Menilik Alasan Spanyol Tegas Menolak Perang Iran, Trauma Masa Lalu?

Trauma masa lalu apa yang dimiliki Spanyol sehingga memengaruhi posisinya dalam menentang perang Iran? Berikut selengkapnya.

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 02 April 2026, 07:58 WIB
Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez. (Dok. AP/Bernat Armangue)

Liputan6.com, Madrid - Beberapa hari setelah Amerika Serikat (AS) dan Israel menyerang Iran, Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez menyampaikan pidato kepada publik.

"Posisi pemerintah Spanyol dapat dirangkum dalam empat kata," ujarnya seperti dikutip dari Middle East Eye. "No to the war (Tidak untuk perang)."

Ia mengaitkan situasi tersebut dengan pengalaman masa lalu.

"Dunia, Eropa, dan Spanyol pernah berada di posisi ini sebelumnya," kata Sanchez. "Dua puluh tiga tahun lalu, pemerintahan AS menyeret kita ke dalam perang di Timur Tengah."

Pekan berikutnya, ia kembali menyinggung hal serupa.

"Kekacauan di Iran ini mungkin akan segera berakhir," tuturnya. "Atau mungkin mimpi buruk Irak akan terulang, tetapi kali ini dalam skala yang jauh lebih besar."

Invasi Irak tahun 2003 menjadi salah satu peristiwa penting dalam sejarah modern Spanyol. Saat itu, pemerintahan konservatif di bawah Jose Maria Aznar memutuskan bergabung dengan koalisi yang mendukung AS.

Menurut Pablo Simon, ilmuwan politik dari Universitas Carlos III Madrid, dukungan tersebut mencakup pembenaran atas klaim keberadaan senjata pemusnah massal di Irak.

Keputusan tersebut memicu demonstrasi besar. Salah satu aksi di Madrid diikuti sedikitnya 660.000 orang dan disebut sebagai salah satu yang terbesar sejak wafatnya Francisco Franco pada 1975.

Simon mengatakan sekitar 90 persen warga Spanyol saat itu menolak intervensi militer.

Pada 2004, terjadi serangan bom kereta di Madrid yang menewaskan 191 orang dan melukai sekitar 1.800 lainnya. Serangan tersebut dilakukan oleh kelompok ekstremis sebagai respons terhadap keterlibatan Spanyol dalam perang di Afghanistan dan Irak.

Peristiwa itu terjadi hanya beberapa hari sebelum pemilu dan pemerintah saat itu sempat disorot karena menyalahkan kelompok separatis Basque, ETA. 

Sikap pemerintah yang dianggap tidak jujur dan manipulatif demi kepentingan politik memicu kemarahan publik, menyebabkan kekalahan mengejutkan Partai Rakyat (PP) dan membawa Jose Luis Rodriguez Zapatero dari partai sosialis (PSOE) menjadi pemenang.

 

"No a la guerra"

Kini, perang Iran kembali memicu dampak politik dalam negeri Spanyol. Bahkan, konflik ini berpotensi memengaruhi hasil pemilu tahun depan.

Pemerintah Sanchez tidak hanya menyatakan penolakan secara retoris, tetapi juga mengambil langkah konkret. Spanyol menutup wilayah udaranya bagi pesawat AS yang terlibat dalam serangan ke Iran, serta melarang penggunaan pangkalan militer di wilayahnya.

Langkah ini memicu kemarahan Presiden AS Donald Trump, yang mengancam akan menghentikan seluruh perdagangan dengan Spanyol dan mengkritik kepemimpinan negara tersebut.

Namun, pendekatan Spanyol mulai mendapat dukungan di Eropa. Menteri Pertahanan Italia Guido Crosetto juga menyatakan negaranya tidak mendukung perang tersebut. Sementara Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menegaskan Inggris tidak ingin "terseret" ke dalam konflik Timur Tengah.

Perdebatan Politik di Dalam Negeri

Di dalam negeri Spanyol, slogan "No a la guerra" atau "Tidak untuk perang" memiliki makna yang lebih luas. Menurut Simon, slogan ini tidak hanya mencerminkan sikap damai, tetapi juga penolakan terhadap keputusan pemerintah yang bertentangan dengan mayoritas rakyat dan dianggap melanggar hukum internasional.

Berdasarkan survei terbaru, lebih dari dua pertiga warga Spanyol menolak intervensi militer AS dan Israel di Iran. Penolakan ini lebih kuat di kalangan pemilih kiri, sementara di kubu kanan terjadi perpecahan.

Pemimpin oposisi dari PP, Alberto Nunez Feijoo, awalnya mendukung serangan tersebut, namun kemudian melunak dan menyerukan penahanan diri serta kembali ke jalur diplomasi.

Sanchez memanfaatkan situasi ini untuk memperkuat posisinya secara politik. Dalam pidatonya di parlemen, ia menuduh oposisi ikut bertanggung jawab atas konflik.

"PP dan Vox telah berkontribusi melalui dukungan dan diamnya mereka terhadap bencana perang Iran ini," bebernya. "Diam terhadap perang ilegal bukanlah sikap bijak, melainkan tindakan pengecut."

Feijoo membalas dengan menuduh Sanchez menggunakan isu perang untuk menutupi kegagalan pemerintahannya.

Dampak Ekonomi dan Elektoral

Pemerintahan Sanchez saat ini merupakan koalisi minoritas yang menghadapi tekanan domestik, termasuk kebuntuan parlemen dan investigasi korupsi. Sebelum perang Iran, partainya juga mengalami penurunan suara dalam pemilu regional di Aragon.

Namun, kebijakan luar negeri—terutama terkait konflik Iran—memberikan ruang bernapas bagi pemerintah.

Meski demikian, dampak ekonomi dari perang bisa menjadi faktor penentu. Spanyol masih bergantung pada impor energi sekitar 70 persen, sementara sektor pariwisata menyumbang sekitar 13 persen dari PDB.

Harga bahan bakar telah naik sekitar 10 persen dan industri pariwisata mulai merasakan dampaknya. Agen perjalanan di Almeria melaporkan adanya pembatalan perjalanan dan penurunan minat wisatawan.

Di sisi lain, beberapa analis memperkirakan Spanyol justru bisa diuntungkan karena dianggap lebih aman dibanding destinasi seperti Dubai, Mesir, atau Turki.

Spanyol dijadwalkan menggelar pemilu tahun depan. Meski sikap Sanchez terhadap Iran mendapat dukungan dari sebagian pemilih, belum dapat dipastikan apakah hal ini akan berdampak signifikan pada hasil pemilu.

Sebelumnya, pengakuan Spanyol terhadap Negara Palestina pada 2024 hanya meningkatkan dukungan elektoral secara terbatas.

Namun demikian, jika kondisi ekonomi memburuk akibat perang, hal itu berpotensi merugikan pemerintah.

Terlepas dari hasil politik ke depan, sikap Sanchez terhadap konflik Iran dinilai akan dikenang sebagai langkah yang mengikuti opini publik dan prinsip hukum internasional, bukan tekanan dari sekutu global.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya