Trump: Militer AS Akan Tetap Siaga di Sekitar Iran hingga Kesepakatan Nyata

Kesepakatan apa yang diharapkan oleh Trump kepada Iran?

oleh Teddy Tri Setio BertyDiterbitkan 09 April 2026, 14:20 WIB
Donald Trump surprisingly announced a two-week ceasefire with Iran, mediated by Pakistan.

Liputan6.com, Washington D.C - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan bahwa pasukan militer AS akan tetap disiagakan di dalam dan sekitar Iran hingga Teheran sepenuhnya mematuhi apa yang ia sebut sebagai “kesepakatan sebenarnya”.

Ia memperingatkan, setiap pelanggaran akan memicu respons militer yang jauh lebih besar dari sebelumnya.

Pernyataan itu disampaikan Trump melalui unggahan di Truth Social pada Rabu (8/4) malam waktu setempat. Ia menegaskan seluruh aset militer -- kapal, pesawat, dan personel -- akan tetap berada di posisi saat ini sampai kesepakatan dipatuhi sepenuhnya.

“Jika karena alasan apa pun tidak dipatuhi, maka ‘penembakan akan dimulai’, lebih besar, lebih baik, dan lebih kuat daripada yang pernah dilihat sebelumnya,” tulis Trump, dikutip dari laman CNBC, Kamis (9/4/2026).

Trump juga menekankan bahwa kesepakatan tersebut mencakup komitmen Iran untuk tidak mengembangkan senjata nuklir serta menjamin keamanan pelayaran komersial di Selat Hormuz.

Pernyataan keras itu muncul sehari setelah Washington dan Teheran menyepakati gencatan senjata selama dua minggu yang dimediasi Pakistan, mengakhiri sementara pertempuran selama enam pekan. Kesepakatan tersebut sempat memicu optimisme pasar global, terutama terkait kelancaran distribusi energi melalui jalur strategis Selat Hormuz.

Namun, implementasi di lapangan masih menyisakan ketidakpastian. Iran menyatakan jalur aman di selat tersebut dapat dibuka, tetapi bergantung pada koordinasi dengan angkatan bersenjatanya.

Perbedaan posisi antara kedua pihak juga masih mencolok. Teheran dilaporkan menolak proposal 15 poin dari Washington dan mengajukan rencana tandingan berisi 10 poin. Di antaranya mencakup penghentian serangan Israel terhadap kelompok Hizbullah di Lebanon serta pencabutan seluruh sanksi terhadap Iran.

Trump sebelumnya menepis laporan mengenai rencana 10 poin tersebut, yang diberitakan media seperti The New York Times dan CNN, sebagai “sepenuhnya palsu”.

 

Upaya Diplomasi

Serangan ini bertepatan dengan pengumuman gencatan senjata antara Iran dan Amerika Serikat (AS) berikut sekutunya oleh Perdana Menteri (PM) Pakistan, Shehbaz Sharif. Tampak dalam foto, asap dan puing-puing mengepul setelah sebuah bangunan dihantam serangan udara Israel di daerah Abbasiyeh, pinggiran kota Tyre, Lebanon selatan, pada Rabu 8 April 2026. (Kawnat HAJU/AFP)

Di tengah upaya diplomasi, situasi keamanan di kawasan justru kembali memanas. Israel mendukung keputusan Washington untuk menghentikan serangan terhadap Iran, namun menegaskan bahwa gencatan senjata tidak berlaku di Lebanon. Serangan besar-besaran yang dilancarkan Israel di negara itu pada Rabu dilaporkan menewaskan sedikitnya 182 orang.

Eskalasi tersebut memicu respons keras dari Teheran. Iran menyatakan akan “tidak masuk akal” melanjutkan pembicaraan menuju kesepakatan damai permanen dengan AS jika serangan terus berlanjut, menandakan rapuhnya gencatan senjata yang baru tercapai.

Meski demikian, kedua pihak dijadwalkan kembali bertemu dalam putaran negosiasi berikutnya di Islamabad pada Jumat.

Ketegangan yang berlanjut turut berdampak pada pasar energi global. Harga minyak kembali melonjak pada Kamis, dengan minyak mentah Brent untuk pengiriman Juni naik 2,46% menjadi 97,08 dolar AS per barel, sementara West Texas Intermediate untuk Mei naik 3,4% ke level 97,55 dolar AS.

Sementara itu, Menteri Perekonomian Lebanon, Amer Bisat, menyatakan negaranya “dipaksa masuk ke dalam perang” oleh pihak eksternal. Ia menyerukan gencatan senjata yang dipimpin negara berdaulat serta penyelesaian konflik melalui jalur negosiasi.

“Kami membayar harga yang sangat mahal untuk perang ini, perang yang dipaksakan kepada kami,” ujar Bisat.

Di tengah tarik-ulur diplomasi dan eskalasi militer, masa depan gencatan senjata antara AS dan Iran masih diliputi ketidakpastian, dengan risiko konflik yang dapat meluas kapan saja.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya