Liputan6.com, Jakarta - Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi masih berpeluang lesu pada perdagangan saham Rabu, (1/4/2026). IHSG hari ini masih rawan koreksi di kisaran 6.745-6.849. Lalu bagaimana strategi rekomendasi saham-nya?
IHSG melanjutkan koreksi 0,61% ke 7.048 dan disertai dengan munculnya tekanan jual, pergerakannya pun masih berada di fase downtrennya.
Advertisement
Analis PT MNC Sekuritas, Herditya Wicaksono menuturkan, posisi IHSG saat ini masih berada pada bagian dari wave (v) dari wave [c] dari wave A pada label hitam sehingga IHSG masih rawan terkoreksi ke area 6.745-6.849.
“Best case IHSG sudah menyelesaikan wave A pada label biru, sehingga akan melanjutkan penguatan ke 7.450-7.675,” ujar Herditya dalam catatannya.
Ia menuturkan, IHSG akan berada di level support 7.022,6.917 dan level resistance 7.302,7.434 pada perdagangan Rabu pekan ini.
Dalam riset PT Pilarmas Investindo Sekuritas menyebutkan, IHSG berpotensi menguat dengan level support dan level resistance 7.000-7.240.
Rekomendasi Saham
Untuk rekomendasi saham hari ini, PT Pilarmas Investindo Sekuritas memilih saham PT Barito Pacific Tbk (BRPT), PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA), dan PT XL Axiata Tbk (EXCL).
Sedangkan Herditya memilih saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Harum Energy Tbk (HRUM), PT Jafpa Comfeed Tbk (JPFA), dan PT Timah Tbk (TINS).
Rekomendasi Teknikal
Berikut rekomendasi teknikal dari MNC Sekuritas:
1.PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) - Buy on Weakness
Saham BBCA menguat ke 6.450 dan masih didominasi oleh volume pembelian, pergerakan BBCA masih berada di fase downtrendnya. “Kami memperkirakan, posisi BBCA sedang berada pada bagian dari wave (c) dari wave [y],” ujar Herditya.
Buy on Weakness: 6.100-6.350
Target Price: 6.800, 7.225
Stoploss: below 5.975
2.PT Harum Energy Tbk (HRUM) - Buy on Weakness
Saham HRUM terkoreksi 5,12% ke 1.020 dan disertai dengan munculnya tekanan jual, tetapi koreksinya tertahan MA200. Herditya menuturkan, saat ini, posisi HRUM diperkirakan berada pada bagian dari wave [d] dari wave Y pada pola triangle.
Buy on Weakness: 990-1.010
Target Price: 1.125, 1.205
Stoploss: below 960
Rekomendasi Teknikal Lainnya
3.PT Jafpa Comfeed Tbk (JPFA) - Spec Buy
Saham JPFA terkoreksi 3,69% ke 2.350 dan masih didominasi oleh tekanan jual, namun koreksinya masih tertahan oleh moving average (MA)20 harian. “Kami memperkirakan, posisi JPFA saat ini berada pada bagian dari wave [ii] dari wave 1 dari wave (5),” kata dia.
Spec Buy: 2.280-2.320
Target Price: 2.500, 2.650
Stoploss: below 2.220
4.PT Timah Tbk (TINS) - Buy on Weakness
Saham TINS menguat 7,05% ke 3.340 dan masih didominasi oleh volume pembelian yang cenderung meningkat. Herditya menuturkan, pihaknya memperkirakan, posisi TINS saat ini berada pada bagian awal dari wave A dari wave (B).
Buy on Weakness: 3.210-3.310
Target Price: 3.440, 3.690
Stoploss: below 3.100
Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual saham. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.
Penutupan IHSG pada 31 Maret 2026
Sebelumnya, laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak di zona merah pada sesi kedua perdagangan saham, Selasa (31/3/2026). IHSG hari ini ditutup melemah di tengah transaksi harian saham di bawah Rp 20 triliun dan sektor saham transportasi memimpin koreksi.
Mengutip data RTI, IHSG hari ini ditutup merosot 0,61% ke posisi 7.048,22. Indeks saham LQ45 turun 0,23% ke posisi 715,80. Sebagian besar indeks saham acuan melemah.
Pada perdagangan Selasa pekan ini, IHSG berada di level tertinggi 7.155,54 dan level terendah 7.031,10. Sebanyak 406 saham melemah sehingga bebani IHSG. 262 saham menguat dan 151 saham diam di tempat. Total frekuensi perdagangan saham 1.748.020 kali dengan volume perdagangan saham 27,3 miliar saham. Nilai transaksi harian saham Rp 15 triliun. Posisi dolar Amerika Serikat terhadap rupiah di kisaran 17.019.
Pengamat pasar modal Reydi Octa menuturkan, IHSG bergerak dalam tekanan kombinasi sentimen global dan domestik. Dari mancanegara, ia menuturkan, masih dipengaruhi oleh keberlangsungan tensi geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dengan Iran serta pergerakan harga energi, utamanya kenaikan harga minyak mentah, demikian dikutip dari Antara.
Sektor Saham
Sementara dari dalam negeri, Reydi menuturkan, lebih ke arah kekhawatiran kenaikan inflasi dan pergerakan nilai tukar (kurs) Rupiah.
"Investor cenderung defensif, terlihat dari rotasi ke saham energi dan komoditas serta mulai selektif di big caps,” kata Reydi dikutip dari Antara.
Mayoritas sektor saham melemah. Sektor saham transportasi turun 4,6% dan catat penurunan terbesar. Sektor saham energi terpangkas 2,75%, sektor saham industri tergelincir 1,20%, sektor saham consumer siklikal turun 0,45%, sektor saham, sektor saham keuangan turun 0,53%, sektor saham teknologi susut 1,31%, sektor saham infrastruktur merosot 0,46%.
Di sisi lain, sektor saham basic naik 0,43%, sektor saham consumer nonsiklikal bertambah 1,48%, sektor saham kesehatan naik 0,62% dan sektor saham properti bertambah 0,49%