Jeda Perang Iran Dinodai Serangan Hebat Israel ke Lebanon, 254 Orang Tewas

Di balik pengumuman jeda perang Iran, Washington dan Teheran masih memiliki perbedaan pandangan mengenai isu-isu prinsipiel.

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 09 April 2026, 08:18 WIB
Asap mengepul setelah beberapa serangan udara Israel mengguncang Beirut, Lebanon, pada 8 April 2026. (Dok. AP/Hassan Ammar)

Liputan6.com, Beirut - Israel melancarkan serangan besar-besaran terhadap Lebanon pada Rabu (8/4/2026), menewaskan ratusan orang dan memicu ancaman balasan dari Iran. Dengan menggunakan 50 jet tempur, serangan Israel menghantam 100 target dalam waktu hanya 10 menit.

Perkembangan ini menimbulkan keraguan terhadap kelanjutan rencana perundingan damai antara Iran dan Amerika Serikat (AS).

Pernyataan dari ketua parlemen Iran, Mohammed Bager Qalibaf, menunjukkan secara jelas bahwa kawasan masih sangat tidak stabil, hanya sehari setelah Presiden Donald Trump mengumumkan gencatan senjata. Kedua pihak telah mengajukan agenda yang sangat berbeda untuk perundingan yang dijadwalkan dimulai pada Jumat (10/4), namun belum ada kepastian apakah gencatan senjata selama dua pekan itu akan bertahan hingga momen tersebut.

Qalibaf menyatakan Israel telah melanggar sejumlah ketentuan gencatan senjata dengan meningkatkan serangan terhadap kelompok Hizbullah yang bersekutu dengan Iran. Ia juga menilai AS melanggar kesepakatan dengan tetap menuntut Iran menghentikan ambisi nuklirnya.

"Dalam situasi seperti ini, gencatan senjata bilateral atau negosiasi menjadi tidak masuk akal," ujarnya seperti dikutip dari CNA.

Bertentangan dengan pernyataan Perdana Menteri (PM) Pakistan Shehbaz Sharif selaku mediator, Israel dan AS menegaskan bahwa gencatan senjata tidak mencakup Lebanon. Untuk itu, PM Israel Benjamin Netanyahu menyatakan serangan akan terus berlanjut.

Wakil Presiden AS JD Vance yang akan memimpin delegasi AS dalam perundingan dengan Iran, mengatakan Teheran keliru memahami cakupan kesepakatan tersebut.

"Saya kira pihak Iran mengira gencatan senjata itu mencakup Lebanon, padahal tidak," ujarnya kepada wartawan di Budapest.

Perbedaan tajam muncul pula terkait program nuklir Iran—yang disebut Trump sebagai salah satu dasar dilancarkannya perang. Trump mengatakan Iran telah setuju menghentikan pengayaan uranium, yang dapat digunakan untuk membuat senjata nuklir dan Gedung Putih menyatakan Iran juga bersedia menyerahkan cadangan yang dimilikinya.

"AS akan, bekerja sama dengan Iran, menggali dan memindahkan seluruh 'debu' nuklir yang terkubur dalam," tulis Trump di media sosial.

Namun, Qalibaf menyatakan Iran tetap diperbolehkan melanjutkan pengayaan uranium berdasarkan ketentuan gencatan senjata.

Meski AS dan Iran sama-sama menyatakan kemenangan dalam perang yang telah berlangsung selama lima minggu dan menewaskan ribuan orang, perbedaan mendasar di antara keduanya masih belum terselesaikan. Masing-masing pihak tetap mempertahankan tuntutan yang saling bertentangan dalam upaya mencapai kesepakatan yang akan menentukan masa depan Timur Tengah.  

Ratusan Orang Tewas Dibunuh Israel

Netanyahu mengakui bahwa Israel masih memiliki lebih banyak tujuan yang harus diselesaikan di Iran.

"Kami akan mencapainya," janjinya seperti dikutip dari The Times of Israel, "baik melalui kesepakatan atau melalui pertempuran kembali."

Israel, katanya, "siap untuk kembali bertempur kapan saja."

"Jari berada di pelatuk," ujarnya.

Di Lebanon, dinas pertahanan sipil melaporkan bahwa serangan Israel pada Rabu menewaskan 254 orang. Korban terbanyak terjadi di ibu kota Beirut, dengan 91 orang tewas. Warga mengatakan sejumlah serangan dilakukan tanpa peringatan evakuasi seperti biasanya.

Sementara itu, Iran dilaporkan melancarkan serangan terhadap fasilitas minyak di negara-negara Teluk, termasuk sebuah pipa di Arab Saudi yang digunakan untuk menghindari Selat Hormuz yang diblokade. Kuwait, Bahrain, dan Uni Emirat Arab juga melaporkan adanya serangan rudal dan drone.

Iran melalui media pemerintah IRIB dan Tasnim menyatakan bahwa gelombang serangan rudal dan drone terhadap fasilitas minyak di negara-negara Teluk pada Rabu adalah balasan langsung atas serangan terhadap kilang minyak di Pulau Lavan.

Selat Hormuz tetap ditutup bagi kapal yang tidak memiliki izin. Data MarineTraffic menunjukkan dua kapal kargo milik Yunani dan dua milik China melintas sejak Rabu pagi.

Dalam serangkaian unggahan daring, Trump mengumumkan rencana penerapan tarif sebesar 50 persen terhadap semua barang dari negara yang memasok senjata ke Iran.

Di Iran, warga turun ke jalan pada malam hari untuk merayakan pengumuman gencatan senjata dengan mengibarkan bendera Iran dan membakar bendera AS dan Israel. Namun, kekhawatiran tetap muncul bahwa kesepakatan "jeda perang" tidak akan bertahan.

"Israel tidak akan membiarkan diplomasi berjalan dan Trump bisa saja mengubah pandangannya besok. Tapi setidaknya malam ini kami bisa tidur tanpa serangan," kata Alireza (29) seorang pegawai pemerintah di Teheran, kepada Reuters melalui telepon.

Perang Iran diluncurkan pada 28 Februari oleh Trump dan Netanyahu, yang menyatakan tujuannya adalah mencegah Iran memproyeksikan kekuatan di luar perbatasannya, mengakhiri program nuklirnya, serta menciptakan kondisi bagi rakyat Iran untuk menggulingkan pemerintahan mereka.

Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth pada Rabu menyatakan Washington telah meraih kemenangan militer yang menentukan.

Namun hingga kini, Iran masih mempertahankan cadangan uranium yang mendekati tingkat senjata nuklir serta kemampuan untuk menyerang negara-negara tetangganya dengan rudal dan drone. Kepemimpinan ulama di negara itu juga tetap bertahan tanpa tanda-tanda keruntuhan, meskipun sempat menghadapi gelombang protes besar beberapa bulan lalu.

Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran menyatakan bahwa pihaknya telah memberikan kekalahan besar kepada musuh.

"Musuh, dalam perang yang tidak adil, ilegal, dan kriminal terhadap bangsa Iran, telah mengalami kekalahan yang tidak terbantahkan, bersejarah, dan menghancurkan," demikian pernyataan tersebut. 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya