlebih di negara dengan dukungan kesehatan mental yang terbatas. Hal inilah yang dialami seorang ibu di Malawi, yang harus berjuang menerima kondisi putrinya di tengah stigma sosial dan minimnya fasilitas.
Martha Ongwane tak pernah membayangkan hidupnya akan berubah drastis ketika putrinya yang bernama Rachael, didiagnosis autisme. Di usia empat tahun, Rachael belum mampu berbicara seperti anak seusianya, kerap menggigit, dan sulit untuk duduk diam. Kondisi itu membuat Martha kewalahan, bahkan sempat mengalami depresi.
Advertisement
Di titik terendahnya, Martha mengaku pernah terpikir untuk mengakhiri hidup anaknya.
“Aku berkata pada diriku sendiri bahwa akan lebih baik jika dia mati… tapi hatiku tidak mengizinkanku,” ujarnya lirih, demikian dikutip dari laman BBC, Senin (13/4/2026).
Tekanan tidak hanya datang dari dalam dirinya, tetapi juga dari lingkungan sekitar. Tetangga kerap menyalahkan Martha atas perilaku anaknya. Ia bahkan sempat mengurung Rachael di dalam rumah, bukan hanya karena tekanan sosial, tetapi juga sebagai bentuk “hukuman” atas perilaku yang tidak dipahami.
Minimnya pemahaman masyarakat terhadap autisme memperparah situasi. Di Malawi, istilah autisme bahkan tidak dikenal luas dalam bahasa sehari-hari. Dalam bahasa Chichewa, kondisi tersebut sering disalahartikan sebagai “keterbatasan mental” atau bahkan dianggap sebagai sesuatu yang “merepotkan”.
Namun, titik balik datang ketika Martha mendapatkan akses terhadap layanan kesehatan. Dalam salah satu kunjungan ke Rumah Sakit Pusat Mzuzu, Rachael dirujuk ke Saint John of God, lembaga berbasis komunitas yang menangani kesehatan mental dan pendidikan anak berkebutuhan khusus.
Bantuan Konseling
Organisasi yang didukung Gereja Katolik itu menyediakan layanan terapi sekaligus pendidikan khusus. Martha dan suaminya juga mendapatkan konseling, yang membantu mereka memahami kondisi anak mereka sekaligus mengurangi rasa isolasi.
Perubahan perlahan terlihat. Dua tahun setelah masa-masa kelam itu, hubungan ibu dan anak tersebut bertransformasi. Rachael kini dapat menunjukkan ekspresi kasih sayang, tertawa, dan menikmati kebersamaan sederhana di rumah mereka di Mzuzu.
Meski demikian, kisah Martha bukanlah gambaran umum di Malawi. Data Organisasi Kesehatan Dunia menyebut lebih dari 60 juta orang di dunia berada dalam spektrum autisme. Namun, di negara dengan keterbatasan sumber daya, layanan bagi mereka masih sangat minim.
Di Malawi sendiri, dengan populasi lebih dari 22 juta jiwa, hanya terdapat dua dokter spesialis anak dan tiga psikiater konsultan. Keterbatasan ini membuat banyak anak dengan autisme tidak terdiagnosis atau tidak mendapatkan penanganan yang tepat.
Akibatnya, stigma dan diskriminasi masih kuat. Banyak keluarga harus menghadapi kondisi ini sendirian, tanpa dukungan memadai dari negara maupun masyarakat.
Kisah Martha menjadi potret nyata bahwa di balik tantangan besar, pemahaman dan akses terhadap layanan yang tepat dapat mengubah keputusasaan menjadi harapan—meski jalan yang harus dilalui tetap panjang dan penuh tantangan.