Wall Street Ditutup Variatif, S&P 500 Catat Lonjakan Mingguan

Wall Street ditutup beragam, namun S&P 500 mencatat kenaikan mingguan terbaik sejak November.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 11 April 2026, 08:00 WIB
Steven Kaplan (tengah) saat bekerja dengan sesama pialang di New York Stock Exchange, Amerika Serikat, Rabu (11/3/2020). Bursa saham Wall Street anjlok karena investor menunggu langkah agresif pemerintah AS atas kejatuhan ekonomi akibat virus corona COVID-19. (AP Photo/Richard Drew)

Liputan6.com, Jakarta - Indeks saham utama di Wall Street ditutup beragam pada perdagangan Jumat, meskipun secara keseluruhan mencatat kinerja mingguan yang solid. Pelaku pasar masih mencermati perkembangan penghentian serangan selama dua minggu antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang dinilai masih rapuh.

Mengutip CNBC, Sabtu (11/4/2026), indeks S&P 500 turun tipis 0,11% ke level 6.816,89. Sementara itu, Nasdaq Composite justru naik 0,35% menjadi 22.902,89, didorong oleh penguatan saham semikonduktor utama seperti Nvidia dan Broadcom.

Di sisi lain, Dow Jones Industrial Average melemah 269,23 poin atau 0,56% ke posisi 47.916,57.

Meski ditutup melemah pada Jumat, S&P 500 tetap mencatat kenaikan sekitar 3,6% sepanjang pekan ini. Nasdaq melonjak sekitar 4,7%, sementara Dow Jones menguat 3%. Ketiga indeks tersebut membukukan kinerja mingguan terbaik sejak November.

Presiden AS, Donald Trump, pada Jumat menuding Iran melakukan “pemerasan jangka pendek terhadap dunia dengan menggunakan jalur perairan internasional.”

Dalam unggahannya di Truth Social, Trump mengatakan para pemimpin Iran “tampaknya tidak menyadari bahwa mereka tidak memiliki kartu apa pun” dan bahwa “satu-satunya alasan mereka masih bertahan saat ini adalah untuk bernegosiasi!”

Pernyataan tersebut muncul sehari setelah Trump memperingatkan Iran agar tidak mengenakan biaya terhadap kapal tanker minyak yang melintasi Selat Hormuz.

 

Investor Makin Waspada

Director of Trading Floor Operations Fernando Munoz (kanan) saat bekerja dengan pialang Robert Oswald di New York Stock Exchange, AS, Rabu (11/3/2020). Bursa saham Wall Street jatuh ke zona bearish setelah indeks Dow Jones turun 20,3% dari level tertingginya bulan lalu. (AP Photo/Richard Drew)

Harga minyak pun bergerak fluktuatif seiring ketidakpastian pembukaan kembali jalur tersebut. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun 1,33% menjadi USD 96,57 per barel, sementara minyak Brent melemah 0,75% ke USD 95,20 per barel.

Kondisi ini membuat investor di Wall Street semakin waspada, mengingat lonjakan harga energi berpotensi memicu tekanan inflasi di ekonomi AS.

Sepanjang pekan ini, isu inflasi menjadi perhatian utama investor. Data indeks harga konsumen (CPI) Maret menunjukkan inflasi sesuai ekspektasi, yakni 0,9% secara bulanan dan 3,3% secara tahunan.

Angka tersebut mencerminkan lonjakan biaya energi sebesar 10,9% akibat konflik di Timur Tengah. Namun, jika komponen energi dikeluarkan, inflasi inti tercatat lebih rendah dari perkiraan, yakni hanya naik 0,2% secara bulanan dan 2,6% secara tahunan.

Meski demikian, kekhawatiran inflasi tetap meningkat. Survei dari University of Michigan menunjukkan bahwa konsumen memperkirakan inflasi akan naik menjadi 4,8% dalam setahun ke depan, meningkat dari bulan sebelumnya.

 

Kombinasi Berbahaya

Ekspresi spesialis Michael Pistillo (kanan) saat bekerja di New York Stock Exchange, Amerika Serikat, Rabu (11/3/2020). Bursa saham Wall Street anjlok pada akhir perdagangan Rabu (11/3/2020) sore waktu setempat setelah WHO menyebut virus corona COVID-19 sebagai pandemi. (AP Photo/Richard Drew)

Chief Investment Officer Orion, Tim Holland, mengatakan bank sentral AS kemungkinan akan mencoba melihat melampaui data jangka pendek.

“The Fed akan melakukan segala cara untuk melihat melampaui data Maret dan April,” ujarnya, dengan asumsi adanya jalan keluar dari konflik antara AS, Israel, dan Iran.

Holland memperkirakan konflik Iran pada akhirnya akan mereda, yang dapat menurunkan harga minyak. Namun, ia mengingatkan bahwa jika harga WTI masih berada di kisaran USD 100 per barel hingga pertengahan Juni, dampak inflasi bisa semakin serius.

“Ini berpotensi menjadi kombinasi berbahaya antara sentimen konsumen yang sudah lemah dan lonjakan ekspektasi inflasi. Kondisi ini akan menjadi tantangan berat bagi ekonomi dan membuat The Fed berada dalam posisi sulit,” katanya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya