Liputan6.com, Jakarta - Hari Kesadaran Autisme Sedunia jatuh setiap 2 April. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), ini adalah momen untuk mengakui martabat dan nilai semua penyandang autisme. Serta mengadvokasi kebijakan yang mempromosikan lingkungan inklusif di bidang kesehatan, pendidikan, tempat kerja, olahraga, dan sektor lainnya.
“Secara global, 1 dari 127 orang didiagnosis menyandang autisme,” mengutip laman WHO, Rabu (1/4/2026).
Advertisement
Autisme adalah suatu kondisi perkembangan saraf seumur hidup yang memengaruhi interaksi sosial, komunikasi, dan perilaku. Autisme termasuk dalam 10 kondisi kesehatan otak teratas yang berkontribusi terhadap penurunan kesehatan secara global.
Terlepas dari konvensi hak asasi manusia internasional, individu autis masih menghadapi stigma, diskriminasi, dan hambatan untuk berpartisipasi. Akses terhadap layanan kesehatan dan dukungan yang tepat waktu serta berkualitas tetap terbatas. Ini mendorong ketidaksetaraan di sepanjang siklus hidup.
Mengatasi tantangan ini membutuhkan tindakan berkelanjutan dan investasi yang lebih besar dalam kebijakan dan layanan inklusif yang menjunjung tinggi hak-hak orang autis.
Bukti menunjukkan bahwa identifikasi dini, pendidikan inklusif, dan perawatan yang penuh perhatian dalam keluarga dan komunitas dapat secara signifikan meningkatkan kesehatan, kesejahteraan, dan partisipasi.
Dalam peringatan Hari Kesadaran Autisme Sedunia 2026, WHO berfokus pada peningkatan komitmen pemerintah untuk:
- Meningkatkan kualitas hidup bagi penyandang autisme dan memperkuat pengambilan keputusan berdasarkan data
- Memberikan panduan tentang kebijakan inklusif dan rencana aksi dalam kerangka kerja kesehatan, kesehatan mental, kesehatan otak, dan disabilitas yang lebih luas
- Memperkuat layanan berbasis komunitas.
WHO juga mempromosikan lingkungan inklusif dan memberikan dukungan bagi penyandang autisme dan pengasuh mereka.
Tema Peringatan Hari Kesadaran Autisme Sedunia 2026
Peringatan Hari Kesadaran Autisme Sedunia 2026 mengusung tema “Autisme dan Kemanusiaan – Setiap Kehidupan Bernilai,” atau “Autism and Humanity – Every Life Has Value.”
“Tema ini menyoroti dan menegaskan martabat dan nilai semua orang autis sebagai bagian dari masa depan kemanusiaan kita bersama,” mengutip laman resmi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB/UN).
Berlandaskan prinsip-prinsip hak asasi manusia dan selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan PBB (SDGs), visi ini melihat inklusi neurodiversitas sebagai hal yang penting untuk pembangunan berkelanjutan. Ketika masyarakat merangkul neurodiversitas, mereka memperkuat kreativitas, ketahanan, dan inovasi, meletakkan dasar bagi komunitas yang lebih adil, inklusif, dan berkelanjutan. Neurodiversitas adalah perbedaan cara kerja otak manusia termasuk perbedaan kemampuan bersosialisasi.
Tahun ini, PBB berupaya mengeksplorasi peran neurodiversitas dalam membentuk kebijakan yang memajukan kesehatan dan kesejahteraan, pendidikan berkualitas, kesetaraan gender, kesempatan ekonomi, pengurangan kesenjangan, komunitas berkelanjutan, dan lembaga yang kuat.
Dengan menegaskan bahwa kehidupan autis merupakan bagian integral dari kemajuan kolektif dan pencapaian SDGs, peringatan ini menyerukan masa depan di mana perbedaan dihormati, martabat dilindungi, dan setiap orang autis dapat berkembang.
Sejarah Hari Kesadaran Autisme Sedunia
Hari Kesadaran Autisme Sedunia ditetapkan oleh Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 2 April 2007.
Sejak saat itu, PBB berupaya untuk mempromosikan terwujudnya hak asasi manusia dan kebebasan mendasar bagi individu autis, memastikan partisipasi mereka yang setara dalam masyarakat. Selama bertahun-tahun, kemajuan signifikan telah dicapai, sebagian besar didorong oleh para advokat autis yang telah bekerja tanpa lelah untuk membawa pengalaman hidup individu autis ke garis depan diskusi global.
Resolusi Majelis Umum tahun 2007 (A/RES/62/139) menyoroti perlunya meningkatkan kesadaran publik tentang autisme. Saat ini, gerakan global telah meluas dan secara aktif mempromosikan penerimaan, penghargaan, inklusi, serta mengakui kontribusi yang diberikan oleh orang-orang autis kepada komunitas mereka dan dunia pada umumnya.